Ulang Tahun

hari ini Banu berulang tahun. pukul empat pagi dia sudah bangun. Banu duduk di teras rumah kecilnya. langit masih gelap. udara sedikit dingin. suasana komplek perumahan Banu masih hening, belum ada aktivitas warga sama sekali. semua orang masih istirahat. 

kepala Banu langsung kencang memikirkan pekerjaan. Banu memang cukup sibuk. dia beraktivitas dari pagi sampai malam. biasanya, Banu akan membereskan rumah di pagi hari. lalu pergi bekerja sampai malam. tak jarang Banu harus meneruskan pekerjaan di rumah malam hari. 

cukup lama Banu memikirkan pekerjaan mana yang akan dia kerjakan duluan. Banu kebingungan. terlalu banyak pekerjaan yang ingin dia lakukan. Banu tidak mau melewatkan hari ulang tahunnya sekadar untuk bekerja seperti biasa. 

akhirnya Banu memutuskan untuk melakukan hal yang tidak biasa. ia akan menghabiskan waktu satu jam untuk tidak melakukan apa-apa. "aku akan menyediakan waktu untuk menyapa diriku sendiri. ya, itu dia!"

usai mandi, Banu duduk diam di meja makan. laptop dan handphone ia singkirkan. 

"halo, selamat ulang tahun! apa kabar, aku?" lembut Banu menyapa dirinya sendiri. ia mencoba rileks. duduk bersender di kursi kayu. Banu mengatur napas pelan. ia coba rasakan setiap bagian tubuh. perlahan, pikiran Banu meneduh. gambar demi gambar yang semula bergerak kencang, mulai melambat. Banu merasa nyaman. 

belakangan ini, Banu sering bertanya satu hal pada dirinya sendiri. namun, dia tidak sempat benar-benar merasakan dan memikirkannya. pagi itu, Banu kembali bertanya demikian,

"apakah hidupku bermanfaat?"

Banu melipat tangannya. menghela napas panjang. Banu tidak yakin, ragu, tidak pasti. apa tujuan hidupnya? untuk apa Banu dilahirkan? mengapa Banu ada di dunia ini, di dalam keluarga ini, dan bekerja di tempatnya bekerja? 

Banu sedikit terbawa perasaan. ia sedih dan frustrasi. Banu merasa hidupnya sia-sia. ia tidak bermanfaat untuk orang banyak. Banu merasa tidak pernah melakukan suatu hal hebat yang berdampak untuk orang banyak. 

Banu tidak pernah merasa cukup. ia selalu merasa dirinya kurang. kurang pintar, kurang kaya, kurang cepat, kurang banyak melakukan kebaikan. Banu melihat orang lain selalu bisa berbuat lebih baik. Banu selalu ketinggalan.   

mata Banu terpejam. ia membayangkan mengetuk sebuah pintu hitam besar. tiga kali. tok tok tok! pintu terbuka. Pakde yang membukanya. dia tersenyum hangat sekali menyambut Banu.


Pakde, yang sudah lama berpulang, pernah berpesan pada Banu,

"bukan seberapa hebat pekerjaanmu, 

tapi seberapa besar hati yang kamu curahkan 

dalam pekerjaan paling kecil sekalipun!"

Comments

  1. Tulisan yang sangat keren di hari ulang tahun ini... Sangat menyentuh dan inspiratif..
    Bukan seberapa hebat pekerjaanmu, tapi seberapa besar hati yang kamu curahkan dalam pekerjaan paling kecil sekalipun.. WELLNOTED!

    ReplyDelete
  2. Wah ... Kok bener. Ternyata selama ini, aku pun berusaha mempraktikkannya, Dik ... Hahha.... Happy belated bday yah!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!