Imajinasikan Musikmu!

Ada orang tua murid bertanya pada saya dalam acara Repertoire Class Divisi Piano Klasik Kita Anak Negeri,'"Bagaimana cara mengatasi kebosanan pada murid?" Pertanyaan itu sering sekali muncul. Kondisi membosankan bahkan sepertinya sudah melekat sekali pada istilah 'piano klasik'. Wah, pasti ada hal signifikan yang keliru dalam proses belajar mengajar piano klasik. Hipotesa saya demikian : pemusik terjebak pada belajar not balok dan melupakan imajinasi.  



Tulisan ini saya buat tanpa menyebutkan istilah pengajar dan murid. Semua sama-sama seniman musik. Imajinasi pada musik menjadi tanggung jawab dan hak semua orang yang bermain musik. Bukan hanya guru atau orang tua murid saja. Semua.


Di dalam musik, peran not balok dan semua tanda baca sangat penting. Imajinasi juga bisa terbentuk maksimal setelah not dimainkan dengan fasih. Sebuah musik tentang perang misalnya, baru akan terasa ketegangannya setelah pemusik fasih memainkan not. Begitu juga dengan musik-musik lainnya. Pemusik WAJIB menguasai not dan segala tanda bacanya.


Setelah not balok dikuasai, pemusik bisa meneruskan tahap berikutnya yaitu membangun penjiwaan. Seperti membangun rumah, penguasaan not balok bisa diibaratkan membangun pondasi. Namun sayangnya pondasi belum utuh untuk dijadikan tempat tinggal. Butuh sebuah bangunan di atasnya untuk ditinggali. Bangunan itulah yang merupakan penjiwaan di dalam bermain musik. Bagi saya, membangun pondasi itu sulit dan penting sekali. Namun membangun rumah jauh lebih sulit.


Ananda Sukarlan pernah bilang bahwa musik adalah bentuk ekspresi dan komunikasi imajinasi pemusik. Kata-kata Ananda jelas sekali. Ananda bahkan tidak menyebut not balok, partitur, tanda ini dan itu. Ananda pernah bilang kalau musik klasik itu keren dan bisa menggambarkan perasaan dengan detil. Di dalam video sharing buatan Kita Anak Negeri berikut (di dalam link), Ananda Sukarlan memberi contoh beberapa musik sambil menceritakan imajinasi dan bukan not.

+++

Saya perhatikan masih banyak sekali pemusik yang mendewakan partitur not balok. Seakan not balok dan segala kelengkapan tanda bacanya adalah sumber tunggal kebenaran mutlak di dalam seni musik. Sejak menyentuh piano, pemusik langsung berfokus pada not. Demikian juga saat mempelajari musik baru. Pemusik biasanya langsung bertanya,"Main (not)-nya bagaimana?" Tidak sedikit juga pemusik yang menilai penampilan musisi hanya dari bersih tidaknya not yang dimainkan. 


Alhasil, belajar piano bisa didefinisikan sebagai belajar memainkan not balok. Bahkan lebih mengenaskan lagi, seakan ada kesimpulan demikian : musik sama dengan not balok. Saya sedih membayangkan sedemikian teknisnya musik piano itu. Pantas saja banyak pemusik yang bosan dengan musik.     


Di dunia yang asyik ini ada hal yang lebih tinggi derajatnya dari partitur not balok, yaitu imajinasi. Manusia dianugerahi pikiran dan perasaan yang bisa menciptakan gambar, film, cerita, suara, tari, sampai puisi. Partitur boleh saja memberitahu 'ini not apa', 'ini berapa ketuk', 'ini sambung atau putus', dan bla-bla-bla lainnya yang sungguh ribet dan teknis sekali. Namun jutaan pertimbangan teknis di dalam partitur tidak bisa membuat hati seseorang masuk ke dalam musik dan menikmati musik. Sebaliknya, cukup dibutuhkan satu imajinasi detil untuk bisa membuat hati seseorang luluh dan masuk ke dalam musik.   




Bahkan sering juga ditemukan masalah teknis yang pemecahannya hanya satu yaitu imajinasi. Contoh sederhana seperti menghitung ketukan birama tiga per empat (3/4). Untuk pemusik pemula, birama 3/4 itu sulit. Kebanyakan dari mereka lebih terbiasa dengan ketukan 4/4. Imajinasi pun bisa membantu sang pemusik pemula. Semisal dengan berdansa seperti mengikuti irama Waltz yang menggunakan birama 3/4. "Sekarang kita sedang berdansa di tengah pesta pernikahan puteri raja! Kamu mengenakan gaun putih yang anggun dan sepatu kaca. Kamu cantik dan lincah! Tu, wa, ga! Tu, wa, ga!" Bisa juga menari sambil menyanyikan musik yang hendak dimainkan. Imajinasi yang didukung gerak tubuh seperti itu terkadang justru lebih efektif ketimbang menggunakan definisi-definisi teknis yang njelimet dan membosankan.


Saya bukan anti dengan partitur not balok (toh nyatanya saya banyak mempelajari partitur not balok) dan saya juga bukan jenius yang bisa sight reading musik super sulit. Saya pun membutuhkan not dan mempelajari musik lewat media not. Namun bagi saya not bukan tujuan melainkan media perantara untuk mencapai imajinasi musik. Perjuangan menguasai musik yang sesungguhnya baru dimulai saat not sudah dikuasai, yaitu saat memasukkan aspek penjiwaan ke dalam musik untuk mewujudkan imajinasi yang sesungguhnya.


Saya sering menyampaikan pada pemusik cilik bahwa musik adalah lukisan imajinatif yang tak mengenal batas. Berimajinasi itu asyik dan membuat kita ketagihan. Jadi, mungkin bisa disimpulkan bahwa musik itu asyik. Sehingga kalau musik sampai membosankan, berarti ada sesuatu yang salah dengan cara kita bermusik (dan bukan musiknya yang membosankan). Saya sendiri memiliki beberapa cara untuk membangun imajinasi, seperti saat saya tiba-tiba harus terbang ke masa revolusi industri di Eropa...............................................

bersambung ke Imajinasikan (Lebih Dalam Lagi) Musikmu! (yang akan tayang pada Jumat, 2 November 2018)

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!