Kita Pasti Bisa Menang!

Besok, Senin 3 Desember, adalah Hari Penyandang Disabilitas Internasional. Saya langsung teringat mas Angga, seorang sahabat lama dari Semarang. Laki-laki unik dan tangguh yang bekerja di sebuah NGO dari Belanda. Saya lupa tepatnya kondisi apa yang terjadi, namun salah satu kakinya tumbuh tidak sempurna sehingga dia berjalan miring dan pincang.

Cukup lama kami tinggal bersama di sebuah rumah kos sehingga sering berbagi pengalaman hidup dan sikap. Saya sangat kagum pada keteguhan hati mas Angga. Dia menolak untuk dikasihani dan bersikap keras pada diri sendiri.

Setiap kali kita hendak pergi bersama, dia selalu turun duluan dari lantai dua. Selalu demikian, tidak pernah tidak. Mungkin dia tidak mau membuat orang lain menunggu karena dia butuh waktu lebih lama untuk berjalan.

Ada kalanya kami membahas atau mengalami hal-hal yang mengharukan atau menyentuh hati. Di saat demikian, dia selalu mengalihkan pembicaraan ke hal yang lucu atau serius. Dia sama sekali tidak mau terbawa perasaan haru atau sedih. Saya mencoba membayangkan kenapa dia bersikap demikian. Mungkin karena sepanjang hidupnya, sejak masih kecil, dia selalu berjuang untuk mengalahkan diri sendiri, mulai dari kesedihan dan ketakutannya. Mungkin karena itu, dia terbentuk untuk selalu berpikir logis dan menolak untuk secara berlebihan hanyut dalam perasaan.



Mas Angga sering sekali menertawakan kondisi yang dia alami, apapun itu. Dalam situasi penuh tekanan secara finansial, misalnya. Dia lebih memilih untuk menertawakan kondisi. Apabila sudah lebih tenang dia akan menyendiri dan berpikir untuk mencari solusi. Jarang sekali saya melihat dia bersedih lalu memilih untuk tidak berbuat apa-apa. Dengan hati yang keras dan perasaan tanggung jawab sebagai seorang suami dan bapak, dia selalu berusaha mengatasi diri sendiri.

Dia adalah seorang pemimpin keluarga yang istimewa. Saya pernah suatu kali berkunjung ke rumahnya. Saya kaget bahwa ternyata kondisinya menjadi bahan obrolan yang menyenangkan antara dia, istri, dan anak-anaknya. Ternyata semua saling membahas apapun yang dialami. Saat waktu keluarga berkumpul, semua 'hadir' secara penuh, bukan hanya fisiknya saja. Semua berbicara terbuka, bercanda, dan menertawakan banyak hal. Tidak akan ada orang yang bisa mendeteksi bahwa mereka adalah keluarga dengan kondisi finansial terbatas. Sama sekali tidak ada hal yang ditutupi saat kumpul keluarga. Dia mampu berperan sebagai kepala keluarga sekaligus sahabat bagi anak-anaknya. Salut!



Di mata saya, mas Angga sangat istimewa karena keteguhan hatinya. Dia menyadari kondisinya yang tidak sempurna dan memilih untuk mengatasi diri sendiri. Tanpa dia sadari, dia sudah menjadi idola yang perlu ditiru. Saya banyak belajar dari keteguhan hatinya yang menolak untuk kalah atas keadaan.

Keterbatasan fisiknya justru membuat dia memiliki kepribadian yang jauh lebih istimewa dari orang biasa seusianya. Meskipun belum pernah terucap, tapi saya yakin dia bersyukur atas keadaan yang dia alami. Mungkin apabila dilahirkan kembali pun dia ingin menjadi dirinya kembali.

Saya jadi ingat saat Presiden Jokowi bersama Bulan Karunia (atlit panahan penyandang disabilitas) dan atlit panahan Abdul Hamid memanah huruf D, I, dan S dari disability. Ini link videonya. Mungkin sama seperti itu, mas Angga pun sudah mengalahkan DIS dan menyulap diri menjadi lebih berkemampuan.




Saya yakin ada banyak sekali penyandang disabilitas yang memiliki kepribadian istimewa seperti dia. Saya ingin belajar banyak dari mereka. Belajar untuk menang atas diri sendiri.

Siapa yang tidak tersentuh melihat adegan Bulan Karunia mendatangi Presiden Jokowi? Siapa yang tidak bangga atas pencapaian Bulan Karunia? Bulan Karunia yang mau tampil di depan ribuan orang dengan cantik dan gagah duduk di kursi roda. Dia sudah bisa menerima dirinya sendiri. Dia sudah bisa mengalahkan ketakutan dan kecemasan dirinya.

Kalau mereka bisa, kita juga pasti bisa!


Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!