Mata Besar dan Cantik Zeela
"Mana Zeela?" tanya saya saat memasuki teras rumah. "Tidur. Baru aja," kata Eyang Kakung. Saat itu pukul satu siang. Saya dan Kiky, istri saya, baru sampai di rumah Solo. Matahari terik menyambut kami. Kakung menyodorkan segelas air mineral dingin.
Saya duduk di lantai. Punggung bersandar dinding. Segera saya sadari dinding di semua sudut rumah penuh coretan. Ada garis lurus pendek, panjang, dan lebih banyak bentuk lingkaran. Ada warna hitam, merah, hijau, juga lainnya. Pasti coretan Zeela, saya membatin. Kemudian saya lihat gambar sosok tiga orang. Tinggi badannya berbeda. Mereka tersenyum sambil berdiri dempetan. Seperti mau foto bersama. "Itu katanya Papa, Zeela, sama Mama," terang Kakung.
Ceklek. Pintu kamar dibuka. Pelan Zeela melangkah keluar. "Halooooo, Zeelaaaa...!" seru Kiky. Zeela memandang kami berdua. Diam di bibir pintu kamar. Zeela tersenyum. Matanya besar dan jernih. Seakan selalu kagum dan penuh rasa ingin tahu. Hitam legam rambutnya. Panjang seleher. Zeela berjalan mendekat lalu menarik tangan saya dan Kiky. "Ayo main!" ajaknya.
"Ini namanya MoMo. Kalau ini Empus. Kalo ini MoMo juga," Zeela mengambil satu per satu boneka dari tumpukan. "Kalo Sapi mana?" tanya Kiky. Setahun lalu, Zeela senang main bersama Si Sapi. Mainan karet berbentuk sapi warna hijau untuk ditunggangi anak-anak. Bisa sedikit memantul bila ditekan ke bawah. "Sapi di situ," jarinya menunjuk ke seberang ruangan. Si Sapi parkir di pojok. Sudah tak laku rupanya.
Suatu siang, Zeela melihat Mama sibuk menyetrika. Zeela mendekat. Entah hendak membantu atau sekadar penasaran. "Mana setrikaan Zeela? Coba diambil," kata Mama. Zeela masuk ke dalam kamar lalu berlari keluar membawa setrika mainan kecil berwarna ungu dari bahan plastik. Lengkap dengan alas setrika warna oranye.
"Om Inug, ayo main,"
"Ini bukan setrikaan,"
"Ini setrika, Om Inug,"
"Ini handphone. Halo?"
"Hahahaha.. Bukaaaann.. Ini bukan handphone,"
"Ooh, ini untuk nulis. Nih, nulis di kertas kaya gini,"
"Bukaaannn.. Ini bukan bolpen,"
"Ini untuk mandi. Byur, byur, gitu,"
"Ini bukan gayuuuung!"
"Hmm, ini untuk ngulek sambel. Gini nih.. Tuh, begitu,"
"Ini bukan untuk ngulek sambeeeelll!!!"
"Oh, aku tau, aku tau. Ini mobil. Ngeng ngeeeeenggg,"
"Ini bukan mobiiiiiiiilll!!!!"
"Salah lagi.. Ini kuda! Lihat nih, pretok pretok, hiyeeee..."
"Ini bukan kudaaaaaa!!!!!"
Zeela menikmati bermain setrika bukan sebagai setrika. Kadang jadi kuda. Berlari, melompat melewati rintangan, lalu jatuh kelelahan. Kadang jadi mobil. Kencang maju mundur sesuka hati. Belok tajam melewati bukit (tumbr putih milik Kiky berperan jadi bukit) lalu terguling karena terlalu tajam beloknya. Kesukaan Zeela adalah mengangkat setrika mainan itu dan menempelkannya ke telinga. Main telepon-teleponan.
"Halo, Zeela ada?"
"Ada,"
"Zeela udah mandi?"
"Udah.. Om Inug udah mandi belum?"
"Belum,"
"Kenapa belum?"
"Zeela udah makan?" saya tidak menjawab pertanyaan.
"Udah. Makan ayam," diikuti suara Mama di ujung ruangan,"Padahal belum tuh.."
"Zeela makan yang banyak ya, okiiii?"
"Oki!"
Saya dan Zeela sepakat untuk mengganti 'oke' menjadi 'oki'. Kita juga punya kesepakatan lain. Tentang cara memanggil Kiky.
"Tante Kiky itu sebetulnya namanya 'Tante Tutun', bukan 'Tante Kiky'," kata saya.
"Tapi kalo Zeela manggilnya 'TAN-TE KI-KY',"
"Kalo Om Inug manggilnya apa?"
"Tante Tutun.. Kan beda-beda gapapa,"
Setelah hampir seminggu menginap, saya dan Kiky bersiap pulang. "Besok pagi Om Inug pulang ya, okiiii?" kata saya. "Okiiii!" jawab Zeela. Saat mengemas barang, Zeela datang mendekat. "Ini apa, Tante Kiky?" Zeela penasaran melihat alat dandan Kiky.
Belum sempat dijawab, Zeela lihat barang lain. "Kalo ini apa?" tanyanya sambil menggenggam kunci mobil. "Kalo ini?" sekarang buku novel. "Ini buku siapa? Anak kecilnya kenapa ini?" tanya Zeela sambil menunjuk halaman depan buku bergambar anak kecil melompat sambil berpengangan tangan dengan kedua orang tuanya.
"Om Inug mau ke mana?
Ke mobil ya?
Aku ikut bantuin ya," kata Zeela sambil mengenakan sandal di teras rumah.
"Itu sepatu Tante Kiky ya?"
"Kenapa ada di situ?"
"Sepatunya warna apa?"
"Coba liat!"
"Itu kardus ya?"
"Kenapa ada di situ?"
"Itu isinya apa?"
"Besok Om Inug pulang Jakarta, Zeela dimasukin kardus bawa ke Jakarta ya?" kata saya.
"Emoh!" jawab Zeela tegas.
Saya berlari mau menangkapnya.
Zeela lari kencang. Kabur masuk kamar.
Pintu ditutup. Saya sembunyi. Sunyi.
Tak lama Zeela mengintip. Ia mengendap keluar.
"BHAAAAAAAA!!!!!!!!" saya kejar dia lagi.
Zeela kabur.
Masuk kamar lagi.
Comments
Post a Comment