Semangat Lagi Yuk!
"Seminggu ini lagi turun nih kak semangat latiannya. Ga kayak sebelum-sebelumnya. Seminggu ini tiap latihan cuma sebentar banget langsung udahan," cerita salah satu orang tua murid beberapa hari yang lalu. Rupanya seminggu terakhir semangat si anak sedang menurun. Padahal dalam beberapa minggu ke depan ada agenda internal performance di tempat lesnya.
Saya ingin membantu orang tua murid saya itu dengan membagikan pengalaman pribadi saya. Saya sendiri sering sekali mengalami hal itu. Jangankan berlatih, terkadang megang piano aja males. Tapi ada agenda pribadi yang harus dipenuhi, yaitu keinginan untuk menguasai suatu lagu. Sehingga saya harus sesegera mungkin mencari cara untuk mengembalikan semangat berlatih.
(Omong-omong, saya ngerasa ga PD untuk nulis ini sebetulnya. Siapa elu, Nug? Pianis level kompleks aja kagak, sok-sok-an ngasih tips. Huff, iya sih ada perasaan kayak gitu. Tapi toh maksudnya kan baik, hehe.. Ya dicoba aja deh. Semoga bisa bermanfaat!)
Sebenarnya hal yang paling penting bagi saya adalah mencintai apa yang saya kerjakan, dalam hal ini bermusik. Kalau sudah mencintai, semangat untuk berlatih atau menguasai suatu lagu pun bisa menjadi tinggi. Meskipun begitu, terkadang kecintaan akan musik itu terbentur dengan satu hal jahat (yang kalau sudah terjadi dalam hidup, bisa membuat hidup saya menjadi abu-abu) yaitu rutinitas.
Apabila saya sudah termakan rutinitas di dalam berlatih musik, saya akan merasa bingung apakah saya suka musik atau tidak. Karena semua berjalan seakan-akan baik-baik saja tapi tidak ada perasaan yang menggelora atau menggelegar (ini bukan alay ya, emang beneran kalo main musik pake perasaan yang menggelegar itu lebih nyosss!)
Berikut adalah cara-cara yang biasanya saya terapkan ke diri sendiri saat harus mengembalikan semangat berlatih (urutan dibuat berdasarkan besarnya dampak positif ke saya pribadi) :
1. Menyaksikan orang lain berlatih
Saya sungguh beruntung bahwa saya beberapa kali bisa menyaksikan atau mendengar secara langsung beberapa musikus hebat berlatih. Saat mendengar mereka berlatih, hanya satu hal yang bisa saya simpulkan : 'wah ya pantes aja jago, wong latiannya kayak gitu!'
Ada satu perbedaan yang sangat besar antara poin nomor satu dan dua. Di poin nomor satu tadi, saya menyaksikan HASIL. Sedangkan di poin nomor dua saya menyaksikan PROSES. Dua hal yang merupakan tahapan. Dengan melihat 'proses', saya menjadi bisa lebih menghargai proses dan berusaha menikmatinya. Saya jadi yakin bahwa seniman jenius sekalipun harus melalui proses latihan yang panjang dan melelahkan. Tidak percaya? Coba baca ini! Joey Alexander Ia Adalah Pianis Hebat. Titik.
Sumpah cara ini efektif banget buat naikin semangat latihan!

2. Menonton pertunjukan performing art (terutama live ya, bukan rekaman di gawai)
1. Menyaksikan orang lain berlatih
Saya sungguh beruntung bahwa saya beberapa kali bisa menyaksikan atau mendengar secara langsung beberapa musikus hebat berlatih. Saat mendengar mereka berlatih, hanya satu hal yang bisa saya simpulkan : 'wah ya pantes aja jago, wong latiannya kayak gitu!'
Ada satu perbedaan yang sangat besar antara poin nomor satu dan dua. Di poin nomor satu tadi, saya menyaksikan HASIL. Sedangkan di poin nomor dua saya menyaksikan PROSES. Dua hal yang merupakan tahapan. Dengan melihat 'proses', saya menjadi bisa lebih menghargai proses dan berusaha menikmatinya. Saya jadi yakin bahwa seniman jenius sekalipun harus melalui proses latihan yang panjang dan melelahkan. Tidak percaya? Coba baca ini! Joey Alexander Ia Adalah Pianis Hebat. Titik.
Sumpah cara ini efektif banget buat naikin semangat latihan!

2. Menonton pertunjukan performing art (terutama live ya, bukan rekaman di gawai)
Kalau saya menonton pertunjukan seperti musik, tari, atau drama, saya mendapat kesempatan untuk berolah rasa. Entah senang, sedih, takut, kecewa, apapun. Pengolahan perasaan itu biasanya bercampur penasaran dengan bertanya : 'berapa lama ya mereka berlatih?', 'bagaimana ya cara mereka berlatih hingga bisa kompak dan indah seperti itu?' dan berbagai pertanyaan lainnya. Asumsi yang saya gunakan saat menulis poin nomor satu ini adalah bahwa penampilan tersebut memiliki kualitas apik.
Saya sering sekali merasa sirik (tapi konotasinya positif yaa..) pada seniman yang bisa menguasai panggung dengan kharismanya. Jadi waktu saya nonton pertunjukan, saya selalu pulang dalam keadaan bersemangat ingin segera berlatih supaya saya juga bisa naik panggung, hahaha! Dijamin ini efektif banget! =)
3. Mencoba berlatih dengan cara baru (lokasi, cara pengulangan, atau cakupan materi)
Nah, kalo poin nomor tiga ini sudah masuk ke hal teknis yaa.. Terkadang saya mencoba beberapa cara baru seperti : berlatih di tempat lain ; berlatih dengan cara baru berdasarkan hasil observasi cara latihan musikus jempolan ; dan memperkecil atau memperbesar cakupan materi yang dilatih.
Saya sungguh beruntung bahwa saya sering berpindah-pindah tempat setiap hari. Lokasi saya mengajar setiap hari berbeda. Sehingga di sela mengajar, saya bisa curi waktu berlatih di piano dan ruangan yang berbeda. Apabila bertemu dengan kondisi yang pas, cara itu terkadang cukup efektif membuat saya ingin berlatih.
Saat sedang melatih apapun, pengulangan adalah hal yang sangat penting. Saya kerap mencoba mengubah cara melakukan pengulangan dengan mengubah jumlah pengulangan, tempo, atau dinamika. Sesekali saya melakukan pengulangan hanya beberapa kali lalu saya ubah menjadi lebih banyak. Sesekali saya melakukan pengulangan dengan tempo cepat, lalu saya ubah menjadi lambat atau sedang. Demikian juga dengan dinamika, terkadang keras, sedang, atau lembut. Perubahan-perubahan tersebut memberikan kesegaran pada musik yang saya mainkan.
Selain itu, saya juga sering mengubah cakupan materi. Terkadang saya berlatih hanya mengulang satu atau dua bar. Terkadang satu atau dua baris saja. Lalu saya ubah menjadi pengulangan per halaman. Saya ubah lagi menjadi pengulangan satu lagu penuh. Dalam hal ini, saya mensyaratkan diri not sudah harus cukup lancar sebelum masuk ke pengulangan satu lagu penuh. Poin nomor tiga ini memang sangat teknis, tapi ini lumayan efektif kok, beneran!
4. Membaca kisah perjuangan orang-orang hebat (termasuk komposer lagu yang sedang saya mainkan)
Saat membaca kisah perjuangan orang hebat, baik yang masih hidup atau pernah hidup, saya berusaha mencari value pribadi orang itu dalam berkarya. Contoh seperti Michael Jackson yang pernah bilang, "Kita harus bekerja keras. Sangat keras. Bukan untuk mendapatkan uang, tapi untuk membuat dunia menjadi lebih baik." Saya sudah lupa pernah membaca tulisan tersebut di mana, tapi berikut adalah link YouTube yang menggambarkan beberapa value pribadi Michael Jackson dalam berkarya Michael Jackson's Top 10 Rules For Success.
Selain itu, saya juga beruntung bahwa ayah saya suka sekali musik. Alhasil, saya sering membahasnya dengan beliau. Poin soal 'membahas musik klasik bersama orang terdekat' ternyata tidak hanya dirasakan oleh saya, namun juga oleh teman saya Julie Putra yang bilang bahwa diskusi musik klasik antara orang tua murid dengan anak adalah sangat penting (berikut link menuju tulisan Julie : Belajar Musik Klasik?)
Sekian sharing yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat dan selamat berlatih!


Comments
Post a Comment