Kepincut Ratu Sari (61) - Kenikmatan Bermusik dan Jawaban Indro Hardjodikoro
Katanya musik adalah sarana berekspresi. Orang menemukan kebebasan dan kenikmatan dalam bermusik karena bebas berekspresi. Kalau memang benar demikian maka yang terjadi di diri saya justru sebaliknya. Buat saya main musik seringkali justru adalah kegiatan sangat serius. Tidak ada suasana bersenang-senang di dalamnya. Suasana main musik malah penuh perhitungan seperti sedang mengerjakan tugas matematika.
- Dalam bermain musik improvisasi saya amat kaku. Penuh pemikiran dan antisipasi. Sulit sekali untuk membuat faktor perasaan berperan dominan.
- Saya takut dan sangat menghindari bermain not salah. Saya merasa tidak nyaman dengan kondisi yang sering orang bilang perfeksionis ini. Seakan musik adalah karya arsitektur yang harus presisi milimeter per milimeternya.
- Tiap kali bermain piano saya sangat kaku pada ritual yaitu harus memulai latihan dari pemanasan. Cukup jarang saya bermain piano karena ingin 'bermain musik' dan langsung masuk ke musik tertentu. Biasanya setelah membuka piano saya memulai dengan latihan jari dan tangga nada. Itu sungguh kaku dan tidak menyenangkan! Ini musik bukan dunia baris berbaris!
- Salah satu pendorong kenapa saya berlatih adalah menghindari perasaan bersalah yang bisa muncul bila tidak berlatih. Jadi pendorong saya berlatih bukan kenikmatan bermain musik. Saya tahu itu sangat buruk. Mirip seperti orang mengenakan helm di jalan raya dengan motivasi menghindari hukuman polisi. Oh, satu lagi, kadang muncul perasaan bersalah bila tidak memainkan lagu klasik.
- Setelah berlatih latihan jari dan tangga nada saya sering bingung mau memainkan lagu apa. Biasanya setelah memutuskan lagu tertentu kemudian saya bertanya sendiri kenapa harus memainkan lagu ini.
- Bagi saya jamming adalah aktivitas paling membingungkan seantero jagat raya. Saya tidak tahu harus menekan tuts apa, bagaimana cara memainkannya, kapan harus main dan berhenti, dan lain-lain. Intinya saya tidak tahu harus berbuat apa.
Saya sering berpikir dan mencari akar masalah dari kondisi ini. Kira-kira kenapa saya sampai jadi seperti ini? Bagaimana cara memperbaikinya? Tentu saya tidak ingin selamanya seperti ini karena kondisi ini tidak mengenakkan. Musik yang seharusnya membebaskan dan melegakan justru menjadi penjara. Ada sesuatu yang salah dan ini harus segera diperbaiki.
Suatu hari pernah saya mengajukan pertanyaan tersebut ke pemain bass mas Indro Hardjodikoro. Saya tidak mengenal beliau secara pribadi. Saya hanya sering menonton penampilan beliau di YouTube.
![]() |
| https://m.kapanlagi.com/indro-hardjodikoro/foto/foto-indro-hardjodikoro-013.html |
Percakapan saya dengan mas Indro ini bukan terjadi baru-baru saja. Itu sudah lama sekali. Mungkin dua tahun lalu. Nah, kalau benar begitu, kenapa sampai sekarang masih bingung waktu mau main musik? Entahlah, saya pun sebal rasanya! Satu-satunya jawaban adalah pola belajar yang saya lakukan sejak kecil terlalu kuat pengaruhnya. Hingga ada saatnya penyakit itu memudar dan kambuh. Mungkin saya harus sering-sering membaca percakapan dengan mas Indro ini.
Tidak, tidak! Tulisan ini bukan saya buat untuk menyalahkan guru-guru saya. Mereka tidak bersalah sama sekali. Buktinya banyak teman sekelas saya yang hingga saat ini bisa bermusik dengan bebas dan munculnya dari dalam hati. Saya yakin saya sendirilah yang keliru menyikapi proses belajar sejak kecil. Masih ada waktu untuk mengubah diri.
Seringkali saya secara sengaja menyingkirkan buku teknik dari piano, menyimpannya di rak, dan memasang musik Muse yang memang saya sukai. Pelan-pelan saya coba cari cara untuk memainkannya dengan nyaman. Persis saat itu juga muncul rasa bersalah yang besar sekali. Perasaan bersalah karena saya bermain musik tanpa membaca not balok. Perasaan bersalah karena tidak memulai latihan dengan teknik penjarian.
Jujur saja saya lelah dengan kata 'berlatih piano' dan ingin menggantinya dengan 'bermain piano'. Saya ingin menikmatinya! Kalaupun ini 'latihan' maka saya ingin menikmati proses latihan ini. Kadang, meski bermain lagu sederhana seperti Unintended, saya merasa sangat puas dan lega saat bermain. Mungkin ini yang dinamakan kenikmatan bermusik, hahaha!
Sungguh-sungguh-sungguh saya tidak ingin orang lain merasakan hal serupa. Saya tidak ingin murid-murid saya bernasib sama. Saya ingin mereka bersahabat dengan musik, instrumen musik, suasana panggung, dan apapun yang berhubungan dengan musik. Saya ingin mereka bahagia bermusik. Cukup sering saya mengirim pesan pada murid demikian : 'ingat untuk main musik dengan rileks dan senang ya!' Semoga saja.
(Kepincut Ratu Sari adalah singkatan dari Kelas Piano dalam Cuplikan Tulisan Seratus Hari. Tantangan bagi saya sendiri untuk membuat catatan berbagai aktivitas menarik di kelas piano. Catatan berlangsung selama 100 hari. Hari ini adalah hari ke 61.)


Comments
Post a Comment