KITA Pasti Bisa Menang!

"Gini guys, yang pasti, kalian harus datang, harus nonton. Karena kalian pasti jadi ingin tahu apa yang KITA ANAK NEGERI (KAN) dan KITA String Unlimited lakukan untuk mengisi kemerdekaan di era milenial sekarang!"

Itulah sekilas pesan Yulianto Endarmawan, music director Swara KITA Gempita yang dipentaskan Sabtu, 17 Agustus 2019 yang lalu. Kiranya jawaban atas pesan itu tergambar jelas dari detil pertunjukan ; mulai persiapan hingga pelaksanaan.

Swara KITA Gempita menampilkan pertunjukan variatif melibatkan banyak pihak. Dimulai dengan flash mob oleh anggota KITA String Unlimited, Violin KITA, tim perkusi Divisi Drum KAN, Home Band KAN, dan penari dari Belantara Budaya Indonesia. Dilanjutkan dengan pertunjukan musik dengan ujung tombak penampil anak-anak siswa Divisi Kelas Nol dan Vokal KAN. Alur pertunjukan musik dirajut apik lewat narasi gambaran perjuangan bangsa Indonesia merebut dan memelihara kemerdekaan yang dibacakan oleh Anggi Monica.

"Sebagai anak muda, kita bisa melakukan something untuk mengisi kemerdekaan ini!" tegas Yulianto.

+++

MENANG ATAS DIRI SENDIRI

Adalah baik bagi kita mengenang perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Mereka berperang melawan penjajah. Perjuangan fisik dan pikiran. Nyawa taruhannya.

Sebagai penerus, kita pun berperang. Melawan penjajah dalam bentuk berbeda, salah satunya diri sendiri. Mengalahkan diri sendiri sejatinya jauh lebih sulit ketimbang mengalahkan orang lain. Semua pribadi reflektif sadar itu sepenuhnya. Sebuah tugas tanpa akhir. 

Tanpa fokus luar biasa kuat, Swara KITA Gempita mustahil terwujud. Bukan cuma tingkat kesulitan detil yang tinggi, namun juga banyaknya tantangan yang muncul menghadang.

+++

Tantangan 1 : Deadline

Persiapan dimulai sekitar Juni 2019. Durasi waktu yang jauh dari ideal untuk pertunjukan sebesar Swara KITA Gempita. Music Director yang juga melatih semua penampil, Yulianto Endarmawan, enggan mengorbankan detil pertunjukan. Ia memilih mengorbankan aktivitas pribadi. Jumat 16 Agustus malam, beberapa jam menjelang pertunjukan, di kamar kerjanya Yulianto masih sibuk di depan laptop menambah beberapa detil yang belum sempat tergarap.

Mepetnya waktu juga dirasakan hampir semua personil manajemen KAN. "Beberapa minggu terakhir ini aku baru tidur jam setengah empat pagi," ujar Gabriel Bodhi yang membantu dokumentasi dan publikasi. Agung, Sound Engineer KAN, juga mengorbankan waktu istirahatnya hingga tidak tidur beberapa hari menjelang pertunjukan.      


Tantangan 2 : Listrik

Minggu, 4 Agustus 2019, adalah hari pertama latihan gabungan penampil Swara KITA Gempita. Momen yang sangat penting. Bukan cuma penggabungan teknis penampilan, namun juga penguatan komunikasi antar personil.

Listrik mati. Sebagian besar alat musik disfungsi. Sebagian orang tua murid penampil anak-anak resah. Memilih pulang. Tak bisa disalahkan tentunya, kondisi jauh dari kepastian. Manajemen bergerak cepat mencari daya. Evi Raswandi dan Yulianto membulatkan tekad. "Apapun yang terjadi, kita tetap berlatih!" kata Evi.

Latihan berjalan di ruang tertutup tanpa satupun pendingin udara menyala. Tantangan yang besar mengingat bermain musik bukan sekadar memainkan not, namun mengelola mood untuk menyuguhkan pesan. Detil suasana latihan bisa dibaca di blog ini.


Tantangan 3 : Anak-Anak

Banyaknya anak yang terlibat memberi tantangan cukup besar. Durasi waktu latihan membuat mereka bosan. Pernah tanpa sengaja beberapa anak bermain-main dan menabrak tembok berlapis peredam suara hingga rusak di sebuah bangunan yang disewa khusus berlatih.

Manajemen KAN harus mengeluarkan biaya pengganti yang tidak sedikit. Evi memberi teguran pada para Liaison Officer yang bertugas menjaga anak-anak. Ia tetap dingin dan rileks. Nihil emosi negatif. Sadar penuh ada kepentingan lebih besar yang harus dijaga keberlangsungannya.

Tugas menjaga dan mengoptimalkan potensi anak dilakukan dengan telaten oleh Siska Purwati, kepala divisi Kelas Nol. "Memang lebih sulit untuk bekerja sama dengan anak-anak dalam jumlah banyak seperti ini. Namun saya tahu potensi mereka besar," kata Siska. Ia setia tersenyum pada tiap anak yang tampil agar nyaman dan percaya diri. Di semua sesi latihan, ia merekam tiap penampilan untuk menjadi bahan evaluasi.

Instruktur drum KAN, Bagus Dwi Arinto, M. Purnama Aji, dan Arba Pratomo mendapat tantangan tersendiri. Mereka menata permainan drum beberapa anak sekaligus dalam satu waktu dengan alat dan cara main yang berbeda. Beberapa hari menjelang pementasan, permainan masih jauh dari kompak. H-2, bekerja sama dengan pemain drum Andre Yono, akhirnya ditemukan cara untuk menjaga tempo permainan.         


Tantangan 4 : Suara

Saat pertunjukan dimulai, suasana di Atrium Mall Margo City cukup hening. Ada banyak sekali tamu yang datang namun tidak ada suara dari tenant manapun. Cukup ideal untuk memulai pertunjukan musik. Sampai beberapa lagu pertama, muncul suara dari salah satu tenant persis seberang panggung.

Celakanya, sumber suara menggunakan pengeras dengan volume besar. Seakan ingin mengalahkan Swara KITA Gempita, sumber suara tersebut gegap gempita berteriak memanggil tamu dan mempresentasikan suatu demo. Entah apa.

Hal tersebut tentu menjadi tantangan luar biasa. Namun bukan KITA ANAK NEGERI namanya kalau mudah tersulut atau menyerah menghadapi tantangan. Seluruh tim berpasrah (karena hal tersebut sepenuhnya kewenangan Manajemen Mall Margo City) dan meningkatkan fokus pada pertunjukan.

Sambil terus tersenyum sebagai bagian penting visual panggung yang asyik untuk dihidangkan pada penonton, para penampil menajamkan telinga berfokus mendengarkan suara lewat headphone masing-masing. Penonton yang hadir pun bisa tetap menikmati pertunjukan musik.

+++

Masih ada banyak sekali tantangan selain beberapa poin di atas. Salah satunya adalah hilangnya properti pribadi milik salah satu anggota manajemen KAN beberapa minggu sebelum pertunjukan. Selain bernilai sangat tinggi, properti tersebut berfungsi penting sekali untuk pelaksanaan tugas publikasi dan dokumentasi. "Aku pasrah dan fokus melanjutkan tugas. Ada karya lebih besar yang harus dituntaskan bersama!" ujar Gabriel Bodhi yang kehilangan kamera miliknya.

Pengorbanan besar untuk mencapai tujuan dalam mengisi kemerdekaan sudah ditunjukkan oleh KITA ANAK NEGERI. Mengalahkan diri sendiri adalah pekerjaan sulit namun sungguh berharga manfaatnya.

KITA ANAK NEGERI sudah memberi bukti bahwa dengan mengalahkan diri sendiri, semua orang bisa berkarya mengisi kemerdekaan. Proficiat untuk KITA ANAK NEGERI yang sudah menang berperang! Selamat meneruskan perjuangan dengan karya-karya lainnya! 

KITA ANAK NEGERI sudah memberi contoh yang luar biasa. Sekarang giliran kita.

MERDEKA!!!

Comments

  1. Merdeka....!!!! Tulisan apik yg menggambarkan suasana persiapan hingga akhir konser. Thanksssss mas inug.. Trus menuliiiiiis.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih banyak.. semoga bermanfaat ya tulisannya..

      Delete
  2. Selalu suka dengan tulisan mas inug.. terus menulis Dan terus berkarya bersama Tim KAN .. produk KAN keren, Tim KAN solid Dan asik.. semoga semakin maju ya..



    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih banyak, mbak Ayu.. maju terus Kita Anak Negeri.. semua kompak dan saling support.. sekarang lagi masa pandemi gini harus lebih saling support.. semangat terus mbak Ayu dan teman2..

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!