[Bipolar dan Aku] Aku Selalu Pengen Jadi Kucing Liar

Makasih banyak untuk temenku, kak Meicky yang nyaranin untuk bikin tulisan berseri soal Aku dan Bipolar Disorder. Aku mengidap suatu gangguan psikis namanya Bipolar Disorder. Aku pernah ngerasa beda dari teman-temanku tanpa tahu apa yang terjadi. Aku pernah ketakutan sampe banjir keringet di tempat keramaian tanpa tahu sebabnya. Banyak sekali hal yang terjadi di hidupku hingga aku yakin bahwa Bipolar Disorder bukanlah hal yang asyik buat siapapun.

Aku berniat bikin tulisan berseri soal perjalananku berdampingan dengan Si Hitam Besar. Semangatnya adalah nunjukkin perspektif baru untuk pembaca yang enggak ngalamin gangguan psikis dan juga berbagi semangat untuk para penderita gangguan psikis dan para pendampingnya. Enggak usah muluk-muluk cukup 'bertahan hidup'. Kalau sudah bisa bertahan hidup, mari kita saling menerangi.

Inilah Serial Bipolarku ; 'Bipolar dan Aku'.


sumber : https://www.kompasiana.com/rudiye/5aeaf49cf133442ef868f012/melawan-terorisme-dengan-falsafah-urip-iku-urup

+++

Aku mau mulai Serial Bipolar ini dari pengalaman (mungkin lebih tepatnya : petualangan) berpindah tempat kerja. Pernah bertahan cuma dua bulan dan rekor paling lama satu tahun. Menurut banyak psikiater, pindah-pindah tempat kerja adalah hal yang sering terjadi pada pengidap Bipolar Disorder. Sejak tahun 2012 sampai 2016 aku kerja kantoran dan selalu pindah-pindah.

Aku baru nemu jenis pekerjaan yang tepat di usia 29 tahun yaitu ngajar musik. Aku bisa nyaman kerja dengan mood yang lebih stabil (bukan sempurna 'stabil' melainkan 'cenderung stabil' karena masih terus naik turun). Di usia itu aku memulai dari nol lagi. Pendapatanku baru cukup untuk hidup sehari-hari. Setahun kemudian, di awal 2018, berkat kepercayaan dan kesempatan dari seorang besar di dunia musik klasik Indonesia, Ananda Sukarlan, pekerjaanku bisa bertambah luas dan baru deh bisa mulai nabung. 

Aku megang ijazah Sarjana Psikologi dan Magister Manajemen. Saat berpindah-pindah tempat kerja, aku beruntung selalu mendapat posisi dan pendapatan yang lebih tinggi. Namun ternyata bukan itu yang membuat aku nyaman dengan pekerjaanku. Aku terus berpindah kerjaan. Kayak nyari sesuatu yang aku sendiri enggak tahu apa. Setelah dilakoni, baru ketahuan ternyata aku butuh beberapa hal yang cukup signifikan berbeda dengan karakter kerja kantoran. 

(Oya, aku bukan mau menjelekkan pekerjaan kantoran lho ya... Aku cuma merasa bahwa aku lebih cocok di jenis pekerjaan lain. Jujur aja aku selalu salut sama orang lain yang bisa tahan dan bahkan berkembang hebat dengan kerja kantoran.)  


sumber : https://www.drugs.com/health-guide/bipolar-disorder-manic-depressive-illness-or-manic-depression.html

Lu Lagi Lu Lagi 
Waktu aku kerja kantoran, aku ngerasa hidup kayak robot. Aktivitas setiap hari selalu sama. Bangun pagi, mandi, berangkat kerja ; duduk di kursi yang sama, kerja di meja yang sama ; ketemu orang yang sama di ruangan yang sama pada jam yang sama. Aku juga pernah kerja di meja kubikal. Pandanganku jadi terbatas banget. Sungguh terkungkung rasanya. Enggak bisa 'bergerak'.

Aku ngerasa takut kalau ketemu orang yang sama setiap hari. Aku ngerasa makin lama mereka makin tahu kekurangan dan kejelekanku. Aku takut orang lain jadi benci dan ninggalin aku. Rasanya lebih baik untuk enggak terlalu dekat (atau ketemu terlalu sering) dengan orang lain yang penting hubungan dan kerja sama beres. Aku lebih nyaman kayak gitu karena kemungkinan untuk kejelekanku kelihatan jadi lebih kecil.

Kondisi mood ku itu mirip kayak lalu lintas kota Jakarta, enggak bisa ketebak. Pas lagi baik-baik aja bisa mendadak jadi 'gelap'. Kalo aku punya cukup jarak dengan orang lain, aku jadi lebih bisa mengendalikan diri dan enggak terpaksa kelihatan 'gelap'-nya. 

Aku sering ngeliat kucing liar-kucing liar di depan rumah dan ngerasa hidup mereka jauh lebih indah. Rasanya pengen sekali bisa jadi kayak kucing liar, bisa bebas bergerak dan berkreasi. Kehidupan kucing liar tidak seperti robot ; aktivitas setiap harinya selalu berbeda. Datang ke lokasi berbeda dan bertemu hal yang berbeda.

Nah, sekarang aku kerja ngajar musik dengan lokasi kerja dan murid yang berbeda di setiap harinya. Aku jadi bisa ngatur waktu hidupku sesuai kebutuhan dan kondisi mood. Aku bergerak ke lokasi yang berbeda setiap hari ; di waktu yang berbeda dan bertemu orang yang berbeda dengan kegiatan yang juga berbeda.


sumber : https://www.nimh.nih.gov/health/publications/bipolar-disorder/index.shtml

Otot, Ayo! Otak, Ayo! 
Aku ngefans berat sama beberapa orang hebat yang menurutku bisa kerja otot dan otak. Maksudnya ngonsep jago, kerja lapangan jago. Idang Rasjidi misalnya. Pianis jazz jagoan. Aku pernah beberapa kali nonton konser dan sharing session yang dia bawain sendiriDemikian juga dengan Ananda Sukarlan, Addie MS, dan David Foster misalnya. Aku selalu pengen bisa berkarya yang kayak gitu. 


sumber : https://negerilaskarpelangi.com/2017/05/17/idang-rasjidi-kenalkan-jazz-dari-kampung-ke-kampung/


Nah dengan pekerjaanku yang sekarang, aku bisa ngedapetin dua-duanya. Aku bisa ngerancang agenda setahun ke depan ; mengevaluasi sistem pembelajaran yang udah ada ; ngembangin sistem, dan lain-lain deh. Aku juga berhadapan dengan customer langsung dan jadi ujung tombak. Jadi playmaker di tim sepak bola itu asyik, tapi lebih asyik lagi kalo juga bisa jadi striker dan ikut nyetak gol!      


Obah Mamah
Obah Mamah itu peribahasa Jawa yang artinya kalau ada usaha (obah = gerak), pasti akan dapat rezeki (mamah = aktivitas makan) Aku tuh labil. Kadang aku bisa punya tenaga dan fokus meluap, kadang kehabisan tenaga tanpa ada pemicu apapun.

Nah dengan jenis pekerjaanku yang sekarang, kalau pas sumber daya terbatas (mood lagi jelek misalnya), aku bisa mengatur ulang jadwal dengan murid atau paling enggak aku bisa menyiasati dengan mencari bahan ajar yang lebih ringan.

Aku mendapat bayaran hanya saat aku berangkat ngajar. Itu bikin aku terpacu untuk tetap bergerak saat mood sedang terjun bebas. Gampangannya, aku tinggal mikir gini : 'kalau besok mau makan, sekarang berangkat kerja!'

Satu lagi, aku bisa ngatur sendiri mana aktivitas untuk bayar tagihan, mana aktivitas untuk seneng-seneng, mana aktivitas untuk kegiatan sosial.


Gerak! Gerak! Gerak! 
Ada dua orang yang prinsip kerjanya bikin aku tergugah banget. Prinsip kerja pertama dari Bapakku. Dia bilang gini : kalau ada orang minta A dan B ke kamu, usahakan kasih dia A, B, C, dan D. Maksudnya jelas, kita harus berusaha untuk tidak hanya memenuhi target tapi juga melampauinya.

Prinsip kerja kedua dari salah satu Redaktur waktu aku kerja wartawan di Yogya. Dia bilang sambil merendah, "Aku enggak istimewa, Nug. Makanya aku dateng lebih pagi, baca lebih banyak, nulis lebih detail, dan pulang lebih akhir demi bertahan di sini." Beliau enggak pernah merasa aman dan mendorong diri untuk selalu berkembang.

Zaman sekarang rasanya semakin sulit untuk bilang bahwa 'masa depanku udah pasti dan aman'. Karena perubahan berjalan makin cepat. Ini bikin semua pekerja senam jantung. Nah, beruntung aku jadi freelancer karena terkondisikan untuk terus mengembangkan diri.

Freelancer enggak punya job desc yang kaku. Semua peluang yang ada akhirnya diambil demi mengembangkan diri. Konon katanya, kreatif itu bunyinya mirip dengan kata 'kere aktif'. Kere itu panggilan kasar untuk orang yang miskin atau kekurangan. Jadi kalau merasa diri kere, ya harus aktif.

sumber : https://propakistani.pk/2018/12/27/heres-how-you-can-earn-10000-per-month-in-pakistan-via-freelancing/

Aku keinget satu surat yang pernah kukirim ke Ananda Sukarlan. Waktu itu aku minta bantuan informasi dari beliau kalo-kalo ada kerjaan yang bisa aku tempati :

Sebetulnya saya hanya ingin minta tolong informasi seandainya ada pekerjaan yang bisa saya lamar. Tapi saya ingin menyampaikan kondisi saya dalam bekerja selama ini karena saya tidak mau mas Ananda membantu saya tanpa tahu sisi buruk saya.

Lulus kuliah, saya selalu berpindah-pindah pekerjaan karena merasa takut dan merasa tidak mampu mengerjakan tugas yang diberikan. Di beberapa tempat kerja, saya sering merasa takut akan pekerjaan dan orang-orang berwenang yang harus saya hadapi. Saya paham bahwa ketakutan itu ilusi dan tidak nyata. Namun logika saya seakan tenggelam hingga saya pernah melakukan usaha bunuh diri.  

Pagi ini saya mendapat pemikiran untuk menghubungi mas Ananda dan memohon informasi apabila ada pekerjaan yang bisa saya lamar. Seandainya tidak merepotkan dan apabila memang ada, mohon bantuan mas Ananda untuk menyampaikan informasi pekerjaan yang bisa saya lamar.

Terima kasih banyak atas perhatian mas Ananda.

Salam hormat,

Anugerah (Inug)         


sumber : https://rebelwalls.com/uk/wall-murals/categories/nature/ocean/sunrise

Awalnya aku ragu banget mau ngontak beliau atau enggak. Sungguh bersyukur entah bagaimana ternyata satu surat itu membuka banyak jalan. Yah, sesuai harapan, mungkin sekarang (dalam beberapa hal) aku bisa mirip kayak kucing liar ya. Aku bisa ketemu hal-hal berbeda setiap harinya. Enggak harus di tempat dan waktu yang sama. Aku juga bisa ngatur ritme hidupku sendiri. Aku mensyukurinya. Sangat mensyukurinya.

Beruntung sekali aku menjadi aku. Hidupku berwarna-warni. Kayak kucing liar.

Miauwwww.......   

Comments

  1. Menginspirasi, menyentuh, menggugah, dan menambah wawasan. Thanks @inug
    Salam -- indria salim

    ReplyDelete
  2. Menginspirasi, menyentuh, menggugah, dan menambah wawasan. Thanks @inug
    Salam -- indria salim

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!