Surga Itu Perkara Sehari-Hari
Belom lama ini, ada kegiatan kerja bakti di lingkungan rumah. Seorang bapak tetangga rumah datang membawa beberapa peralatan. Ia menunjuk sebuah rumah, berkata hendak membantu pemilik rumah membersihkan halaman. Ada keterangan tambahannya lagi. Katanya, kalau membantu saya, tidak memberikan dia jaminan masuk surga,"Kan Inug masih muda dan kuat. Kalo tetangga yang itu kan udah tua. Kalau mau cari surga ya bantu yang itu, bukan bantu Inug."
+++
Yah, saya paham mungkin sebelas dari sepuluh (whew!) pembaca tulisan ini kaget akan adanya pernyataan seperti itu. Saya mengada-ada? Tidak sama sekali. Saya pun kaget bahwa kegiatan kerja bakti dihubung-hubungkan dengan surga. Mungkin di surga ada kegiatan kerja bakti rutin. Entahlah. Belum pernah ke sana.
![]() |
| dailymail.co.uk/Alexandre Sattler |
Ada beberapa poin yang saya pikirkan dari pernyataan mengharukan tersebut, yaitu :
1. PERBUATAN BAIK DIHUBUNG-HUBUNGKAN DENGAN HADIAH
Sewaktu saya belajar psikologi dulu, saya sempat belajar Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow. Singkatnya, setiap perbuatan manusia dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan yang berada di tahapan bawah harus dipenuhi dahulu untuk kemudian termotivasi meraih tahapan berikutnya. Teori ini terkenal sekali. Semua orang tahu tahapannya.
Berdasarkan pernyataan tetangga saya tadi, saya mencoba untuk mencari tahu, kira-kira di tahap manakah dia berada. Perilakunya adalah 'membantu tetangga membersihkan halaman supaya bisa masuk surga', kurang lebih begitu. Setelah saya renungkan, perilaku tersebut berada di tahap kedua, yaitu perasaan aman. Dia cemas belum ada kepastian masuk surga. Dia membutuhkan kepastian itu, maka dia mencarinya.
Apabila melihat tahapan keseluruhan, betapa rendahnya motivasi tersebut. Hanya di tingkat dua dari lima tingkat. Hanya satu tingkat di atas kebutuhan akan makanan. Dia bahkan bukan melakukan perbuatan menolong itu untuk mendapatkan perasaan sayang dan penerimaan dari lingkungan (tahap ketiga) atau penghargaan dari pemilik rumah misalnya (tahap keempat). Paling tidak begitu menurut saya (sayang sekali saya membuat tulisan ini tanpa mengonfirmasi yang bersangkutan).
Memangnya bagaimana seharusnya motivasi kita saat menolong orang lain? Wah maaf saya bukan penceramah dan saya tidak suka menyuruh orang untuk menolong orang lain. Tapi sejauh yang saya ketahui, ya sederhana saja, kita menolong orang lain karena bahagia melakukannya (tahap kelima). Dan apabila kita bahagia melakukannya, kita akan berusaha mengembangkan diri sehingga bisa menolong lebih banyak lagi.
Sekadar info tambahan, bapak itu mungkin terlalu sibuk mencari pilihan tiket lain untuk ke surga sehingga tidak jadi (mungkin lupa) membersihkan halaman tetangga yang sudah tua pemiliknya itu.
2. SURGA ITU APA SIH?
Saya sungguh gatal ingin berpendapat sedikit. Ada juga pandangan psikologi yang mengatakan manusia sebaiknya hidup here and now atau 'di sini dan sekarang'. Pandangan ini mengajak manusia untuk memfokuskan diri pada apa yang dia lakukan saat ini di tempatnya berada. Pemikiran tersebut membantu manusia mengelola rasa cemas yang sudah pasti ada di dalam diri.
Menyambung soal surga-menyurga, saya lalu bertanya dalam hati, sebetulnya surga itu apa sih? Bukankah terlalu jauh kalau kita membayangkan surga sebagai suatu kondisi yang super nyaman saat kita mati nanti? Itu tidak salah. Namun bukankah kita bisa memikirkan hal yang lebih riil dan sederhana. Mari mencoba berpikir bahwa surga itu ada di dunia ini dan tugas manusia adalah saling menghadirkan surga satu sama lain.
Caranya bagaimana? Kalau mau bayar di kasir, antri. Buang sampah di tempat sampah. Naik motor pelan dan tertib. Kalau berbuat salah, minta maaf. Kalau kangen atau suka sama seseorang, bilang kangen atau suka dan bukannya bikin status. Kalau ada orang berbeda agama ya biarkan saja. Kalau ada anjing atau kucing tidak berbuat salah biarkan saja jangan disiksa. Kalau punya pekerja ya dikembangkan dan digaji sesuai haknya. Kalau punya janji ditepati.
![]() |
TRIBUNJOGJA.com | Hamim Tohari
|
Sungguh surga itu perkara sederhana. Surga itu adanya ya di sini dan sekarang (here and now). Di mana? Ya di sini, di hidup kita sehari-hari. Kapan? Ya sekarang, waktu kita masih hidup.
3. SEAKAN HENDAK MEMBELI TIKET UNTUK MASUK SURGA
Saya merasa bapak itu seakan mendikte pemilik surga : 'dengan-saya-berbuat-ini-maka-saya-mendapatkan-itu'. Saya bertanya dalam hati,"Kamu itu siapa kok berani-beraninya mendikte pemilik surga untuk menuliskan namamu?" Bagi saya, kalau mau berbuat baik ya berbuat baik sajalah.
Saya mencoba untuk memahami pikiran bapak itu. Mungkin sebenarnya dia adalah korban. Mungkin ada pihak yang memanfaatkan perasaan cemas beliau. Sebagai manusia biasa, saya rasa wajar apabila dia berpikir jauh soal kematian dan berhak pergi ke mana nantinya. Kasihan, dia pasti cemas sekali sampai merasa harus berusaha keras membeli tiket ke surga.
Belakangan ini sungguh banyak sekali orang berteriak-teriak berjualan surga. Seakan merekalah pemilik surga. Spanduk di pinggir jalan yang mengajak orang untuk berbuat amal pun menjanjikan surga. Saya bertanya dalam hati, apakah panitia amal tersebut punya koneksi langsung ke penguasa surga sehingga orang yang beramal bisa mendapatkan tiket langsungan ke surga? Hebat sekali. Atau jangan-jangan panitia amal itu sendirilah pemilik surga. Tapi kalau benar begitu, pemilik surga ada banyak sekali. Karena saya lihat hampir semua kegiatan amal menjanjikan surga. Padahal kegiatan-kegiatan tersebut berbeda panitianya.
Saya lalu berpikir, apabila ada orang yang menjual dan ada juga yang hendak membeli surga, berarti surga itu bisa diperjualbelikan. Sama seperti soto. Benarkah demikian? Menurut saya jelas tidak.
![]() |
| Salah satu halaman Esai Kebudayaan Mohammad Sobary. |




Comments
Post a Comment