Pelangi Pelangi Ciptaan Tuhan

Pelangi pelangi / Alangkah indahmu / Merah kuning hijau / Di langit yang biru / Pelukismu agung / Siapa gerangan / Pelangi pelangi / Ciptaan Tuhan. 

Lagu Pelangi Pelangi ciptaan AT Mahmud ini menggambarkan bahwa pelangi - yang setiap kali muncul langsung mendorong orang merogoh henpon - sungguh indah luar biasa karena satu ciri khasnya, yaitu berwarna-warni. Ada banyak sekali macam warna pelangi. Kalau Pak AT Mahmud punya kesempatan lebih, pasti dia menaruh jenis warna yang lebih banyak.       

Pelangi menjadi indah justru karena perbedaan warnanya. Perasaan kagum muncul setiap kali melihat pelangi. Bahwa di langit yang seragam warnanya, muncul pelangi yang memiliki warna luar biasa beragam. Coba bayangkan, akan indahkah pelangi yang merah saja warnanya? Atau mungkin pelangi dengan variasi hanya pada gradasi warna, merah muda, merah darah, merah marun, merah semangka (kalau ada istilah itu), merah ini merah itu, tapi intinya semuanya merah. 


Kalau saya sih lebih suka warna-warni. Buat saya lebih baik hanya ada dua warna tapi berbeda ketimbang satu warna dengan gradasi berbeda. Ga asik! Semoga sampai kapanpun pelangi tetap akan berwarna-warni. Untungnya alam dan manusia sangat menghargai setiap warna yang ada di dalam pelangi, sehingga akan merasa rindu. Manusia pasti galau kalau pelangi muncul tanpa satu saja warna khasnya, kuning misalnya. Warna kuning pun senang karena merasa dicintai. Setiap warna punya peran memperindah pelangi sebagai kesatuan. Setiap warna adalah berharga.

Awal tahun 2018, malam hari, angin cukup kencang dan dingin. Saya sedang berjalan di lorong gereja untuk berlatih paduan suara. Ada pesan masuk dari Ananda Sukarlan. Beliau mengajak saya untuk mengajar piano di sekolah anak berkebutuhan khusus, Daya Pelita Kasih namanya. Detik itu juga, saya terbang ke hari Minggu satu minggu sebelumnya. Saya mendengar khotbah Romo Yulianus Puryanto SCJ,"Jadilah orang Katholik yang bermanfaat! Seratus persen Katholik, seratus persen Indonesia!" Saya membalas Ananda. "Saya mau, mas!"


Sebagai pengidap Tourette dan Asperger Syndrome (baca sharing beliau di sini : My article for the Autistic Spectrum Digest apps, Sept. 2014), Ananda Sukarlan ternyata sangat peduli pada pendidikan anak berkebutuhan khusus. Dia bahkan banyak menulis lagu yang dipersembahkan untuk pemusik berkebutuhan khusus (baca juga : Ananda Sukarlan, Autisme dan Difabel).

Di dunia pendidikan anak berkebutuhan khusus, saya melihat bahwa setiap warna dalam pelangi sangat dihargai. Sama sekali tidak ada usaha untuk memudarkan perbedaan warna dan menjadikan semua warna sama. Setiap warna dipelihara dan justru terus diasah supaya semakin terang, meskipun berbeda satu sama lain. 

Penghargaan atas perbedaan warna tersebut, secara teknis, membuat saya mengalami 45 menit sesi kelas yang selalu berbeda. Di Sekolah Daya Pelita Kasih (baca untuk lebih kenal : Daya Pelita Kasih), ada perbedaan warna yang terasa sekali saat saya menemui Jane sang seniman lukis yang suka suara piano, Daulat pianis yang suka sekali lagu klasik, Michael musisi dengan telinga super tajam, Steven pianis lincah dan ceria dengan teknik mumpuni, Githa yang suka lagu anak yang ceria, Banu yang power dan kemampuan baca not luar biasa detail, Deni yang punya ingatan satu juta buah lagu, Alfon yang suka lagu-lagu bernuansa ceria dan memiliki memori pendengaran sangat tajam, Vera yang langsung joget tiap dengar lagu K3, Abel yang suka sekali lagu dangdut, Ujaala yang ramah dan cerdas, Chika yang suka sekali bernyanyi di manapun dan kapanpun, Derry yang suka main piano sambil bernyanyi, dan beberapa pemusik muda lainnya yang mungkin belum sering saya temui.


Karena mereka memiliki warna yang berbeda satu sama lain, saya pun berkomunikasi dengan mereka menggunakan cara yang berbeda-beda. Setiap warna adalah unik dan sama baiknya. Semua pengajar dan orang tua murid menghargai warna yang ada dan tidak pernah memberikan penilaian apapun terhadap warna yang ada. Tidak ada yang menganggap warna tertentu lebih baik atau lebih buruk dari warna yang lain. Semua adalah berbeda dan di saat yang bersamaan semua adalah sama atau setara. 

Itulah pelangi yang sejati. Sungguh indah apabila pelangi bisa muncul tiap hari di seluruh dunia. Semua orang menghargai perbedaan warna. Semua warna saling menyayangi dan membutuhkan. Semua warna duduk bersama demi terciptanya pelangi yang, kata Pak AT Mahmud, agung penciptanya. 

Memang sungguh dahsyat pelukis pelangi itu. Pak AT Mahmud berusaha keras memuji dengan meletakkan nama pelukis pelangi di akhir lagu. Jadi kalau dinyanyikan lebih lambat atau ditahan panjang, namanya pun terdengar lebih jelas dan lama. "Pelangi pelangi, ciptaaaannn Tuuuhaaaaannnnn".

Comments

  1. Tidak banyak yang bisa menikmati pelangi dalam realitas individu yang berbeda-beda seperti ini. Mengalami nikmat, memerlukan rasa. Rasa yg indah, hanya dimungkinkan kalau seseorang terbuka melihat dan menerima apa yang ada tanpa menilai.

    Mas Inug telah menyaksikan, bahwa apa adanya ciptaan Tuhan seseungguhnya semua indah. Sungguh beruntung.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!