Opera Laki Laki Sejati : Pesan Si 'Manusia'

Sehari-hari, saya bekerja sebagai pengajar piano. Suka nonton konser dan kenal beberapa orang pianis. Cukup lama bergaul dan mengenal beberapa orang pianis, saya membuat pengelompokkan berdasarkan tingkat kemanusiaannya. Ada tiga, yaitu mesin, seniman, dan manusia. Entah apakah sebenarnya 'kemanusiaan' seorang pianis bisa dibuat tingkatan. Saya memang sedang iseng saja.

Tiga kelompok ini tidak berhubungan dengan skill. Pianis yang cuma bisa main lagu sederhana pun bisa berada di tahap ketiga. Juga sebaliknya. Tahapan-tahapan itu tidak lepas satu sama lain. Artinya, seorang pianis pasti memiliki ciri tiga tahapan tersebut dengan salah satu bersifat lebih dominan.


Apa tujuan berpikir tentang tahapan itu? Tidak ada. Itu cuma ungkapan rasa kesal sekaligus kagum. Sering merasa resah pada Mesin yang merasa dirinya tahu banyak hal, kagum pada Seniman yang rutin berkarya dan memperkaya dunia seni, dan salut pada Manusia. Judulnya sih 'Manusia' dan terkesan paling natural. Semua pianis pasti manusia. Tapi manusia yang manusiawi makin jarang, kan?

Dalam hal ini, saya yakin Ananda Sukarlan dominan di tahap ketiga, yaitu manusia. Kenapa bisa yakin? Begini ceritanya...


Berbagi Panggung 

Hari Minggu, 17 Februari 2019, saya datang ke pertunjukan opera karya Ananda Sukarlan di Soehanna Hall, The Energy Building, SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan berjudul Laki-Laki Sejati. Opera dibuat berdasarkan cerpen karya Putu Wijaya. Hasil penjualan tiket sepenuhnya (sekali lagi : sepenuhnya!) disumbangkan untuk yayasan sosial, yaitu Yayasan Musik Sastra Indonesia (YMSI) dan Yayasan Kemah Kasih. Keren sekali, bukan?

Tidak cuma itu, Ananda juga berbagi panggung. Ananda ternyata mengajak beberapa anak SD, yang adalah siswa YMSI juga, untuk tampil membawakan musik daerah Nusa Tenggara Timur, Anak Kambing Saya dan musik daerah Sumatera Barat, Kampuang Nan Jauah di Mato. Mereka memainkan violin di hadapan ratusan penonton. Kalo bukan karena inisiatif Ananda Sukarlan dan tim, saya sanksi mereka bisa dapet kesempatan tampil semegah itu.

Di belakang panggung, persis sebelum tampil, beberapa anak itu keliatan cemas.

"Deg-degan, kak,"
"Tarik napas lewat hidung, buang lewat mulut. Ayo semuanya. Pelan-pelan."

Mereka semua manut. Dalam kondisi cemas dan takut, manusia memang paling mudah diarahkan. Itu sebabnya ada saja orang yang mencari perhatian banyak orang dengan menyebar ketakutan.

"Ayo senyum. Giginya keliatan. Gini nih. Hiii... Udah sikat gigi, kan?"
"Udah, kak. Lima ratus kali. Ih, gigi kak Inug kuning!"

Syukurlah suasana jadi cair. Mereka tampil baik sekali hari itu.   

Penampilan memang cuma lima menit. Tapi pengalaman ini menaikkan harga diri dan akan dikenang seumur hidup. Ananda dan tim sudah menorehkan sedikit lukisan indah di kanvas hidup mereka. Satu ide sederhana Ananda dan tim memberi dampak besar ke kehidupan mereka.

Ananda Sukarlan juga berbagi panggung dengan dua pianis muda berkebutuhan khusus. Steven Audric Gui, pengidap autisme, dan Michael Anthony, juga pengidap autisme yang bermusik hanya lewat indera pendengaran. Steven memainkan musik karya Burgmuller berjudul Le Retour dan Ananda Sukarlan berjudul Happiness in Harmony. Michael memainkan musik karya Ananda Sukarlan berjudul When I See Your Smile dan Rapsodia Nusantara No. 10 yang menggunakan tema musik daerah Bali berjudul Janger. Penonton menjadi saksi keajaiban dunia musik lewat Steven dan Michael.

Keceriaan Steven dan Michael di belakang panggung memberi warna tersendiri. Steven menunggu giliran tampil sambil menikmati video dansa di YouTube. Sontak berdiri dan menari mengikuti gerakan di video. Itu adalah ekspresi keceriaan Steven. Dia senang, ceria, dan bukannya tegang. Ekspresi tegang justru muncul dari orang tua dan guru Steven yang berkeringat tangannya. Michael mengobrol santai dengan guru dan keluarga. Sesekali Michael menggerakkan dua tangan dengan ceria sambil melompat kecil. Rupanya ada bahasan yang asyik sekali antara dia dengan keluarganya.

Para siswa SD, Steven, dan Michael, patut bersyukur bahwa Ananda mengulurkan tangan mempersilakan mereka tampil. Memang kalau soal aksi menolong orang lain, seorang yang pernah kesulitan keuangan hingga terpaksa naik bis tanpa membayar adalah pakarnya. Oh ya, satu lagi. Kalau soal mendengarkan orang lain, pengidap Asperger dan Tourrette Syndrome yang hapal rasanya disepelekan dan tidak didengarkan, pasti bisa diandalkan. Bukankah memang hakekat seorang manusia adalah lebih banyak mendengarkan?


Hidup Itu Proses, Bukan Melulu Hasil

Bagi saya, opera Laki-Laki Sejati terbagi menjadi dua bagian, yaitu pertama saat anak gadis (Mariska Setiawan) menggali ciri laki-laki sejati dari ibunya (Evelyn Merrelita), dan kedua saat sang ibu mendorong anak gadis untuk mencari laki-laki sejati. Dua bagian tersebut hanya dipisahkan oleh satu kalimat panjang ibu yang menjelaskan ciri laki-laki sejati.

Ananda Sukarlan sungguh usil. Sejak pengumuman konser disebar, ratusan orang langsung membeli tiket untuk mengetahui jawaban sesungguhnya seperti apa laki-laki sejati itu. Pertanyaan membuncah saat opera dimulai. Namun yang terjadi justru membuat saya menggelengkan kepala. Saya kira jawaban itu akan dijabarkan dengan tempo lambat dan keras. Ternyata Ananda meletakkan ciri laki-laki sejati itu dalam satu kalimat nada dengan tempo cepat. Penonton harus ekstra fokus untuk bisa menangkap jawaban itu. Saking cepatnya.     

Merujuk pada bagian awal tulisan tadi, Ananda yang adalah pianis tahap manusia, mengajak penonton untuk menghargai proses. Hasil memang penting tapi proses tidak boleh dilupakan. Terkadang bahkan bisa dibilang proses jauh lebih penting ketimbang hasil.

Mariska sejak awal pertunjukan, langsung bekerja keras. Ia berproses panjang, berusaha mengorek keterangan dari Evelyn. Patuh pada arahan Ananda, Evelyn mendidik Mariska. Semua hal butuh proses. Evelyn mengulur waktu. Justru bertanya balik.

"Untuk apa kamu tanyakan itu?"
"Tidak tahu."
"Setelah tahu, kamu mau apa?"
"Tidak tahu."

Kesabaran Mariska yang cukup panjang disambut baik oleh Evelyn yang akhirnya membuka diri. Cukup panjang perjalanan Mariska hingga akhirnya sukses mendapat jawaban dari Evelyn. Namun, kesuksesan bukan segalanya. Sungguh bukan. Sukses bukanlah suatu kesuksesan. Seorang pianis Indonesia lainnya, Henoch Kristianto pernah berpesan pada pemenang Ananda Sukarlan Award 2018,"Sukses itu seperti saat kita sedang berpose dalam foto. Saat sesi foto selesai, kita akan berpindah. Kenangan di foto itu akan selalu ada, tapi kita harus terus bergerak."

Usai memberi jawaban pada Mariska, Evelyn ingat ia harus mendidik anak gadisnya dan bukan memanjakan. Ia melempar pernyataan menyakitkan,"Lelaki sejati sudah tidak ada. Sudah habis." Mariska pun hancur. Ia terlanjur berharap tinggi.

Sungguh sengaja Evelyn berkata demikian. Hanya supaya Mariska mau bangun dari bangkunya dan keluar melihat dunia. Evelyn bersikap cukup keras lewat pernyataan bahwa semua laki-laki adalah brengsek, namun bisa menjadi laki-laki sejati apabila cinta mereka bersua. Bahwa laki-laki sejati bukan ditemukan, tapi diciptakan melalui proses.

Mariska menolak. Ia enggan bergerak terlanjur patah hati. Evelyn sadar bahwa Mariska harus terus bergerak. Ia mendorong Mariska untuk bangkit. Sisi lembut keibuannya muncul. Kacamata Mariska dilepas dan kedua kepang rambut Mariska dibelai lembut. Sekarang giliran Evelyn yang bekerja keras, berproses menyelamatkan anak gadisnya lewat permainan kata lembut nan tajam.

"Asal, ini yang terpenting anakku, asal dia benar-benar mencintaimu dan kamu sendiri juga sungguh-sungguh mencintainya. Karena cinta, anakku, karena cinta dapat mengubah segala-galanya."

Mariska tersentuh. Ia membuka hati. Mariska dan Evelyn bergandengan dan mengangkat kedua lengan. Keduanya merasa menang. Siap untuk kembali berproses.

Comments

  1. Replies
    1. terima kasih.. semoga tulisan ini bermanfaat ..

      Delete
  2. Saya terkesan saat hidup itu harus terus berposes dan kesuksesan itu adalah pose dalam foto, yg setelah selesai kita harus melanjutkan aktivitas lagi. Thank you kak inug

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!