Kupu-Kupu

tulisan ini adalah fantasi yang kubangun saat memainkan musik berjudul Variations on Ibu Sud's "Kupu-Kupu Kemana Engkau Terbang" karya maestro Ananda Sukarlan

Blaaaarrrrrr!!!!!!! Petir dan kilat menyambar keras. Hujan turun deras. Butir air menghajar tubuhku. Sakit sekali. Gelap malam di hutan ini membuatku bingung arah. Sedikit melangkah, terantuk batu. Terjerembab. Wajahku menabrak tanah. Melangkah lagi. Lengan kanan terkoyak duri. Darah menetes. Aku sulit bernapas karena angin kencang sekali. Jaket dan mantel yang kukenakan basah kuyup. Nyeri dadaku. Kepalaku sakit. Tubuhku demam. Entah kenapa aku bisa ada di dalam hutan ini. Semenjak aku kecil sepertinya, aku tidak yakin. Siapa yang salah? Siapa yang menaruhku di hutan ini? Sialan!

Aku ketakutan. Jangan-jangan di depan sana ada lubang besar. Atau malah ada ular? Aku harus bagaimana? Berdiam di sini aku kedinginan. Maju ke depan aku takut. Rasanya semua yang ada di hutan ini menyerangku. Bahkan daun pun bisa menyiksaku. Semua jahat. Semua sadis dan tolol. Tidak punya belas kasih. Hutan macam apa ini?

Kupaksa melangkah hingga kusadari petir mulai hilang. Hujan angin mulai reda. Ini mulai subuh sepertinya. Matahari muncul di kejauhan. Kulihat ujung dari hutan. Hutan terkutuk yang kulalui sejak kecil. Ada padang rumput luas di depan sana. Dibatasi pagar kayu pendek kecil. Pohon tinggi besar di belakang. Di tengah ada rumah mungil. Dindingnya putih dengan cat banyak terkelupas.

Samar kudengar suara nyanyian. Sepertinya aku tahu nyanyian ini. Nyaman sekali. Mungkin waktu kecil Bapak Ibu pernah menyanyikannya untukku. Aku melangkahi pagar mungil. Pelan-pelan berjalan masuk. Bolehkah aku masuk ke sini? Pantaskah aku menginjakkan tanah ini dengan tubuh dekil bau dan pakaian basah berantakan? Suara nyanyian itu tujuanku. Hanya itu, tidak lebih.

Udara sedikit hangat. Kubuka mantel basah dan lempar ke tanah. Aku hanya mengenakan kaus dan jaket. Berjalan pelan menunduk. Takut ketahuan. Bisa-bisa aku dimarahi. Aku takut dimarahi dan dibenci. Suara nyanyian makin jelas. Nyanyian tentang kupu-kupu. Kupu-kupu yang hangat dan indah. Persis seperti Ibuku. Aku sampai di pinggir dinding rumah. Kuintip ke belakang. Sekawanan kupu-kupu terbang di tengah halaman. Merah, hijau, biru, putih, hitam, kuning. Banyak sekali. Nyanyian itu berasal dari mereka.

Satu ekor kupu-kupu berhenti terbang. Ia melihatku. Tersenyum dia memanggilku,"Nug, sini..." Ia kembali terbang. Dia mengenalku. Aku berjalan ke arah kawanan yang masih terus terbang berputar-putar. Nyanyian kupu-kupu terdengar jelas dan halus. Merdu sekali. Ya Tuhan, nyaman sekali rasanya. Udara sangat hangat di sini. Jaket kubuang tanpa peduli. Lupa rasa dingin yang lama mencekam. Hatiku enteng. Nyeri di kepala dan dada sirna. Aku ingin ikut bernyanyi.

Kupu-kupu yang lucu
Ke mana engkau terbang
Hilir mudik mencari
Bunga bunga yang kembang

Berayun-ayun
Pada tangkai yang lemah
Tidakkah sayapmu
Merasa lelah

"Ayo sini, Nug!" teriak kupu-kupu yang tadi memanggilku. Aku tahu sekarang, itu mbak Sari, kakak perempuan yang sudah lama meninggalkanku. Ternyata itu dia. Aku melompat ke tengah pusaran kupu-kupu. Ikut bernyanyi dan melompat. Girang hatiku. Aku mengenali kupu-kupu yang lain. Ada Eyang Kakung, Eyang Putri, Pakde, Bude, Oom Pri, Oom Topo, Oom War, mas Niko, mas Gegar, mas Widha, Oom Tetet, Tante Tri, Bude Ntit, Mami, Pakde Git, mas Soni. Semuanya leluhurku. Mereka keluargaku! Mereka masih hidup dan sekarang ada di sini. Astaga! Terima kasih Tuhan aku tidak sendirian lagi! Semua tersenyum ke arahku dan berebut memanggilku sambil terus terbang membuat pusaran di sekitarku. Sambil terus bernyanyi dan melompat-lompat, aku tertawa kegirangan. Hahahaha, mereka semua di sini!!!!

"Lompat sini, Nug!"   
"Kamu udah ga kedinginan lagi, Nug!"
"Ayo ikut nyanyi yang keras, Nug!"
"Hahaha, senang bisa ketemu kamu lagi, Nug!"
"Lama ga ketemu, apa kabarmu, Nug!"

Mereka terbang ke arah lain. Sambil terus bernyanyi. "Ayo lari, Nug!" Aku mengikuti sambil berlari dan melompat. Padang rumput sangat luas dan hangat. Sinar matahari seakan ikut menari. Kawanan kupu-kupu terbang ke arah pohon besar. Pohon yang tinggi dan kuat sekali. Nyanyian kupu-kupu terus mengalun sambil berlari di dekat pohon. Aku sudah lupa rasa sakit di tubuhku. Rasa takut dan cemas yang selama ini menghantui sontak hilang. Seakan semua yang ada di dunia ini mendadak berubah menjadi sahabat. Aku tidak ketakutan lagi. Nyaman dan berani melangkah. Aku tidak sendirian.

Matahari mulai terik. Aku duduk di bawah pohon. Sejuk sekali. Capai badanku. Mataku terpejam perlahan. Tertidur pulas.

+++

Hmm? Sudah sore. Matahari sepertinya mulai lelah. Sebentar lagi giliran dia istirahat. Di mana ini? Aku sudah tidak di hutan? Oh iya tadi pagi aku keluar hutan dan masuk ke padang rumput. Ini pohon yang ada di tengah. Kupu-kupu! Keluargaku! Kemana mereka?

Aku melompat bangun. Di mana mereka? Langit kosong. Tidak ada kupu-kupu. Tidak ada nyanyian. Sepi. Aku berlari ke arah pagar mencari mereka. Tidak ada. Di dekat rumah. Tidak ada. Di ujung dekat hutan. Tidak ada. Di dedaunan dekat pohon besar. Tidak ada. "Mbak Sariiiii! Pakdeeeee! Budeeeee! Eyaaaaanng! Mas Niko, ayo main lagi! Oom Topoooo! Oom Teteeeeetttt!" Hahaha, sembunyi di mana mereka?

Pintu rumah di tengah padang rumput terkunci rapat. Jendela juga tertutup. Kuintip ke dalam. Kosong. Tidak ada orang. Tidak ada kupu-kupu. Tidak ada keluargaku. Ke mana mereka?

Kucari di tiap jengkal padang rumput. Sayap mereka berwarna-warni, pasti mudah menemukan mereka di hamparan hijau begini. Pelan-pelan kucari.

"Ooooommmmm... Eyaaaaannnggg.... Mbak Sariiii....."

Sia-sia. Tidak ada.

Benarkah ini? Benarkah aku sendirian lagi?  Sesingkat itukah mereka sudi menemaniku? Jahat sekali. Tidak tahukah mereka bahwa sejak kecil aku ketakutan sendirian di hutan? Katanya mereka senang ketemu aku, kenapa pergi? Katanya mereka ingin menemani? Omong kosong!

Dadaku kembali sesak. Susah untuk bernapas. Aku marah dan benci. Kenapa hidupku seperti ini? Kenapa sulit sekali untuk merasa bahagia? Seandainya aku tahu akhirnya akan begini, untuk apa aku masuk ke sini? Lebih baik aku terus di hutan dan tetap merasa sendirian. Kesepian kali ini lebih menyakitkan ketimbang saat ada di hutan. Untuk apa bahagia jika akhirnya harus kesakitan seperti ini? Untuk apa tertawa jika akhirnya harus menangis? Lebih baik menangis saja terus. Itu memang menyakitkan, tapi tidak sesakit ini.

Aku terduduk di bawah pohon. Matahari tenggelam. Angin dingin mulai bertiup. Aku kedinginan dan kesepian. Tidak ada siapa-siapa. Semua tidak peduli. Untuk apa aku hidup?   

Aku menangis. Lagi.

+++ 

Ternyata aku ketiduran. Aku enggan membuka mata. Matahari sepertinya mulai bekerja. Udara dingin mulai tersingkir. Percuma. Hatiku tetap kedinginan.

"Nug, bangun yuk..."

Aku membuka mata lebar-lebar. "Mbak Sari? Di mana?"

Sekumpulan kupu-kupu penuh warna hinggap di rumput. Persis di belakangku.

Kupu-kupu berwarna kuning, yang aku tahu itu mbak Sari, melayang di depanku. Cantik sekali. Ia pergi meninggalkanku sebelum aku lahir. Namun aku pernah menjumpainya dalam mimpi.

"Nug, kami akan selalu ada di hatimu. Jangan pernah merasa sendiri. Kami tidak akan pernah meninggalkanmu."

Seekor lagi, berwarna cokelat muda dan merah mendekat. Itu Bude. Bude yang pergi meninggalkanku saat aku berusia 13 tahun. Wajahnya masih tetap ramah. Senyumnya cantik sekali.

"Setelah ini, kita harus pergi, Nug. Kita sempat main sebentar untuk yang terakhir kalinya supaya kamu yakin bahwa kamu tidak sendiri. Kamu harus kuat ya, Nug. Kita semua akan selalu dukung kamu. Sanggup?"

Pikiranku tenang sekali. Suara mbak Sari dan Bude membuatku kuat. Aku yakin mereka punya maksud yang lebih besar ketimbang rasa kesepianku. Aku harus kuat. Bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk orang lain dan terutama mereka leluhurku yang setiap mendampingi. Kujawab dengan senyum lebar yang ikhlas.

"Ya, Bude. Aku sanggup."

Semua kupu-kupu melompat. Kencang sekali. Kibasan sayapnya membuatku terdorong. "Kejar kami kalau bisa!"

Aku tertawa dan mengejar. Hahahaha, yaaayyyy!!!! Aku senang sekali. Tidak ada lagi rasa cemas dan kesepian. Tidak ada lagi ketakutan. Aku yakin mereka akan selalu menemani di dalam hati dan pikiranku.

Sinar matahari mulai cerah. Udara segar dan rumput basah. Tinggi dan kencang sekali mereka terbang. Aku berlari sekuat tenaga. Rasanya kekuatan tubuhku pulih. Aku bisa mengejar dan bermain bersama mereka. Nyanyian kupu-kupu kembali kami nyanyikan. Paduan suara paling indah di dunia. Semua bernyanyi dengan hati bahagia. Saling menguatkan dan mendampingi. Semua ingin saling memberi kebahagiaan. Keluarga yang sangat kuat.

Sambil terengah-engah kudengar mereka berteriak satu per satu.

"Kamu yang kuat ya!"
"Kamu pasti bisa, Nug!"
"Jangan pernah merasa sendiri ya, Nug!"
"Kalau kangen, lihat ke langit! Kami ada di sana!"
"Salam kami untuk semua ya!"
"Sudahi tangismu, Nug. Cerialah!"
"Ayo, Nug! Kami mengandalkanmu!"
"Nitip Bapak Ibu ya, Nug!"
"Main musik yang bagus, Nug!"

Sambil terus berlari, satu kupu-kupu mendekatiku. Warnanya putih. "Eyang!!!!"

"Nug, hanya sedikit manusia yang boleh merasakan gelap dan dinginnya hutan itu. Kamu ada di hutan itu supaya kamu bisa bertemu kami di sini dan menyebarkan kabar ini ke semua orang. Bahwa kami selalu ada dan akan setia menemani. Maukah kamu?"

"Ya, Eyang! Pasti, Eyang! Aku janji!" jawabku terengah-engah sambil terus berlari.

Mereka terbang makin kencang dan tinggi, "Nug, kami pamit ya! Sampai jumpa ya, Nug!"

Aku berhenti berlari. Kutatap mereka yang terbang menjauh ke arah matahari. Kutegakkan badan sambil bersyukur atas semua yang terjadi. Sekarang aku paham kenapa aku pernah ada di hutan itu. Terima kasih, semuanya! Terima kasih.

+++

Demikianlah tulisan ini aku buat supaya terlaksana janjiku pada leluhur. Untuk mengabarkan bahwa kita tidak sendirian di dunia ini. Salam.

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!