Dulu Sekarang
Dulu...
Saya rajin menulis. Saya ketik di laptop dan bagikan lewat blog pribadi. Bahagia rasanya melakukan aktivitas menulis. Sadar dan hadir penuh di dalam momen menulis itu. Tidak berpikir tentang kemarin. Tidak mencemaskan besok. Tidak memusingkan apa tanggapan orang lain atas tulisan saya. Bebas. Bebas merasakan emosi yang muncul dari tiap kata. Tak jarang saya membuat lebih dari satu tulisan dalam sehari.
Dulu saya senang mencoba hal baru. 'Ah, iseng ahh! Coba bikin tulisan yang isinya percakapan semua,' batin saya saat menunggu sepeda motor diservis di bengkel. Saya mengambil ponsel warna hitam dari tas selempang dan mulai menulis. Satu setengah jam berlalu dan saya membuat satu tulisan fiksi bertempat di tepi danau tentang percakapan sepasang kekasih yang tak lama lagi harus menjalani hubungan jarak jauh. Isinya benar-benar cuma kalimat langsung, yaitu kalimat yang diucapkan oleh tokoh cerita. Tantangannya adalah menitipkan keterangan - seperti keterangan waktu, lokasi, deskripsi ekspresi wajah, pakaian - lewat tiap percakapan. Seru sekali! https://ysanugerah.blogspot.com/2018/09/secuil-obrolan-sore-itu.html
Saking senangnya menulis, pernah saya sempatkan 10 menit menulis di bangku Gereja Santa Theresia usai misa Jumat Pertama. Waktu itu saya senang sekali mendengar ceramah Romo In Nugroho SJ sampai ingin mendokumentasikannya. https://ysanugerah.blogspot.com/2018/09/hai-kamu-ya-kamu-aku-memanggilmu.html
Sekarang...
Saya cemas untuk berekspresi lewat menulis. 'Apa manfaat dari tulisan saya? Siapa yang mau baca? Apakah tulisan saya bagus? Bukannya lebih baik kalau saya manfaatkan waktu untuk melakukan hal lain, toh ada banyak pekerjaan yang harus saya lakukan!'
Saya memusingkan hal yang sama sekali tidak berguna, bukan urusan saya, sampai mengorbankan sesuatu yang membuat saya bahagia.
Dulu...
Saya senang sekali bermusik. Setelah lama belajar piano klasik, ada satu momen yang membuat diri saya penuh dengan musik jazz. Saya lalu bergabung di dalam kelompok musik. Kami rutin latihan dan cukup sering tampil. Saya rajin mencari kesempatan tampil, entah kompetisi atau acara yang butuh pemusik seperti pernikahan atau kumpul keluarga orang-orang kaya.
Tiap melihat piano saya langsung memainkan melodi lagu jazz standard dengan akor-akor miring yang khas. Saya tidak peduli ada yang mendengarkan atau tidak. Saya mainkan musik benar-benar karena saya suka.
Saya juga sering menulis aransemen untuk band atau paduan suara. Lagi-lagi tanpa peduli akan ditampilkan atau tidak. Saya menulis musik semata-mata karena senang melakukannya.
Sekarang...
Saya cemas untuk berekspresi lewat musik. 'Apa manfaat dari musik saya? Siapa yang mau mendengarkan? Apakah permainan musik saya bagus? Bukannya lebih baik kalau saya manfaatkan waktu untuk melakukan hal lain, toh ada banyak pekerjaan yang harus saya lakukan!'
Saya memusingkan hal yang sama sekali tidak berguna, bukan urusan saya, sampai mengorbankan sesuatu yang membuat saya bahagia.
Comments
Post a Comment