Idolaku
Aku dan Kiky abis nonton film Lion King. Ini kali pertama kita nonton bareng setelah menikah. Eciye suami istri nonton bareng. Hmm, bedanya nonton sebagai suami istri, tunangan atau pacar cuma satu sih : posisi cincin di jari. Enggak ngefek ke kualitas audionya. Apalagi harga tiketnya. Ya iyalah.
Kita nonton di Onebel Park Cinere. Ini kali pertama aku nonton di The Premiere. Itupun karena kehabisan tiket di XXI. Enam puluh ribu rupiah. Pas masuk, aku agak kaget karena jarak antar bangku jauh, jumlah bangku lebih sedikit, dan bangkunya besar sekali (bisa diturunin pula senderannya, hihihi...). Ada selimutnya juga. Kayak naik Argo Lawu aja.
Film belum mulai. Aku dan Kiky udah duduk di pojok kiri belakang. (Iya, pengantin baru emang hobi mojok...) Di situ mendadak aku merasa bersalah. Sedih. Aku merasa enggak pantes menikmati kemewahan di studio The Premiere itu. Inget temen-temen yang hidupnya belum seberuntung aku. Aku merasa bersalah sama mereka.
Aku sempat cemas, jangan-jangan perasaan sedih dan bersalah ini bakal terus menghantui selama dua jam pemutaran film. Berusaha menenangkan diri. Mungkin bagi beberapa orang, perasaanku aneh. "Cowok sentimentil!" Tapi aku merasa beruntung masih punya perasaan seperti itu di tengah dunia yang makin logis ini.
Di bagian awal film, ada adegan Mufasa dan Sarabi memamerkan Simba ke semua binatang dari atas batu besar. Sejak dulu aku selalu merinding ngeliat panggung besar. Membayangkan kegagahan dan wibawa besar orang yang menguasai panggung. Dan di hidupku, ada satu orang gagah dan sangat berwibawa hingga kerap menguasai panggung. Bapakku.
Nonton film ini bikin aku inget banyak adegan di film Lion King versi kartun. Waktu itu aku masih kecil. Nonton pake video tape yang besar ukurannya. Muncullah kembali perasaan-perasaan yang aku rasakan waktu nonton film itu dulu. Dan perasaan yang muncul adalah aku merasa wibawa dan kasih sayang Mufasa ke Simba sama persis Bapak ke aku. Persis sama!
Bapak adalah orang yang keras dan beberapa kali bisa jadi galak. Kalau Bapak marah (ke aku ataupun ke orang lain) aku selalu takut. Tapi Bapak juga sahabat yang asyik. Bapak selalu melindungi aku, adek, dan Ibu. Rasanya aman kalau ada Bapak.
Bapak sering menyampaikan pelajaran lewat kata mutiara singkat tapi belum bisa segera aku pahami maknanya. Bertambahnya pengalaman hidup bikin aku pelan-pelan bisa memahami maksud Bapak.
Seperti Simba yang pernah berbuat salah kebablasan, aku pun pernah begitu. Waktu itu Bapak sampai bilang,"Bukan penyakit, melainkan hal beginilah yang bikin orang tua sakit dan cepat mati." Aku sedih luar biasa saat itu. Merasa bersalah dan marah pada diri sendiri.
Di satu adegan, Mufasa bilang bahwa pemimpin sejati harus melindungi dan melayani. Pengamalan kata-kata itu bisa aku lihat jelas di sosok Bapak. Bapak selalu melindungi dan melayani orang lain. Jiwa sosialnya luar biasa besar. Bapak marah melihat orang kecil diperlakukan seenaknya.
Mufasa mengajarkan Simba soal lingkaran kehidupan dan berkata,"Suatu hari kita akan mati dan menjadi rumput. Binatang lain akan memakan kita." Semua makhluk tahu bahwa singa ada di puncak rantai makanan. Lalu apa maksud Mufasa berkata demikian?
Saat ada adegan Simba bercermin di air dan melihat sosok Mufasa di bayangannya, aku membayangkan betapa beruntungnya aku bila mendapat sedikit saja cipratan sosok Bapak (semoga saja memang demikian). Karena memang sungguh aku mengidolakan Bapakku : pemimpin sejati dan pahlawan. Aku ingin bisa sekuat, setangguh, sebaik, dan sepintar Bapak.
Ada banyak sekali karya sosial yang (ternyata) pernah Bapak lakukan. Sepertinya Bapak memang punya kebutuhan untuk menolong orang lain. Dalam salah satu tes kepribadian yang aku pelajari saat kuliah, terbaca aku juga punya kebutuhan yang besar hal itu. Jadi sedikit banyak aku bisa memahami alasan Bapak banyak berbuat sosial.
Bukan demi menjadi pahlawan, namun demi memenuhi kebutuhan diri. Mungkin logika sederhananya sama seperti manusia yang teratur bernapas demi memenuhi kebutuhan akan oksigen. Demikian juga Bapak yang rutin beraktivitas sosial demi memenuhi kebutuhan menolong orang lain.
Di dalam keluarga, Bapak rela untuk tidak punya uang asalkan semua kebutuhan anak dan istrinya tercukupi. Bahkan terkadang Bapak marah saat aku membelikan suatu barang yang bagus dan Bapak tahu harganya mahal. Bapak punya prinsip hidup yang keras dalam hal tidak mau merepotkan orang lain. "Kamu tabung aja untuk kebutuhanmu!" jawab Bapak tiap aku membelikan sesuatu.
Setiap orang pasti punya idola yang ingin ditiru jejak langkahnya. Itu mengasyikkan sekali karena memberi kita kesempatan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Aku pun demikian. Semakin aku berusaha meniru detil langkah Bapak, semakin aku terpentok dan mengenali diri bahwa aku berbeda dari Bapak. Bapak itu ya Bapak, aku ya aku. Aku boleh mengidolakan Bapak. Tapi aku akan maju dengan caraku sendiri.
Well, itulah hal paling istimewa yang aku peroleh di hari ini saat nonton bareng istri tercinta, dek Widya Kristianti atau yang biasa khalayak umum panggil 'QQ'. Sungguh menyenangkan nonton film yang penuh nilai dan inspirasi. Makin senang karena QQ adalah teman diskusi yang asyik.
Sekian. Sekarang tidur dulu. Besok lanjut berkarya lagi. Selamat malam!
Kita nonton di Onebel Park Cinere. Ini kali pertama aku nonton di The Premiere. Itupun karena kehabisan tiket di XXI. Enam puluh ribu rupiah. Pas masuk, aku agak kaget karena jarak antar bangku jauh, jumlah bangku lebih sedikit, dan bangkunya besar sekali (bisa diturunin pula senderannya, hihihi...). Ada selimutnya juga. Kayak naik Argo Lawu aja.
Film belum mulai. Aku dan Kiky udah duduk di pojok kiri belakang. (Iya, pengantin baru emang hobi mojok...) Di situ mendadak aku merasa bersalah. Sedih. Aku merasa enggak pantes menikmati kemewahan di studio The Premiere itu. Inget temen-temen yang hidupnya belum seberuntung aku. Aku merasa bersalah sama mereka.
Aku sempat cemas, jangan-jangan perasaan sedih dan bersalah ini bakal terus menghantui selama dua jam pemutaran film. Berusaha menenangkan diri. Mungkin bagi beberapa orang, perasaanku aneh. "Cowok sentimentil!" Tapi aku merasa beruntung masih punya perasaan seperti itu di tengah dunia yang makin logis ini.
Di bagian awal film, ada adegan Mufasa dan Sarabi memamerkan Simba ke semua binatang dari atas batu besar. Sejak dulu aku selalu merinding ngeliat panggung besar. Membayangkan kegagahan dan wibawa besar orang yang menguasai panggung. Dan di hidupku, ada satu orang gagah dan sangat berwibawa hingga kerap menguasai panggung. Bapakku.
Nonton film ini bikin aku inget banyak adegan di film Lion King versi kartun. Waktu itu aku masih kecil. Nonton pake video tape yang besar ukurannya. Muncullah kembali perasaan-perasaan yang aku rasakan waktu nonton film itu dulu. Dan perasaan yang muncul adalah aku merasa wibawa dan kasih sayang Mufasa ke Simba sama persis Bapak ke aku. Persis sama!
Bapak adalah orang yang keras dan beberapa kali bisa jadi galak. Kalau Bapak marah (ke aku ataupun ke orang lain) aku selalu takut. Tapi Bapak juga sahabat yang asyik. Bapak selalu melindungi aku, adek, dan Ibu. Rasanya aman kalau ada Bapak.
Bapak sering menyampaikan pelajaran lewat kata mutiara singkat tapi belum bisa segera aku pahami maknanya. Bertambahnya pengalaman hidup bikin aku pelan-pelan bisa memahami maksud Bapak.
Seperti Simba yang pernah berbuat salah kebablasan, aku pun pernah begitu. Waktu itu Bapak sampai bilang,"Bukan penyakit, melainkan hal beginilah yang bikin orang tua sakit dan cepat mati." Aku sedih luar biasa saat itu. Merasa bersalah dan marah pada diri sendiri.
Di satu adegan, Mufasa bilang bahwa pemimpin sejati harus melindungi dan melayani. Pengamalan kata-kata itu bisa aku lihat jelas di sosok Bapak. Bapak selalu melindungi dan melayani orang lain. Jiwa sosialnya luar biasa besar. Bapak marah melihat orang kecil diperlakukan seenaknya.
Mufasa mengajarkan Simba soal lingkaran kehidupan dan berkata,"Suatu hari kita akan mati dan menjadi rumput. Binatang lain akan memakan kita." Semua makhluk tahu bahwa singa ada di puncak rantai makanan. Lalu apa maksud Mufasa berkata demikian?
Menurutku tak lain adalah untuk menanamkan kerendahan hati. Sekuat apapun kamu, suatu saat akan kembali menjadi debu dan tanah. Jadi jangan bersikap seenaknya pada ciptaan lain. Bahkan yang terlemah sekalipun.
Bapak pernah cerita, saat dia menikah dulu, orang pertama yang dia salami setelah pesta selesai adalah para pembantu di dapur. "Mereka tidak kelihatan, tapi berperan penting sekali. Hargai peran setiap orang sekecil apapun itu!" kata Bapak.
Saat ada adegan Simba bercermin di air dan melihat sosok Mufasa di bayangannya, aku membayangkan betapa beruntungnya aku bila mendapat sedikit saja cipratan sosok Bapak (semoga saja memang demikian). Karena memang sungguh aku mengidolakan Bapakku : pemimpin sejati dan pahlawan. Aku ingin bisa sekuat, setangguh, sebaik, dan sepintar Bapak.
Ada banyak sekali karya sosial yang (ternyata) pernah Bapak lakukan. Sepertinya Bapak memang punya kebutuhan untuk menolong orang lain. Dalam salah satu tes kepribadian yang aku pelajari saat kuliah, terbaca aku juga punya kebutuhan yang besar hal itu. Jadi sedikit banyak aku bisa memahami alasan Bapak banyak berbuat sosial.
Bukan demi menjadi pahlawan, namun demi memenuhi kebutuhan diri. Mungkin logika sederhananya sama seperti manusia yang teratur bernapas demi memenuhi kebutuhan akan oksigen. Demikian juga Bapak yang rutin beraktivitas sosial demi memenuhi kebutuhan menolong orang lain.
Di dalam keluarga, Bapak rela untuk tidak punya uang asalkan semua kebutuhan anak dan istrinya tercukupi. Bahkan terkadang Bapak marah saat aku membelikan suatu barang yang bagus dan Bapak tahu harganya mahal. Bapak punya prinsip hidup yang keras dalam hal tidak mau merepotkan orang lain. "Kamu tabung aja untuk kebutuhanmu!" jawab Bapak tiap aku membelikan sesuatu.
Setiap orang pasti punya idola yang ingin ditiru jejak langkahnya. Itu mengasyikkan sekali karena memberi kita kesempatan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Aku pun demikian. Semakin aku berusaha meniru detil langkah Bapak, semakin aku terpentok dan mengenali diri bahwa aku berbeda dari Bapak. Bapak itu ya Bapak, aku ya aku. Aku boleh mengidolakan Bapak. Tapi aku akan maju dengan caraku sendiri.
Well, itulah hal paling istimewa yang aku peroleh di hari ini saat nonton bareng istri tercinta, dek Widya Kristianti atau yang biasa khalayak umum panggil 'QQ'. Sungguh menyenangkan nonton film yang penuh nilai dan inspirasi. Makin senang karena QQ adalah teman diskusi yang asyik.
Sekian. Sekarang tidur dulu. Besok lanjut berkarya lagi. Selamat malam!

Comments
Post a Comment