Saat Aku Menulis Skripsi

"Senin les jepang, selasa les musik, rabu les balet, dsb dsb tiap hari ngeles. Aku dengernya aja cape. Coba aja suru orang tuanya jalanin rutin yg sama kaya anaknya. Aku yakin pasti jadinya stress berat,"
(Julie Putra, dalam blog www.littletole.wordpress.com berjudul 'Virtuoso' - https://littletole.wordpress.com/2018/10/01/virtuoso/ )

Aku pengen sharing sedikit kenangan yang muncul di benakku waktu aku baca tulisan Julie Putra berjudul Virtuoso itu. Kenangan ini berasal dari sekitar sepuluh tahun yang lalu saat aku merampungkan studi psikologi di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Waktu itu aku mengambil judul penelitian Hubungan antara Tingkat Stres pada Anak dengan Jam Kursus di Luar Sekolah.

Kenapa aku mengambil judul penelitian itu? Alasannya sangat praktis, yaitu aku ingin membantu seorang muridku. Waktu itu aku kuliah sambil mengajar piano di sebuah sekolah musik yang kuning warna cat di dindingnya. Ada seorang murid, laki-laki, yang besar sekali rumahnya dan mahal mobilnya, selalu datang les dengan kondisi mengantuk. Pernah suatu kali dia tidak sengaja tertidur di piano. Aku membiarkannya. Kenapa? Karena aku tahu bahwa dia memang benar-benar kelelahan. 



Aku mengibaratkan dia seperti anak kecil dengan agenda sepadat presiden. Waktu itu masih Pak SBY presidennya. Tiada hari tanpa les (bahkan hari Sabtu dan Minggu pun diisi dengan les). Dan jangan bayangkan bahwa dia bisa pulang les pada sore hari untuk bermain di rumah, tidak! Dalam satu hari dia bisa ikut dua macam les dan baru selesai pada malam hari. Begitu terus setiap hari! Sebelum aku tahu kondisi ini, aku pernah menegurnya karena tidak berlatih piano di rumah. Namun setelah aku tahu kondisi ini, aku jadi merasa bingung harus bagaimana. 

Bagaimana mungkin dia bisa mencapai tingkat yang tinggi di bidang piano kalau dia tidak punya waktu untuk berlatih? Kalau menurut Ananda Sukarlan di video https://www.youtube.com/watch?v=GJs6Vpc4ez4  ini, seseorang yang belajar musik sebaiknya berfokus dan mencapai tingkat yang tinggi. Aku sangat sependapat dengan pandangan Ananda Sukarlan. Sebab kalau tidak berfokus dan tidak berkehendak untuk meningkatkan diri, ikut les itu hanya buang-buang uang, waktu, dan tenaga. Jauh lebih baik anak itu bermain bola di depan rumah sambil ujan-ujanan

Aku sangat sayang setiap muridku. Termasuk anak laki-laki yang satu ini. Selain baik, dia juga tampan. Ya terang aja begitu, wong ibunya cantik sekali. Aku ingin membantu dia dengan menunjukkan kepada orang tuanya bahwa keputusan mereka untuk mengikutkan anaknya les ini dan itu dengan jumlah yang ekstrim itu adalah salah besar! Tapi aku belum punya referensi yang kuat karena belum ada data yang bisa aku tunjukkan pada mereka. Okelah, aku buat saja penelitiannya. Jadilah itu judul skripsiku. 

Singkat cerita, skripsiku selesai dan korelasi antara variabel 'jumlah jam kursus di luar sekolah' dengan 'tingkat stres pada anak' bersifat negatif. Bahasa sederhananya 'tidak ada hubungan antara jumlah jam kursus di luar sekolah dengan tingkat stres pada anak. Lha kok bisa? Piye iki



Aku kesal dan marah. Aku yakin sekali bahwa anak-anak itu pasti stres! "Kalian pasti stres! Kalian HARUS stres bahwa kalian ikut les kebanyakan!" teriakku dalam hati. Aku marah karena aku pengen sekali menolong anak-anak dengan penelitian itu. Tapi kenapa hasil penelitiannya begini? Aku mencoba mencari tahu pelan-pelan. Jangan-jangan ada yang terlewat atau salah menghitung. Akhirnya aku temukan penyebabnya. Sungguh sangat sederhana. Tolol sekali bahwa aku tidak mengantisipasinya dari awal penelitian. Begokk! 

Untuk membuktikan bahwa anak-anak itu stres, aku menggunakan kuesioner berisi tanda-tanda bertambahnya tingkat stres. Contoh seperti malas sekolah, sering deg-degan, sering merasa marah atau sedih, kesulitan berfokus, dan hal-hal lainnya. Kalimat di kuesioner pun aku buat gamblang, seperti 'aku malas pergi ke sekolah'. Anak dipersilakan memilih salah satu dari empat pilihan 'sangat sering', 'sering', 'jarang', dan 'tidak pernah'. Mayoritas jawaban mengarah kepada tidak ada peningkatan tingkat stres pada anak meskipun anak tersebut memiliki jumlah jam kursus di luar sekolah fantastis! 

Lalu aku mengadakan wawancara singkat dengan tiap anak. Hasilnya sungguh berbeda dengan hasil kuesioner yang mereka jawab. "Aku capek. Pulang sekolah masih harus les lagi. Ganti baju dan makan di mobil. Pulang malem masih ngerjain PR," keluh salah satu murid yang jumlah jam kursusnya memang besar, namun bukan yang terbesar. 

Lha kok keluhan itu tidak muncul di kuesioner? Owalah, ternyata mereka takut bahwa kuesioner tersebut akan dibaca oleh guru dan disampaikan ke orang tua mereka. Oleh karena itu mereka cenderung berpura-pura tidak apa-apa. Ya ya ya. Huffff..... 

Aku sungguh menyayangkan hal tersebut meskipun di awal penelitian aku sudah bilang pada mereka bahwa aku tidak akan menyampaikan hasil kuesioner ke siapapun. Seharusnya dari awal aku tidak menggunakan metode penelitian kuesioner, melainkan wawancara! Goblok!   


Alhasil, setelah sidang skripsi selesai dan revisi kurampungkan, aku memfotokopi semua skripsiku dan memberikannya ke orang tua muridku tadi. Sekalian juga aku bisa bertemu ibunya yang cantik itu. Aku ceritakan semuanya kepada mereka. Saat itu respon mereka adalah sangat menerima masukan dan berkata bahwa mereka baru tahu bahwa anak mereka kelelahan. 

Aku tidak tahu apa langkah lanjutan dari orang tua si anak setelah itu. Karena persis setelah lulus, aku sudah berhenti mengajar piano dan bekerja di tempat lain. Semoga kamu baik-baik saja! Love you, nak

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!