Saat Pintu Panggung Mulai Terbuka
pintu menuju panggung terbuka. aku melongok belakang. memberi tanda pada teman-teman choir Sekolah Cikal Serpong untuk bersiap. mata mereka kaget dan tegang. sebagian memandangi layar yang terpasang di dinding sambil meringis. panggung megah dan penonton membanjir membuat mereka cemas. belum lagi kehadiran dewan juri yang duduk di bangku paling depan. kulempar senyum pada mereka. 'ayo kita nikmati momen ini, guys!' bisikku dalam hati. mereka paham. dan ikut tersenyum.
"silakan, Kak!" panitia penjaga pintu mempersilakanku melangkah masuk.
"semangat, semangat!" kata rekan guru, Pak Roby, sambil tersenyum dan mengepalkan tangannya.
baiklah, teman-teman. ayo kita mulai!
aku dan teman-teman choir melangkah masuk ke panggung Penabur International Choir Festival 2024 di Penabur International School Kelapa Gading, Selasa 10 September siang itu. lantai kayu cokelat bersih mengkilap menyambut kami. oh sudah jelas kami tidak mau terburu-buru. pelan-pelan saja. nikmati setiap momen yang ada di atas panggung karena sama sekali tidak ringan usaha kami untuk sampai ke sana.
sinar putih terang menyorot dari sebelah kanan. lampu apa itu? ah, biarkan saja. aku menatap lurus ke arah baby grand piano Kawai hitam di ujung sana. piano yang pada saat gladi resik hari Minggu lalu membuatku kewalahan karena tuts yang berat. piano itu memang punya warna suara yang indah. suara piano akustik yang sangat bernuansa kayu. namun tuts yang berat mempersulit iringan lagu Sukacita karya AT Mahmud yang diaransemen oleh Fero Aldiansya Stefanus, yang kami tampilkan dengan tempo cepat. tapi itu dua hari yang lalu. hari ini pasti beda. aku sudah mencari pinjaman piano dengan tuts berat untuk berlatih kemarin. pagi ini juga aku sempat pemanasan cukup lama di ruang musik sebelum berangkat. aku siap mengiringi Sukacita maupun Akatonbo, lagu tradisional Jepang yang ditulis oleh Greg Gilpin.
aku dan Bu Mita, guru Sekolah Cikal yang berkenan membantu menjadi page turner, sampai di samping piano. kami bersiap di kursi masing-masing sambil melihat teman-teman choir melangkah masuk. wajah mereka memang sedikit tegang, namun gerak mereka sangat tenang. mereka tampil sebagai anak-anak yang polos tapi tetap elegan, nyaman dengan diri mereka sendiri, dan fokus pada satu hal yang ada di hadapan mereka. anak-anak choir ini hanya ingin menikmati panggung sambil bernyanyi dan berdansa. mereka tidak memikirkan hal lain.
Bu Resita, guru Sekolah Cikal yang menjadi pengaba, mulai memberi arahan untuk merapikan barisan. dan, hahaha, meskipun sudah berulang kali diberitahu untuk bergerak perlahan, tetap saja ada yang bergerak sambil melompat. Bu Resita terus tersenyum pada anak-anak.
tidak mudah melatih paduan suara yang baru terbentuk belum sampai dua tahun ini. mulai dari membangun kebiasaan disiplin berlatih, teknik bernyanyi dan gerakan, sampai mengelola sikap sempurna di atas panggung. para guru, Bu Resita, Pak Roby, dan Bu Mita, yang dibantu oleh Bu Ayura dan Bu Risma, selalu tampil all-out untuk anak-anak. bukan hanya melatih, namun juga menyiapkan aransemen, berdiskusi tentang teknik latihan yang cocok, menyiapkan dokumentasi, sampai menggotong piano digital naik ke lantai tiga lewat tangga, merapikan meja kursi agar ruangan dapat digunakan untuk berlatih.
tujuan mereka satu, membangun mimpi bersama. sebuah impian besar yang menuntut perjuangan panjang dan tidak ringan. sebuah impian yang harus dinikmati setiap langkahnya. sebuah impian yang suatu hari nanti akan kita banggakan bersama sambil saling menepuk bahu dan berterima kasih.
orang tua anak-anak choir juga ikut bersimbah keringat demi penampilan kali ini. mulai dari persiapan kostum yang sangat detil, konsumsi yang bukan cuma dipikirkan kualitas dan jumlahnya namun juga bagaimana supaya anak-anak nyaman memakannya di dalam bus, terjun langsung menyiapkan make up semua anak-anak choir, dan berjalan bolak-balik ke depan dan belakang di dalam bus untuk membagikan konsumsi sambil memastikan setiap anak bisa duduk nyaman.
penampilan di panggung besar kali ini, bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. ini adalah permulaan. momen awal saat pintu panggung mulai terbuka. setelah ini, masih panjang, berliku, dan hebat perjalanan mimpi choir Sekolah Cikal Serpong. anak-anak choir, semua guru, orang tua murid siap bergerak secara telaten. kebersamaan yang terbangun di penampilan perdana ini menunjukkannya.
aku ingat suatu hari Kiky, istriku, pernah bertanya, 'kalau kamu tegang dan cemas tampil di panggung, kenapa tetap melakukannya?' saat itu aku diam. iya ya, kenapa ya? sekarang aku sadar. aku mau terus melakukannya karena aku senang bermimpi. dan kali ini, aku ada di atas panggung bersama sebuah choir yang juga senang bermimpi dan bekerja keras mewujudkannya.
uups, sudah dulu ya ceritanya. Bu Resita mulai mengaba ke arahku. aku main piano dulu. mengiringi impian besar para musisi cilik ini.
sampai nanti!

Terimakasih banyak Om Inug, moment lomba kemarin diceritakan dengan sangat indah dan sangat menyentuh š„¹
ReplyDelete