Membangun Rumah Tangga : Emas atau Bukan Emas?

(tulisan ini saya buat dengan target pembaca para panitia, peserta, dan siapapun yang berhubungan dengan kegiatan Membangun Rumah Tangga -MRT-  khususnya di Gereja Katholik Stefanus Cilandak, Jakarta Selatan yang mengadakan kegiatan tersebut pada bulan Maret 2019)

Saya mendaftar dan berangkat ke pembinaan calon pasangan menikah 'Membangun Rumah Tangga' (MRT) yang diadakan oleh Gereja Katholik dengan hati terpaksa. "Okelah ikutin aja. Prasyarat wajib." Kesan yang muncul adalah bahwa Gereja Katholik-lah yang membutuhkan adanya sesi ini. Namun kemudian sesi berakhir dan saya pulang dengan pikiran,"Ini gilak banget sih. Harusnya calon pasangan menikah yang memaksa untuk ikut ini di Gereja Katholik, bukan sebaliknya!" Keyakinan yang kemudian muncul adalah bahwa calon pasangan menikahlah yang sangat membutuhkan sesi ini!  

Well, saya bisa bicara demikian setelah saya mengikuti seluruh sesi. Saya berniat untuk menuliskannya di blog. Harapan saya, ke depan para calon pasangan menikah bisa melihat MRT sebagai suatu hal yang sangat dibutuhkan. Tenang saja, saya tidak akan memberikan spoiler di tulisan ini. Saya hanya akan menyoroti secara global.

Topik yang disusun oleh Keuskupan Agung Jakarta untuk sesi-sesi MRT menurut saya gilak keren abis karena super duper sistematis. (Saya membayangkan tim penyusun adalah orang-orang dengan otak encer yang kerjaannya baca buku, nulis, diskusi, dan terjun langsung ke lapangan tiap hari. Pasti orang hebat!)

MRT dibagi menjadi dua hari. Hari pertama kita diajak untuk berefleksi secara global. Hari kedua lebih bersifat teknis dan praktis. Pembagian tersebut membuat kita bisa mengerucutkan pemikiran mulai dari hal yang luas dan abstrak hingga hal teknis yang bisa dikerjakan sambil menghitung kalender atau pengeluaran dan pemasukan.

Di hari pertama, topik pertama membahas tentang pengenalan diri sendiri. Di dalamnya ada juga pembahasan bahwa setiap orang adalah berbeda. Bahwa topik ini diletakkan di awal MRT menurut saya luar biasa cerdas. Apabila calon pasangan menikah berangkat ke lokasi menikah dengan keyakinan bahwa 'kita menikah karena kita sama', siap-siap aja karam tuh kapal. Gereja Katholik membuat kita melek bahwa elu, elu, dan elu semuanya berbeda! Kenali diri sendiri, kenali orang lain, dan sadari bahwa kalian berbeda!

Salut untuk keputusan tim Gereja Santo Stefanus yang meletakkan Pak Perry dan Bu Yoning sebagai pembicara topik ini! Ini topik yang sangat menentukan keberhasilan seluruh sesi MRT dan Pak Perry dan Bu Yoning adalah pembicara yang paling efektif dan cerdas dalam menyampaikan pengalaman pernikahan.

Saking ngefans-nya saya dengan mereka, ada beberapa statement yang saya catat langsung, yaitu :

  1. "Kita jalan sama-sama ke tengah." dan "Pernikahan bukan tempat untuk mengubah pasangan." (saat Pak Perry dan Bu Yoning ingin menyampaikan bahwa dalam pernikahan, kedua belah pihak harus mau mencari solusi bersama tanpa berniat mengubah pasangannya)
  2. "Yoning membantu mengembangkan kekuatan saya dan juga sebaliknya." (kata Pak Perry saat menjabarkan tentang kekuatan dan kelemahan seseorang yang digambarkan dengan tipe temperamen) - dalam sesi istirahat, saya dekati Pak Perry dan bertanya pada beliau sikap terhadap kelemahan,"Kelemahan bisa diolah bersama asalkan pihak yang bersangkutan sudah mau membuka diri. Selama belum, jangan diintervensi. Itu PR dia sendiri." Sikap yang dingin dan logis sekali. Sukak!
  3. "Salah satu contoh kemalasan adalah malas membahas masalah saat suasana sedang nyaman karena takut merusak suasana." (ujar Pak Perry saat menjabarkan tentang pentingnya keterbukaan) 

Setelah kita dibuat melek dan sadar, barulah masuk ke tahap berikutnya, yaitu komunikasi. Gereja Katholik seakan bicara,"Kita semua berbeda, oke. So what? Komunikasikan perbedaan itu. How? Nah ini tips and trick-nya..." Masuklah sesi kedua tentang komunikasi efektif.

Sesi berikutnya berbicara soal pengharapan. Lagi-lagi saya berpikir bahwa tim KAJ cerdas karena meletakkan topik pengharapan ini setelah kita dibuat sadar bahwa kita berbeda dan diajari cara berkomunikasi yang efektif. Dapatkan kalian bayangkan dua orang berbicara soal harapan bersama tanpa dilandasi kesadaran bahwa mereka berbeda dan kemampuan komunikasi yang efektif? Nonsense!

Setelah tiga topik yang terasa sekali pengerucutannya itu, masuklah ke empat topik berikutnya yang juga mirip sistematikanya, yaitu mulai dari hal abstrak dan luas mengerucut ke hal teknis dan riil. Awalnya kita diajak membahas soal apa itu cinta. Wuih, itu pembahasan yang sangat luas. Dikerucutkan di topik berikutnya yaitu perkawinan, lalu bergeser ke perkawinan sakramental, dan ditutup dengan tata cara upacara perkawinan.

Di hari kedua, kita diajak untuk membahas banyak hal teknis yang berhubungan langsung dengan kehidupan pernikahan, seperti pengaturan kelahiran, pengelolaan keuangan, hingga pengelolaan keluarga dan hubungannya dengan lembaga gereja.


MENDENGARKAN

Harus saya akui bahwa beberapa kali saya merasa bosan di dalam sesi MRT. Penyebabnya satu, pilihan cara pembicara untuk menyampaikan materi. Hal ini sungguh saya sayangkan. Materi MRT itu saya ibaratkan sebagai emas. Namun emas itu bisa terlihat sebagai bukan-emas saat cara penyampaian kurang menarik. 'Ke-emas-an' tersebut jadi sangat tergantung pada kemampuan pembicara, bukan pada esensi yang dibicarakan.

Sewaktu saya berkuliah, saya sering mengalami hal serupa. Bukan sebagai pendengar melainkan sebagai pembicara. Saya sering mengusulkan sesuatu (yang saya yakini bermutu) namun tidak didengarkan oleh teman-teman. Sementara usul (yang saya yakini tidak lebih baik dari usul saya) disampaikan teman dengan sangat menarik dan langsung disetujui. Saya kesal dan heran. Hingga suatu saat seorang rekan mengkritik,"Usul lu keren. Tapi lu ga bisa ngejualnya, Nug!" Oh, okay.

Pengalaman tersebut membuat saya memaksakan diri untuk mendengarkan dan mencari inti topik yang disampaikan oleh pembicara, terutama pembicara yang secara sadar memilih untuk menyampaikan materi dengan cara yang kurang menarik (paling tidak menurut saya). Ternyata tebakan saya betul. Cara penyampaian mungkin kurang oke, tapi esensi yang disampaikan itu emas! Astaga! Betapa beruntungnya saya menyempatkan diri untuk mendengarkan mereka.

(Btw, saya sempat curiga, jangan-jangan ini hanya taktik Gereja Katholik yang berniat mengajarkan kita untuk mau mendengarkan. Karena 'mendengarkan' (bukan cuma 'mendengar') itu adalah hal paling esensial dari sebuah hubungan, bukan?)     

Namun seandainya perkiraan saya itu kebablasan dan memang cara penyampaian yang dipilih kurang menarik, alangkah baiknya apabila semua pembicara melakukan gladiresik sebelum acara terhadap semua panitia dari berbagai usia. Saya bicara demikian sebagai seorang pencemas (saya pengidap Bipolar Disorder) yang beberapa kali tampil di depan umum (sebagai guru piano ataupun pemain piano). Sebelum mengajar sesi besar atau tampil di konser, saya selalu menyempatkan diri melakukan gladiresik dengan satu tujuan, mengetahui suasana saat running acara tersebut.

Semoga masukan saya ini berguna sehingga ke depan para calon pasangan menikah bisa menangkap emas yang dijual dengan cara yang menarik. Karena memang sebenarnya materi MRT itu adalah emas murni. Akhirnya, saya ucapkan terima kasih kepada para panitia yang sudah menyiapkan dan mengonsep acara ini dari awal hingga pelaksanaan selesai. Salut!

Comments

  1. Thanks a lot mas utk sharingnya. Salam dari Tim MRT Stefanus Cilandak

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama sama.. saya dan pasangan bersyukur sekali atas adanya pendampingan ini.. thx a lot bt tim MRT Gereja Stefanus.. pasti akan kami kenang dan butuhkan seumur hidup..

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!