Damn, I'm Still Alive!

Seorang temanku, Meicky Shoreamanis Panggabean, menuliskan status demikian di laman akun Facebook miliknya : 

"Besok itu Suicide Survivor Day : Sabtu, 17 November.
Siapa tau ada yg berminat bikin tulisan soal bunuh diri. Gue udah coba buat tapi gak bisa. Sedih banget pas baca artikel-artikelnya, gak bisa deh gue, senewen abis.
Lo bisa tulis soal kenapa mereka bunuh diri. Bunuh diri adalah cara untuk mati, bukan penyebab kematian itu sendiri.
Bisa juga lo tulis apa yang ada di pikiran mereka sebelum bunuh diri, coba cek wawancara-wawancara dengan survivors.
Semoga di tulisan lo gak ada pembahasan tentang "org tuh bunuh diri karena kurang iman. Deketin diri dong sama Tuhan. Ntar masuk neraka loh kalo bunuh diri..."
Haelah.
Orang tuh pada bunuh diri jangan-jangan karena orang kayak elo di dunia jumlahnya kebanyakan.
Kali. Nggak tau juga deh."
+++

Sebagai orang yang (maaf) pernah dua kali mencoba bunuh diri, aku merasa sebaiknya melibatkan diri. Sudah setengah hari aku mencari ide angle tulisan, tapi belum ketemu. Ya sudah, mengalir saja. 

Aku mengidap Bipolar Disorder. Tipe berapa aku lupa. Sejak pertama kali periksa ke psikiater, tahun 2011, aku banyak belajar teori soal Bipolar Disorder. Termasuk cara mengobatinya. Bertahun-tahun aku pelajari dan coba terapkan tapi belum menemukan senjata yang awet. Senjata yang ampuh banyak, tapi yang awet sedikit. Atau mungkin tidak ada. Akhirnya kutinggalkan semua pengobatan dan teori. Aku buat teori dan pengobatan untuk diri sendiri. Sukseskah? Entah ya. Tapi paling tidak aku masih hidup.

Kali pertama aku mencoba bunuh diri adalah sekitar tahun 2015. Usiaku 28 tahun saat itu. Saat itu pekerjaanku (menurut orang kebanyakan) sedang mencapai titik yang tinggi. Gaji besar. Jabatan mentereng. Perusahaan nasional raksasa. Hidupku sempurna. Eh, tunggu dulu! Sempurna?


Kali kedua aku mencoba bunuh diri di tahun 2016. Saat itu aku meninggalkan dunia kerja kantor dan mengajar musik di tempat kursus. Aku merasa bahwa atasanku galak. Aku takut. Suatu hari aku bangun kesiangan padahal ada acara guru yang harus kuikuti. Aku tahu aku pasti dimarahi. Aku mencoba bunuh diri. Dan gagal juga. 

Hingga saat ini, aku sering (kalau bukan dibilang 'selalu') memimpikan hidupku berakhir sesegera mungkin. Berbagai adegan sering kubayangkan. Namun sayang selalu saja tidak menjadi nyata. Aku memulai pagi setiap hari dengan membuka mata dan berteriak dalam hati "Sialan! Aku masih hidup!"



Sedih banget pas baca artikel-artikelnya,

Aku tidak pernah merasakan bahwa hidupku menyedihkan. Hidupku bukan menyedihkan melainkan hitam! Aku mengutuk kebahagiaan. Karena kebahagiaan adalah sumber datangnya kesedihan. Tidak akan ada gelap kalau tidak ada terang. Tidak akan ada kanan kalau tidak ada kiri. Demikian juga aku tidak akan merasa sedih kalau aku tidak pernah bahagia. Sesederhana itu. Aku merasa sedih karena aku pernah bahagia. Kalau selamanya aku sedih, maka aku tidak akan menganggap bahwa kondisi 'sedih' itu menyedihkan. 

Aku selalu merasa bahwa dunia ini diciptakan (atau terkondisikan?) bukan untuk aku. Aku tidak cocok hidup di dunia ini dengan semua aspeknya. Contoh sederhana saja, aku selalu ketakutan, gemetar, dan jantung berdegup keras saat melihat atau merasakan adanya konflik. Sekecil apapun itu. Coba sebutkan satu lokasi di dunia ini yang selamanya bebas konflik kecil sekalipun? Kalau tidak ada, berarti aku memang dilahirkan untuk hidup ketakutan dan gemetar kan? Bagus sekali. 

Aku sering memuji orang lain yang bisa cuek dan menjalani hidup dengan enteng. Hebat sekali mereka. Bersyukur sekali mereka bisa seperti itu. Tapi anehnya malah banyak yang bilang iri pada (mereka menyebutnya) kemampuan atau pencapaianku. 



Bicara soal kemampuan atau pencapaian, aku punya analogi yang sering sekali aku ceritakan pada orang lain. Ada seorang tentara tangguh. Kuat badannya, cerdas otaknya, dan mutakhir senjatanya. Sang Jenderal yang serba kuasa memintanya untuk berperang di mana-mana. Namun kaki tentara itu dia ikat dengan bola besi berukuran besar. Jangankan maju perang, berjalan mencari makan saja sulit. Hingga sang tentara kerap berteriak, "Lalu untuk apa kau berikan aku senjata-senjata ini, Jenderal Idiot?" Itu caraku me-misuhi Sang Jenderal. Karena aku berpikir bahwa lebih baik aku tidak punya senjata namun kakiku bebas. 

Beribu kemungkinan jawaban kuproduksi demi memuaskan rasa ingin tahu, seperti : 'ini supaya aku tidak sombong, karena kalau tidak dikekang, aku berpotensi jadi orang paling sombong di dunia ini' atau 'Jenderal Jahanam itu ingin aku berpikir lebih keras untuk bertahan hidup dan berperang, ini supaya aku bisa lebih kuat, berterima kasihlah padanya'. Semua kemungkinan jawaban yang kubuat terasa tolol.   

Aku merasa bahwa hubunganku dengan Jenderal Geblek itu sangat dekat. Sebab aku sering mempertanyakan kebijakan yang Jenderal buat. Hubunganku lebih dekat ketimbang orang lain yang berpakaian atau bergaya tertentu tapi tidak pernah mencoba menggali apa Jenderal pikirkan, apa rencana Jenderal, dan hanya jadi kambing congek. Aku yakin sekali ini benar.   



Catatan saja, aku tidak pernah memuji Sang Jenderal. Karena setiap kebaikan yang Jenderal buat memunculkan kebahagiaan. Dan masih ingat kan apa dampak kebahagiaan yang kutulis sebelumnya? Mungkin akan ada yang bilang bahwa seharusnya aku yang meningkatkan kemampuan mengontrol perasaan. Dalam hal ini aku menyalahkan Sang Jenderal Keparat. Seenaknya saja beri aku perasaan yang naik turun seperti roller coaster, pikiran yang selalu berjalan cepat seperti mesin, dan di saat yang bersamaan membuat aku memiliki pabrik korslet yang selalu refleks memproduksi sinyal perasaan negatif seperti sedih, marah, takut, kecewa, cemburu, dan jutaan lainnya. Tapi justru karena aku selalu mempertanyakan Sang Jenderal, aku merasa hubungan kami dekat. Jenderal sudah seperti kakak laki-laki yang selalu menemaniku. Tapi dasar brengsek, Jenderal itu juga yang membuat aku begini.

Ada hal yang unik soal hubunganku dengan Sang Jenderal. Semakin aku mempertanyakan kebijakan yang Jenderal buat, semakin hidupku susah. Pesan yang ingin disampaikan sepertinya : kamu manut saja dan jalani saja hidupmu. Setan! Mana bisa begitu? Kalau memang maunya begitu, kenapa aku diberi pikiran yang selalu berjalan cepat? Goblok!

Dalam hal ini terlihat sekali bahwa aku memerankan diri sebagai korban. Bahwa ada pelaku yang membuat hidupku begini. Ya, itu benar. Aku sudah lelah menyalahkan diri sendiri.     


apa yang ada di pikiran mereka sebelum bunuh diri

Aku tahu bahwa hal yang paling ditakutkan manusia adalah hal yang belum diketahuinya. (Mungkin itu sebabnya, sebelum masuk ke ruangan untuk diperiksa soal kasus hoaks Tante Ratna Sarumpaet, Pak Amien Rais teriak-teriak minta Pak Tito dicopot dari Kapolri. Dia belum tahu apa yang akan terjadi kalau dia masuk ruang pemeriksaan. Jebul ga ono opo-opo, ndesss... buahahaha...) Makanya aku pun ada perasaan takut karena belum tahu kondisi apa yang akan aku alami kalau aku bunuh diri. 

Namun, ketakutanku untuk menjalani hidup rasanya lebih besar daripada ketakutanku menghadapi dunia entah-apa-itu-nanti. Peganganku cuma satu, toh katanya Tuhan itu sayang sama kita, jadi ya nanti pasti amanlah (ya, lagi-lagi aku menyalahkan atau mengandalkan pihak lain atas kondisi yang aku alami). 

aku 1 : Apakah kamu memikirkan Bapak Ibumu sebelum mengeksekusi diri sendiri? 
aku 2 : Tentu saja. 
aku 1 : Tapi tetap coba bunuh diri? 
aku 2 : Iya. 
aku 1 : Kamu ga sayang Bapak Ibumu? Kamu ga tahu gimana perasaan mereka nanti! 
aku 2 : Kamu itu yang ga tahu rasanya jadi aku! 

Saat aku merasa ketakutan akan suatu hal (yang mana pikiranku tahu sepenuhnya bahwa itu ilusi) pikiranku menjadi gelap dan logika sama sekali tidak bisa terpakai. Hanya ada satu pilihan dan bukannya dua, flight! Hal itu selalu terjadi hingga saat ini, mungkin sampai aku mati nanti. Saat aku merasa takut akan seorang murid, aku berharap bahwa kelas akan dibatalkan dengan alasan apapun. Aku bisa memegang ponsel sehari penuh berharap ada berita kelas batal.  

Saat aku menjadi gelap, aku sama sekali tidak menyukai pilihan fight karena aku ketakutan. Sekecil apapun masalahnya menurut orang luar, bagiku bisa jadi bom nuklir yang berpotensi menyakitiku habis-habisan. Aku selalu ketakutan. Aku dilahirkan untuk merasa ketakutan. 

Padahal aku tahu bahwa 99% hal yang aku takutkan sama sekali tidak menjadi nyata. Sisanya, 1%, benar terjadi namun dengan dampak kerusakan yang jauh lebih kecil. Sekali lagi aku sampaikan : saat aku 'gelap', pikiranku mampet dan hanya ada satu pilihan yang aku mau ambil, yaitu flight!   


Orang tuh pada bunuh diri jangan-jangan karena orang kayak elo di dunia jumlahnya kebanyakan.

Aku benci merasa nyaman saat aku berada di sekeliling orang yang paham kondisiku. Kenapa? Karena itu terlalu nyaman. Dan konsekuensi atas merasakan kondisi nyaman hanya satu, yaitu masuk ke kondisi mengerikan yang tentu tidak nyaman. Andai tidak ada orang-orang yang memahamiku, aku tidak perlu merasa nyaman. Dan apabila aku tidak merasa nyaman, aku tidak perlu menyebut kondisi tidak nyamanku sebagai 'tidak nyaman'.

Tapi apabila aku selalu merasa tidak nyaman, mungkin saat ini aku sudah tidak bernyawa. Sial, bagaimana ini? 

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!