Menengok Belakang

pagi ini aku mencoba sejenak berhenti. menarik diri dari kencangnya aktivitas. memejamkan mata, menarik nafas panjang, dan bertanya dalam hati,"untuk apa aku ada?" pertanyaan sederhana yang sungguh tidak sederhana jawabannya. pertanyaan sederhana yang seringkali terlupa untuk selalu ditanyakan. pertanyaan sederhana yang menjadi usahaku untuk menjawab banyak kegelisahan.

sebelum melangkah ke sana, aku coba jawab dulu pertanyaan berikut ini. "kenapa eksistensi perlu dipertanyakan? bukankah itu hanya perlu untuk dijalankan sebaik mungkin? jangan-jangan, mempertanyakan manfaat keberadaan diri hanya merupakan ekspresi kekecewaan akan hidup?" bagiku, mempertanyakan manfaat keberadaan diri adalah cara untuk mengembalikan jalan hidup ke alur yang sebenarnya, jalan yang sejati. kita menyingkirkan nilai-nilai yang mungkin tanpa disadari tidak penting namun menduduki prioritas tinggi dalam hidup. mencoba merasakan, jangan-jangan kita tenggelam pada nilai-nilai yang sengaja ditanamkan oleh berbagai sistem yang sebenarnya belum tentu cocok dengan nilai yang kita perjuangkan. 

jadi, "untuk apa aku ada?" besar sekali rasanya pertanyaan itu. coba kita kerucutkan. "kenapa aku bekerja di tempat kerjaku sekarang?" dan "bagaimana peranku di keluarga saat ini?" 

saat ini, aku bekerja mengajar piano untuk anak-anak dan anak berkebutuhan khusus (abk). apa kekuatanku? apa kelemahanku? jelas aku bisa bermain piano. komunikasi dengan anak-anak adalah satu hal yang aku bisa jalani dengan luwes. ditambah aku punya pengalaman berkutat dengan satu kondisi mental, sehingga cukup peka dan besarlah empatiku pada orang lain. 

apa yang bisa aku lakukan untuk mengembangkan diri? saat ini, aku baru mencoba untuk memasuki tahap baru yaitu mengikuti sertifikasi terapis musik. aku masih galau itu apa dan bagaimana. hari Rabu besok aku akan berjumpa seorang pakar di bidang ini, sudah tentu akan aku manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk memperoleh informasi.

saat ini aku menjalani peran manajerial. baru dan menantang. ada banyak hal yang belum aku pahami di dalamnya. aku sering merasa seharusnya tim berlari lebih kencang, berusaha lebih keras. aku sering merasa usahaku jauh lebih besar ketimbang lainnya. seperti menarik gerbong besar yang enggan bergerak. namun - namun - namun, bukan satu dua kali aku punya pengalaman hidup serupa dan berujung pada hal tidak menyenangkan. di mana aku selalu merasa benar dan orang lain keliru yang ternyata, sungguh, bukan demikian nyatanya. aku jadi takut untuk menilai situasi. jangan-jangan situasi saat ini aku nilai demikian karena aku memang selalu menilai situasi demikian. pernahkah tidak? terus terang pernah, saat aku berlari bersama tim yang memang sangat lincah. 

hmm, mungkin aku akan berhenti sibuk menilai. aku akan memfokuskan diri pada hal yang bisa aku lakukan saja. pun hasil akhirnya bagaimana, belakangan. dengan begitu langkahku terasa lebih ringan. aku tidak bertanggung jawab untuk menggerakkan gerbong. toh aku bukan masinis.

di keluarga, bagaimana perananku? apakah aku sudah menjadi suami yang baik? hmm, bagaimana sih sebetulnya suami yang baik itu? aku masih sering merasa kesulitan untuk memahami apa yang istriku butuhkan, terutama dalam perannya sebagai pekerja. seringkali aku merasa ia mengerahkan segala-galanya tanpa sepenuhnya sadar bahwa ia punya pilihan untuk menyisakan sebagian perhatian untuk hal lain. namun, kembali lagi, benarkah demikian situasinya? benarkah bahwa aku benar dan dia keliru? atau jangan-jangan.. 

sekali lagi, mungkin aku akan berhenti sibuk menilai. aku coba lakukan saja hal yang mungkin baik, yang berada dalam jangkauanku. semampuku. hasilnya bagaimana, belakangan. 


Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!