Sepucuk Salam dari Orang Dengan Bipolar
Hari ini aku kembali turun ke fase depresi. Melelahkan. Jauh dari produktif. Paling tidak definisi 'produktif' versi manusia pada umumnya. Karena bagi kami, saat sedang berada pada fase depresi, 'produktif' mengandung makna menjaga diri untuk (kalau mampu) tetap berangkat kerja. Kalau itu sulit, paling tidak untuk tetap makan dan mandi. Kalau itu juga sulit, 'produktif' bagi kami adalah tetap hidup.
Yap, salam kenal semuanya! Aku Inug dan aku ODB (Orang Dengan Bipolar). Pertama kali aku tahu soal Bipolar Disorder adalah saat aku secara tidak sengaja membaca kolom kesehatan koran ekonomi sekitar tahun 2011. Kolom itu bercerita soal apa itu Bipolar Disorder dan semua gejalanya. Merasa mirip, aku langsung mencoba berbuat sesuatu. Mulai dari menemui psikiater, hipnoterapis, komunitas, dan psikolog. Perjalanan panjang yang melelahkan bagiku, tapi tidak bagi orang tuaku. Mereka tidak pernah lelah.
Yap, salam kenal semuanya! Aku Inug dan aku ODB (Orang Dengan Bipolar). Pertama kali aku tahu soal Bipolar Disorder adalah saat aku secara tidak sengaja membaca kolom kesehatan koran ekonomi sekitar tahun 2011. Kolom itu bercerita soal apa itu Bipolar Disorder dan semua gejalanya. Merasa mirip, aku langsung mencoba berbuat sesuatu. Mulai dari menemui psikiater, hipnoterapis, komunitas, dan psikolog. Perjalanan panjang yang melelahkan bagiku, tapi tidak bagi orang tuaku. Mereka tidak pernah lelah.
Di titik ini aku mencoba melihat kembali ke belakang. Sebentar saja tidak perlu berlama-lama. Sungguh berbeda aku saat ini dengan dulu. Paling tidak aku bisa tetap berangkat kerja saat terjun di fase depresi. Berbeda sekali dengan dulu. Orang tuaku harus pergi jauh-jauh dari rumah di Depok ke kosku di Grogol hanya untuk membangunkanku dan mendorongku berangkat kerja.
Aku jadi ingat aku pernah menulis di buku kenangan saat lulus kuliah Sarjana Psikologi 2010 yang lalu. Saat itu aku belum tahu ada apa dengan diriku. Kurang lebih isinya soal kacamata hitam. Aku terdorong untuk menuliskannya kembali. Bukan sama persis, melainkan mirip. Ya soal kacamata hitam juga. Demikian yang hendak aku tulis :
+++
Sudah lama aku berjalan di tanah setapak ini. Cukup lebar. Lima orang dewasa berjejer masih cukup. Sepertinya sejak lahir aku berjalan di sini. Jalan yang entah di mana ujungnya. Aku berjalan sendiri. Orang tuaku di depan sana.
Pemandangan di kiri kanan cukup indah katanya. Pepohonan, gunung, sungai, sawah, awan biru, waduk, sekolah di kampung-kampung, rumah penduduk dengan halaman luas, lapangan badminton beralas tanah, gedung serbaguna yang sudah ngelothok catnya, rel kereta api dan tiang penutupnya, warung makan, pasar tradisional, hingga rumah ibadah.
Namun ada yang aneh dengan pemandangan di sekitarku selama ini. Bukan, bukan sejak awal. Melainkan sekitar tahun ke sepuluh perjalananku (saat itu aku sudah berjalan selama dua puluh tahun lebih). Pemandangan di sekitarku semua gelap. Hitam, pekat, dan jelek sekali bentuknya. Pepohonan terlihat hitam warnanya dengan dahan berputar-putar seperti gasing seakan hendak mengayun menyabet putus leherku. Sebuah gedung serbaguna berwarna pekat sekali, gelap. Entah bagaimana bangunan gemuk tolol itu melompat-lompat semakin dekat hendak menimpaku. Ada juga sawah yang penuh dengan warna hitam bukannya hijau, dengan tanam-tanaman berbisa mengejar dan menggigitku.
Aku bukan orang bodoh. Jelek-jelek begini aku juga pernah sekolah dan membaca. Jadi aku tahu bahwa dahan pohon tidak bisa mengayun seperti gasing. Gedung serbaguna tidak bisa melompat-lompat. Tanaman di sawah juga tidak bisa mengejar dan menggigit. Aku tahu semua itu. Tapi aku tetap melihat semuanya itu dan yang paling mengerikan : aku selalu merasa takut dibuatnya. Aku tahu bahwa semua pemandangan mengerikan itu hanya ilusi. Tapi aku ketakutan karena tetap melihatnya. Sekali lagi : aku tahu bahwa itu semua ilusi, aku tahu dan aku sadar. Tapi aku ketakutan karena aku tetap melihatnya. Ulang : aku ketakutan karena aku tetap melihatnya.
Hingga suatu saat, masih dalam perjalanan yang sama, seseorang memberiku kertas koran. Hanya potongan kertas koran hari itu. Koran soal uang. Peduli apa aku soal uang? Lebih baik membaca yang lain. Oh, ada kolom gaya hidup. Topiknya soal benda bernama kacamata yang berwarna hitam. Dia bilang pemakainya akan melihat segala-galanya menjadi berwarna hitam. Gedung putih jadi terlihat berwarna hitam dan hendak menyerang. Pohon hijau terlihat hitam berputar-putar hendak memotong leher orang di sekitarnya. Tanaman di sawah juga terlihat gelap dan berbisa. Sebentar, jangan-jangan........
Koran kubuang. Aku berlari ke orang tuaku. Aku bertanya kepada mereka apakah aku mengenakan kacamata hitam? Mereka bilang tidak tahu. Mereka juga belum pernah melihat benda bernama kacamata hitam itu. Maklumlah kami orang desa. Kacamata hitam itu mainan orang sarjana bermobil di kota sana. Mana tahu kami soal kacamata hitam.
Bapak Ibuku langsung menggendongku setelah kubilang bahwa selama ini aku ketakutan melihat pemandangan sekeliling hingga pernah berniat melompat ke sungai penuh duri tajam. Padahal tubuhku berat sekali. Aku lihat Bapak Ibu berkeringat dan lutut kakinya gemetar. Mereka tak peduli. Aku merasa sungkan namun aku takut kalau berjalan sendiri. Kubiarkan mereka menggendongku. Aku merasa butuh kembali digendong seperti dulu. Bapak Ibu bilang akan membawaku ke kota.
Seorang sarjana di kota bilang bahwa aku mengenakan kacamata hitam. Kacamata hitam itu sudah ada sejak aku masih di kandungan ibu katanya. Dia juga bilang bahwa kacamata hitam itulah yang bikin aku melihat segalanya berwarna hitam dan seakan hendak menyerangku. Dia bilang pemandangan itu berwarna-warni, bukan melulu hitam. Pemandangan itu diam, bukan bergerak menyerang.
Aku berterima kasih padanya. Senang bahwa aku menemukan akar masalahku selama ini. Aku tersenyum dan tertawa. Minta padanya untuk melepaskan kacamata tolol itu. Dia bilang tidak bisa.
Kacamata hitam jenis ini bukan untuk dilepas, katanya. Kamu akan mengenakannya sampai mati, katanya. Kamu harus belajar untuk menyesuaikan diri dengan kacamata ini, katanya. Kamu harus ingat bahwa pemandangan di sekelilingmu itu berwarna-warni, katanya. Kamu harus ini itu ini itu ini itu ini itu, katanya. Sialan, kataku.




Nice share, Kak Inug..
ReplyDelete