Untung Saja!
"Kamu cemas ya?" tanya seorang ibu pada putrinya yang tak kuat menahan tangis. Ia lalu memeluk putrinya, "Gapapa, Mama udah di sini."
Seorang ibu lainnya terlihat sangat gundah. "MRT dan KRL mati! ATM mati! Sinyal juga mati! Mama ga tahu kondisi di rumah gimana! Mama ga bisa hubungi Papa! Untung sekarang udah ketemu kamu!" ujarnya sambil mengelus kepala putrinya.
Minggu (4/8) sore, hampir maghrib, dua orang ibu itu baru sampai di Restoran Rawone, Jalan M. Yusuf, Depok untuk menjemput anaknya yang mengikuti latihan orkestra acara peringatan kemerdekaan Indonesia yang diadakan oleh Yayasan Kita Anak Negeri, Depok, Jawa Barat. Rupanya kedua ibu itu mengantar anaknya sejak pagi lalu pergi ke tempat lain. Padamnya listrik membuat perjalanan dan komunikasi mereka menjadi runyam hingga panik.
Yayasan Kita Anak Negeri sedang mempersiapkan perhelatan tahunan konser kemerdekaan Republik Indonesia. Banyak sekali pemusik yang terlibat. Mulai dari pengajar Sekolah Musik Kita Anak Negeri hingga murid. Agenda Minggu adalah latihan gabungan antara orkestra, band, paduan suara, dan beberapa vokalis cilik.
Seperti kita ketahui, listrik di banyak daerah padam sejak siang. Kepastian jalannya latihan tidak jelas. "Belum ada tanda-tanda akan menyala. Ini sedang mengusahakan genset," jelas Evi Raswandi, pimpinan Kita Anak Negeri yang terus ketat memantau perkembangan.
Evi tidak duduk diam. Ia berkeliling melihat kebutuhan para pemusik dan karyawannya. Saat melihat beberapa orang tidak kuat mengangkat genset yang sangat berat, Evi sigap mencarikan bantuan. Sambil terus memeriksa persediaan konsumsi, Evi juga tak henti mengingatkan pemusik untuk makan dan minum untuk menjaga kondisi badan.
Hampir seluruh pemusik yang terlibat meninggalkan ruangan latihan karena udara sangat panas. Beberapa orang tua pemusik cilik bahkan pergi meninggalkan lokasi latihan akibat ketidaknyamanan yang muncul. "Latihan harus tetap berjalan seberapapun pemusik yang tersisa! Tetap semangat, teman-teman!" ujar Yulianto Endarmawan, konduktor orkestra.
+++
Padamnya listrik dalam waktu lama memunculkan banyak dinamika menarik. Tidak hanya suasana sedih dan panik, namun juga keakraban dan saling pengertian. Semua pihak yang tersisa bersatu padu demi satu tujuan, terlaksananya latihan. "Kalau genset enggak kuat, gapapa deh ga pake AC. Yang penting musik bunyi!" kata Agung, sound engineer Kita Anak Negeri.
Agung sendiri sudah bekerja keras sejak Sabtu (3/8) pagi membereskan alat untuk latihan di gedung Rawone Rukan Pesona View. Sabtu malam Agung dibantu beberapa orang teman membawa semua alat, yang jumlahnya banyak sekali dan berat, ke gedung Rawone M. Yusuf. Jaraknya keduanya cukup dekat, sekitar satu kilometer.
Saat listrik padam, Agung baru saja selesai menata alat dan menyeimbangkan volume suara. Ia sontak bergerak kesana kemari mengusahakan genset yang kondisinya ternyata perlu perbaikan cukup signifikan.
Agung dan rekan-rekannya berhasil. Genset bisa berfungsi. "Mohon maaf teman-teman. Musik bisa bunyi tapi AC tidak menyala ya. Listrik tidak kuat." katanya memohon pengertian.
Usaha dan kerja keras Agung mendapat apresiasi Yulianto. "Teman-teman, latihan kita hari ini terselenggara berkat kehadiran 'Superman' kita, mas Agung!" katanya lantang di depan para pemusik disambut tepuk tangan meriah penuh syukur. Istilah 'Superman' disematkan untuk menggambarkan kekuatan fisik Agung yang sanggup bekerja seakan tanpa henti.
Udara panas dan sumpek di dalam ruangan membuat para pemusik kegerahan dan sulit fokus. Pakaian basah oleh keringat. Berkali-kali para pemusik mengelap keringat dengan pakaian atau saputangan yang dibawa.
Suasana penat itu sepenuhnya gagal menghantui Yulianto. Ia memimpin latihan penuh semangat. Senyum tetap terhampar di wajahnya. Candaan juga sering terlontar dari mulutnya. Suasana positif yang ia bangun persis sama dengan latihan sebelumnya di ruangan nyaman penuh pendingin udara. Para pemusik terpacu memberikan penampilan terbaik meski suasana sangat tidak mendukung.
"Hebat ya mas Yul. Dia bisa tetap fokus dan menjaga mood para pemain," kata Marvine, pembetot bass dalam kelompok band. "Itulah nakhoda sejati. Tidak akan meninggalkan kapal kalau belum tenggelam." kata Andriyono, penggebuk drum memberikan perumpamaan.
Yulianto tidak sendirian. Ia dibantu Siska, pengajar Kita Anak Negeri yang getol menilik kebutuhan setiap pemain. "Saya tahu kalian haus. Udara panas sekali. Ini air mineral untuk kalian," kata Siska menyodorkan kardus penuh air mineral ke para pemusik. Siska juga rajin merekam penampilan setiap siswa yang tampil menyanyi untuk dijadikan bahan evaluasi.
Bukan Kita Anak Negeri namanya kalau tidak membuat banyak konten foto dan video untuk diunggah ke media sosial. Foto dan video dipercayakan ke Wani dan Bodi, anggota manajemen Kita Anak Negeri. Keduanya memberikan semangat pada para pemusik sambil terus mencari bahan liputan. Pakaian mereka basah oleh keringat karena tidak berhenti bergerak. Sesekali mereka spontan menari mengikuti irama musik yang menarik. "Asiiikkk! Ayo semangat terus semuanya!" ujar Wani sambil menari menikmati irama musik medley lagu daerah aransemen Yulianto.
Tak lupa, anggota manajemen lainnya yang juga pakar kafein Kita Anak Negeri, Dhika, yang non stop mengatur alur latihan, memberikan dukungan tambahan dengan membuatkan kopi bercita rasa tinggi untuk para pemusik. Bukan Dhika namanya kalau membuat kopi instan. Ia asyik menggiling biji kopi sambil mengajak pemusik bercanda di sela-sela istirahat. "Kamu suka ngopi ga? Ayo gantian kamu yang giling!" ujarnya dengan logat Jawa yang kental.
Latihan berjalan dengan lancar karena suplai listrik berjalan mulus dari genset. Kontinuitas fungsi genset dipastikan betul oleh Fajar, orang kepercayaan Evi. Ia sering bolak-balik memeriksa genset dan memastikan bahan bakar cukup. Tanggung jawab Fajar bukan hanya di situ, ia juga memastikan konsumsi para pemusik, keamanan gedung, dan banyak hal operasional penting lainnya terkait kondusifitas latihan.
Latihan selesai tepat waktu. Usai doa penutup, para pemusik berkemas bersiap meninggalkan gedung. Satu per satu pemusik menuruni tangga dari lantai tiga. Teriakan lantang dan tepuk tangan menggema. Ternyata itu adalah ulah para anggota manajemen Kita Anak Negeri, Fitra, Wani, dan Dhika, yang duduk di tangga. Sepertinya mereka memberikan applause sebagai bentuk terima kasih atas dedikasi para pemusik yang setia menunggu dari siang dan berlatih di tengah ruangan panas.
+++
Listrik padam, pendingin udara tidak berfungsi, dan latihan berjalan tidak lengkap karena banyak pemusik cilik yang pulang. Sungguh ketidaknyamanan yang luar biasa mengingat mepetnya waktu dan besarnya agenda yang direncanakan oleh Kita Anak Negeri.
Namun di tengah suasana seperti itu, ternyata ada banyak sekali keakraban yang justru muncul. Suasana saling dukung dengan mesra yang mungkin tidak akan muncul sekental itu bila listrik menyala dan pendingin udara berfungsi baik.
Sungguh suatu keberuntungan!
Wah mantul nih
ReplyDelete