Posts

Mitch dan Janine, Ayah Ibu Semua Anak

Image
A Little Girl, An Earthquake Hidup bekerja sangat misterius. Akal sehat manusia sering sulit memahami kehidupan dengan tuntas. Apalagi sampai tahap menerima dengan hati tenang dan ikhlas. Kita melihat perang yang menelan banyak korban, bencana alam, kecelakaan, sampai sakit keras. Hati hancur melihat anak kecil tidur di rumah sakit. "Kenapa anak ini harus sakit?" Manusia marah pada kehidupan.    Diagnosa anak sakit keras dengan estimasi usia hidup singkat jelas membuat orang tua patah hati. Mitch marah. Marah sekali. Namun, Mitch tidak berhenti bergerak. Ia sadar peran manusia cuma berusaha. Chika sembuh, itu yang selalu ada di benaknya. Mitch mengangkat telepon dan menghubungi semua orang. Membaca ribuan informasi di internet. Ia terbang ke berbagai negara. " She fights, we fight !" kata Mitch.          Mitch Albom, seorang wartawan olah raga, penyiar radio, dan penulis buku asal Amerika Serikat, menjalani hidup dengan ambisi besar membangun karir. Hi...

Mata Besar dan Cantik Zeela

"Mana Zeela?" tanya saya saat memasuki teras rumah. "Tidur. Baru aja," kata Eyang Kakung. Saat itu pukul satu siang. Saya dan Kiky, istri saya, baru sampai di rumah Solo. Matahari terik menyambut kami. Kakung menyodorkan segelas air mineral dingin. Saya duduk di lantai. Punggung bersandar dinding. Segera saya sadari dinding di semua sudut rumah penuh coretan. Ada garis lurus pendek, panjang, dan lebih banyak bentuk lingkaran. Ada warna hitam, merah, hijau, juga lainnya. Pasti coretan Zeela, saya membatin. Kemudian saya lihat gambar sosok tiga orang. Tinggi badannya berbeda. Mereka tersenyum sambil berdiri dempetan. Seperti mau foto bersama. "Itu katanya Papa, Zeela, sama Mama," terang Kakung. Ceklek. Pintu kamar dibuka. Pelan Zeela melangkah keluar. "Halooooo, Zeelaaaa...!" seru Kiky. Zeela memandang kami berdua. Diam di bibir pintu kamar. Zeela tersenyum. Matanya besar dan jernih. Seakan selalu kagum dan penuh rasa ingin tahu. Hitam legam rambut...

"Lihat Apa di Sana?"

Aku ingin sekali bertanya, apa yang sedang Ayumi kerjakan? Aku ingin melihat coretan yang dia buat di buku kecil itu. Tulisankah? Sketsa? Tulisan macam apa? Cerita? Ah, waktunya terlalu singkat. Aku yakin bukan. Observasi  benda-benda sekitar? Bisa jadi. Atau s ketsa? Aku rasa tidak. Mata Ayumi bergerak ke beberapa titik. Sepertinya mustahil membuat sketsa beberapa benda sekaligus dalam waktu sesingkat itu.  Pertanyaanku, kenapa? Kenapa Ayumi memutuskan untuk mencoretkan pensil ke buku kecil, entah apa itu, saat baru saja sampai dan duduk sambil menunggu pesanan makanan di kursi restoran Wing Lok Antasari ini? Mata Ayumi mengarah ke sudut kiri. Ia menatap sesuatu di meja makan kayu panjang di hadapan kami. Matanya bergerak-gerak. Sebentar ke satu titik, sebelahnya, lalu sebelahnya lagi. Ia sedang mencari sesuatu yang menarik.  Mata Ayumi menatap satu titik. Tidak lagi bergerak. Tidak lagi mencari-cari. Ia sudah menemukan sesuatu yang ia cari. Entah apa yang dia lihat. Ada...

Ulang Tahun

hari ini Banu berulang tahun. pukul empat pagi dia sudah bangun. Banu duduk di teras rumah kecilnya. langit masih gelap. udara sedikit dingin. suasana komplek perumahan Banu masih hening, belum ada aktivitas warga sama sekali. semua orang masih istirahat.  kepala Banu langsung kencang memikirkan pekerjaan. Banu memang cukup sibuk. dia beraktivitas dari pagi sampai malam. biasanya, Banu akan membereskan rumah di pagi hari. lalu pergi bekerja sampai malam. tak jarang Banu harus meneruskan pekerjaan di rumah malam hari.  cukup lama Banu memikirkan pekerjaan mana yang akan dia kerjakan duluan. Banu kebingungan. terlalu banyak pekerjaan yang ingin dia lakukan. Banu tidak mau melewatkan hari ulang tahunnya sekadar untuk bekerja seperti biasa.  akhirnya Banu memutuskan untuk melakukan hal yang tidak biasa. ia akan menghabiskan waktu satu jam untuk tidak melakukan apa-apa. "aku akan menyediakan waktu untuk menyapa diriku sendiri. ya, itu dia!" usai mandi, Banu duduk diam di meja ...

Dulu Sekarang

Image
Dulu... Saya rajin menulis. Saya ketik di laptop dan bagikan lewat blog pribadi. Bahagia rasanya melakukan aktivitas menulis. Sadar dan hadir penuh di dalam momen menulis itu. Tidak berpikir tentang kemarin. Tidak mencemaskan besok. Tidak memusingkan apa tanggapan orang lain atas tulisan saya. Bebas. Bebas merasakan emosi yang muncul dari tiap kata. Tak jarang saya membuat lebih dari satu tulisan dalam sehari. Dulu saya senang mencoba hal baru. 'Ah, iseng ahh! Coba bikin tulisan yang isinya percakapan semua,' batin saya saat menunggu sepeda motor diservis di bengkel. Saya mengambil ponsel warna hitam dari tas selempang dan mulai menulis. Satu setengah jam berlalu dan saya membuat satu tulisan fiksi bertempat di tepi danau tentang percakapan sepasang kekasih yang tak lama lagi harus menjalani hubungan jarak jauh. Isinya benar-benar cuma kalimat langsung, yaitu kalimat yang diucapkan oleh tokoh cerita. Tantangannya adalah menitipkan keterangan - seperti keterangan waktu, lokasi, ...

Saat Pintu Panggung Mulai Terbuka

Image
pintu menuju panggung terbuka. aku melongok belakang. memberi tanda pada teman-teman choir  Sekolah Cikal Serpong untuk bersiap. mata mereka kaget dan tegang. sebagian memandangi layar yang terpasang di dinding sambil meringis. panggung megah dan penonton membanjir membuat mereka cemas. belum lagi kehadiran dewan juri yang duduk di bangku paling depan.  kulempar senyum pada mereka. 'ayo kita nikmati momen ini, guys !' bisikku dalam hati. mereka paham. dan ikut tersenyum. "silakan, Kak!" panitia penjaga pintu mempersilakanku melangkah masuk. "semangat, semangat!" kata rekan guru, Pak Roby, sambil tersenyum dan mengepalkan tangannya.  baiklah, teman-teman. ayo kita mulai!      aku dan teman-teman choir melangkah masuk ke panggung Penabur International Choir Festival 2024 di Penabur International School Kelapa Gading, Selasa 10 September siang itu. lantai kayu cokelat bersih mengkilap menyambut kami. oh sudah jelas kami tidak mau terburu-buru. pelan-pelan saj...

Menengok Belakang

pagi ini aku mencoba sejenak berhenti. menarik diri dari kencangnya aktivitas. memejamkan mata, menarik nafas panjang, dan bertanya dalam hati,"untuk apa aku ada?" pertanyaan sederhana yang sungguh tidak sederhana jawabannya. pertanyaan sederhana yang seringkali terlupa untuk selalu ditanyakan. pertanyaan sederhana yang menjadi usahaku untuk menjawab banyak kegelisahan. sebelum melangkah ke sana, aku coba jawab dulu pertanyaan berikut ini. "kenapa eksistensi perlu dipertanyakan? bukankah itu hanya perlu untuk dijalankan sebaik mungkin? jangan-jangan, mempertanyakan manfaat keberadaan diri hanya merupakan ekspresi kekecewaan akan hidup?" bagiku, mempertanyakan manfaat keberadaan diri adalah cara untuk mengembalikan jalan hidup ke alur yang sebenarnya, jalan yang sejati. kita menyingkirkan nilai-nilai yang mungkin tanpa disadari tidak penting namun menduduki prioritas tinggi dalam hidup. mencoba merasakan, jangan-jangan kita tenggelam pada nilai-nilai yang sengaja dit...