KOPI SUSU DAN SHARING ANANDA SUKARLAN

Kopi susu dingin sungguh nikmat diminum siang hari. 

Aroma harum dan rasanya yang nikmat seakan menggoreskan perasaan damai dan pikiran yang positif. Paling tidak begitulah yang aku rasakan di suatu siang beberapa hari yang lalu di Ananda Sukarlan Center, ITC Fatmawati.
Aku dan beberapa teman berkumpul hendak membuat video sharing Ananda Sukarlan dalam kapasitasnya sebagai kepala divisi piano klasik Kita Anak Negeri. Kopi susu dingin yang ada di meja bundar di tengah-tengah kami seakan tersenyum menemani diskusi. Satu seruputan kecil kopi susu dingin menghilangkan suntuk akibat macetnya ibukota dan membuat kami semangat memulai aktivitas.  
Setelah menemukan sudut yang dirasa apik, rekaman dimulai. Ananda bergaya santai dengan kaus hitam dan jeans belel. Ia menyampaikan poin demi poin dengan sistematis dan lengkap. Ananda banyak membuat pengembangan spontan. Aku dan teman-teman berulang kali tersenyum. Banyak pesan mengena dengan perumpamaan sederhana namun tajam.
Sebagian kecil dari sharing Ananda yang aku sukai adalah bahwa siswa sekolah musik harus lebih memperhatikan penyampaian pesan lewat karya musik yang dimainkan dan bahwa sebagai orang Indonesia, siswa musik memiliki modal yang luar biasa (kunjungi Ananda Sukarlan untuk mendapatkan pandangan Ananda yang lain soal musik dan hal-hal lainnya)


EKSPRESI DAN KOMUNIKASI
Ananda mengatakan bahwa bermain musik bermakna lebih dalam dari sekadar memainkan not. Bermain musik adalah cara pemusik berkomunikasi dan mengekspresikan diri. “Makanya judul lagu itu penting,” tegas Ananda. Judul lagu memberikan gambaran bagi pemusik pesan dan ekspresi apa yang hendak disampaikan melalui lagu tersebut. Ananda mencontohkan lagu The Clarinetist and the Mouse Deer (salah satu karya Ananda di Alicia’s 6th Piano Book) . “Kancil itu kan lincah, jadi lagu itu mainnya nakal dan lincah,” jelasnya.
Ananda juga mengatakan bahwa di dalam bermusik, keliru memainkan not tentu saja mengurangi keindahan suatu lagu, namun keliru mengungkapkan isi dan pesan lagu berdampak jauh lebih fatal yaitu menghilangkan ekspresi dan pesan yang hendak disampaikan oleh lagu tersebut. Maka, dalam melatih suatu lagu, setelah mampu menguasai not, seorang siswa harus melatih penjiwaan lagu.
Terkait dengan hal tersebut, Ananda juga mengingatkan bahwa permainan musik diciptakan untuk ditampilkan di depan umum. Siswa tidak cukup hanya berlatih di dalam ruang kelas. Para siswa harus memiliki semangat untuk berbagi. Bahkan apabila siswa menjalani ujian, Ananda mengingatkan untuk mengelola perasaan takut atas nilai buruk yang mungkin bisa diterima dengan mengutamakan semangat berbagi tersebut.
Untuk mewujudkan niatan tersebut, Kita Anak Negeri memberikan berbagai kesempatan tampil kepada siswa divisi piano klasik. Ada beberapa program internal seperti repertoire class, recording lagu daerah Indonesia, ujian, dan internal concert. Selain itu juga ada konser di luar sekolah dengan format gabungan seperti band atau chamber music.       

Ananda Sukarlan di salah satu sesi rekaman 

KARAKTER PEMUSIK KHAS INDONESIA
“Indonesia berpotensi untuk menjadi yang terbaik di dunia!” jawab Ananda menanggapi pertanyaan soal prospek kualitas musik Indonesia dibandingkan dengan negara lain di dunia. Indonesia adalah negara yang sangat beruntung karena memiliki aneka produk budaya yang sungguh sangat kaya. Tidak hanya lagu dan alat musik khas daerah, Indonesia juga memiliki bahasa daerah yang beraneka ragam. “Musik itu lahirnya dari bahasa, jadi kalau ada banyak bahasa pasti potensi musiknya kaya sekali!” jelas Ananda.
Ananda mengatakan bahwa bangsa Indonesia, dengan kekayaan yang luar biasa, harus mampu mengolah material mentah menjadi barang jadi lalu mengekspornya ke luar negeri dan bukannya mengekspor barang mentah lalu mengimpor barang jadi dengan merk asing. Ia mencontohkan,“Meskipun berbahan mentah biji kopi Indonesia, kamu ga akan bisa beli ‘kopi tubruk’ di Jepang, Inggris, atau Amerika. Biji kopi Indonesia sudah diolah menjadi macchiato, espresso, atau cappuccino oleh mereka. Jadi itu bahan mentah punya kita, tapi diberi merk oleh mereka.”
Demikian juga dengan musik. Ananda berharap semakin banyak siswa musik yang mempunyai karakter kuat khas Indonesia. “Pemusik yang jago main Bach, Liszt, Beethoven sudah banyak. Zaman sekarang dibutuhkan pemusik yang memiliki kekhasan karakter,” ujarnya.
Kurikulum piano klasik di Kita Anak Negeri adalah gabungan antara standar musik internasional (yang mayoritas memainkan karya komposer Eropa) dan musik khas Indonesia seperti karya Ananda Sukarlan. Dengan begitu, siswa akan belajar menemukan kekhasan dirinya sendiri. Dengan mampu mengenali dan menghargai karya negeri sendiri, diharapkan siswa bisa menemukan karakternya sendiri sebagai pemusik.
 

Setelah semua agenda pembuatan video selesai, aku dan teman-teman berdiskusi dengan Ananda Sukarlan soal ide-ide pengembangan Kita Anak Negeri. Pikiran kami semua di ruangan itu sungguh positif dengan perasaan senang. Siang itu kami cukup produktif dengan ide-ide mengalir luar biasa hingga lupa waktu. “Wah, harusnya pesan kopinya dua gelas nih tadi!” canda Ananda.

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!