Trilili Lilili Lilili
Ibu Sud pernah bilang kalau di pucuk pohon Cempaka burung Kutilang berbunyi. Bahagia sekali sepertinya burung itu. Bernyanyi bebas di alam terbuka. Cantik rupawan. Merdu menawan. Kutilang di pucuk pohon Cempaka.
Pucuk pohon Cempaka menjadi panggung. Panggung yang memberikan burung Kutilang kebebasan berbunyi. Di atas panggung Kutilang, yang sudah tampil cantik, memperkenalkan bebunyiannya pada dunia. Kutilang memberikan jawaban untuk apa ia diciptakan. Tanpa pucuk pohon Cempaka, Kutilang mungkin akan sedikit bingung untuk apa ia ada di dunia. Tanpa pucuk pohon cempaka, Ibu Sud mungkin kesulitan mendengar bebunyian Kutilang.
Memang demikian itu panggung. Tinggi dan kokoh, panggung memberikan kesempatan siapapun untuk bisa dilihat dan melihat, didengar dan mendengar, bahkan dinilai dan menilai. Panggung memiliki roh. Tenaganya besar. Semakin megah sebuah panggung, rasanya semakin sakral dan kuat energinya. Siapapun yang bisa membawakan diri dengan baik di atas panggung, pasti mendapat (dan akhirnya akan kembali memberi) limpahan energi luar biasa.
Demikian halnya panggung di peringatan ulang tahun Daya Olivia Korompis yang sekaligus adalah ulang tahun Sekolah Daya Pelita Kasih, Jumat 19 Oktober 2018 pagi. Panggung dibuat lebih tinggi dari posisi penonton. Lebih jelas. Alasnya karpet berbentuk dedaunan warna hijau muda. Segar sekali warnanya. Siapapun yang ada di atas panggung sontak menjadi pusat perhatian.
Pagi itu, memeriahkan pesta ulang tahun Daya, ada banyak murid tampil di atas panggung. Ada yang bernyanyi, bermain piano, hingga memainkan angklung. Ada juga yang tampil memimpin doa, tapi itu karyawan, Pak Suli namanya. Dia bukan murid.
Bersiul, siul sepanjang haridengan tak jemu jemu
Deni tampil menyanyikan All I Ask of You karya Andrew Lloyd Webber. Lagu terkenal dari The Phantom of the Opera. Juga lagu yang susah dinyanyikan. Suara Deni asyik sekali. Seperti mendengarkan gabungan penyanyi seriosa dan populer. Tangannya tekun bergerak. Sama sekali jauh dari kesan kaku dan demam panggung. Panggung sudah ia kuasai rupanya. Seperti Kutilang di pucuk Cemara. Dengan gagah, Deni menampilkan suara, ekspresi wajah, gerak tubuh. Bahkan lebih jauh dari itu, Deni menampilkan dirinya. Sorot mata Deni mengucap,"Lihat! Lihatlah! Inilah saya yang sebenarnya!" Semua hadirin terpukau.
Mengangguk angguk sambil berseru, trilili lilili lilili
Deni meninggalkan panggung. Sekarang Alfon yang ada di atas panggung. Ia meletakkan jari dengan sabar. Jari tiga tangan kanan dan kiri di tuts berstiker hijau, persis seperti yang sudah dilatihkan. Lagunya Big Black Cat. Bercerita tentang seekor kucing peliharaan dengan bulu halus dan ekor panjang mengeong-ngeong (ya jelas, mosok mengembik). Alfon sendiri yang memilih lagu itu. Ia menampilkan kebisaannya di piano. Permainan Alfon pagi itu bersih. Not, ketukan, dan penjarian sempurna. Seakan dia sudah berlatih lagu itu berbulan-bulan. Padahal (jujur saja) baru dua kali pertemuan. Yang pagi itu hadir di atas panggung dan bercerita pada dunia adalah Alfon seorang pianis. Bukan! Bukan Alfon-Alfon yang lain.
Giliran Michael sekarang. Ia melompat ke depan piano. Siap memainkan Ode to Joy (sebagian kecil dari Simfoni No. 9 Beethoven yang disederhanakan). Tanpa basa-basi, Michael memulai. Dingin dan tenang sekali dia. 'Bermusik di Panggung' seakan menjadi golongan darahnya. Perpindahan melodi di tangan kanan dan kiri berjalan baik. Perubahan posisi tangan di pengulangan lagu pun berjalan cepat. Hitungan Michael stabil dengan alur melodi yang jelas-mau-dibawa-ke-mana. Pagi itu kita melihat Michael sang penguasa panggung. Seakan orang lain di sekitarnya hanya kebetulan numpang lewat.
Sambil berlompat lompatanparuhnya slalu terbuka
Daya, yang berulang tahun, dan rekannya, Wilson, maju ke panggung. Ada dua mikrofon disiapkan. Duet rupanya. Pilihan lagunya sungguh romantis, tebak apa! Beauty and the Beast karya Alan Menken dan Howard Ashman. Wilson menciptakan karakter suara tertentu. Seakan dia adalah sang pangeran arogan alias The Beast seperti dalam film Beauty and the Beast. Daya menyanyi lincah dan tegar khas Belle, gadis desa cerdas yang hobi berpetualang. Daya dan Wilson di panggung bisa menjadi siapapun. Mereka mengalir seperti air dan bisa mengubah diri menjadi bentuk apapun sesuai yang mereka inginkan. Itulah kesaktian Daya dan Wilson saat berada di atas panggung. Itulah Daya dan Wilson yang sebenarnya.
Banu sayang piano. Semua guru Daya Pelita Kasih tahu itu. Setiap bertemu dengan saya, Banu selalu ingat piano dan langsung minta bermain piano. Mungkin muka saya mirip tuts piano. Saking sayangnya dengan piano, Banu menghampiri mikrofon yang menyala dan menempelkan bibirnya. Saya kira dia mau berteriak,"Aku sayang piano!" Tapi ternyata dia lebih memilih menyebutkan nama selebriti Indonesia yang tinggi besar badannya.
Setelah duduk di atas piano, Banu dengan tangannya yang kuat, memulai melodi lagu. Burung Kutilang pun berbunyi. Maksud saya, Banu memainkan lagu berjudul Burung Kutilang karya Ibu Sud. Siapa yang sadar bahwa, hampir sepanjang lagu, mata Banu tertuju ke partitur dan tidak melihat ke arah tangan? Itulah salah satu keistimewaan Banu sebagai pianis. Setiap pergantian not dan posisi jari, tangan Banu bergerak seperti merambat sehingga sangat efektif.
Apakah hal tersebut mudah dilakukan? Sama sekali tidak. Butuh latihan dan konsentrasi yang cukup. Kalau bengong, hancur dunia persilatan! Bisa-bisa posisi tangan berbeda jauh dengan not di partitur. Tapi Banu bisa. Dia memperkenalkan musiknya dan dirinya pagi itu. Penampilan di atas panggung itu membuat orang lain berkata,"Ini dia Banu. Saya kenal dia dan musiknya."
Pemusik berikutnya Daulat. Berjalan mantap ke atas panggung, duduk di bangku piano, dan langsung mengambil buku partitur. Lagunya Waltzing Aliens karya Ananda Sukarlan. Daulat suka lagu itu. Sejak pagi, Daulat sudah cukup lama duduk di bangku penonton persis di depan piano sambil sesekali melirik ke arah tuts. Rupanya dia ingin sekali segera tampil bermusik. Dengan melihatnya bermusik, kita jadi makin tahu siapa itu Daulat. Dia adalah pemuda tangguh dengan semangat berapi-api namun memiliki hati yang lembut dan peka. Sepanjang lagu, Daulat bersikap tenang dan mampu bermain utuh dari awal sampai akhir. Tangannya terus stabil meraba tuts. Kakinya juga mantap memijak pedal piano. Daulat stabil dan kuat. Itulah Daulat yang sebenarnya. Itulah 'Daulat' yang ada di dalam diri Daulat.
Steven menjadi pianis selanjutnya. Gayanya yang terkesan santai dan cuek sama sekali berbeda dengan pembawaannya saat bermain piano. Lagu A Waltz from the Past karya Ananda Sukarlan bukanlah lagu yang mudah untuk dimainkan. Bagi saya, lagu itu rasanya galau namun indah, nah susah kan? Tapi Steven dengan tenang memberikan lagu tersebut nafas yang dalam sekali. Dinamika dan tempo Steven tata sedemikian rupa. Cara menekan piano yang ringan dan lembut pun muncul di not terakhir lagu hingga menciptakan kesan 'magic' yang mengiris. Tidak bisa tidak, semua penonton bertepuk tangan keras. Tidak bisa tidak. Memang seharusnya demikian. Asal tahu saja, itu adalah Steven yang berada di atas panggung. Steven yang sebenarnya. Steven yang sejati. Seniman. Pengolah rasa.
Steven bahkan membawakan satu lagu surprise untuk Daya. Lagu Happy Birthday. Entah dapat ilham dari mana, Steven memainkan lagu tersebut dengan ceria namun mesra. Aransemennya sederhana. Not yang dimainkan tidak banyak. Tapi pembawaannya nikmat sekali. (Lagi-lagi) tidak bisa tidak, penonton berseru suka cita. Semua kagum pada seniman di atas panggung itu yang ternyata juga ikut dalam 'panggung' lain di perlombaan literasi.
Siswa Daya Pelita Kasih membutuhkan panggung. Panggung untuk menjadi lebih didengar dan mendengar, dilihat dan melihat, serta dikenal dan mengenal. Guru, terapis, orang tua, dan siapapun yang terlibat di Daya Pelita Kasih selalu siap mengajak siswa mencari panggungnya sendiri dan mempersiapkan penampilannya. Penampilan terbaik di panggung terbaik. Apabila panggung sudah ditemukan dan penampilan sudah disiapkan, mereka akan segera tampil dan berseru. Karena mereka bersuka.
tandanya suka ia berserutrilili lilili lilili
*Selamat ulang tahun, Daya! Selamat ulang tahun Sekolah Daya Pelita Kasih! Semoga semakin lantang dan bahagia bernyanyi di ujung panggung!



Comments
Post a Comment