Lahirnya Nafas Baru Musik Indonesia di Depok
"Sewaktu kecil, saya dan teman-teman sering bermain sambil menyanyikan lagu ini. Kita saling mencubit punggung tangan. Hmm, ya, seperti ini," Bobi mencubit tangannya sendiri sambil tertawa."Semua pasti tahu lagu ini. Selamat menikmati, inilah Injit Injit Semut dari Jambi."
Divisi Piano Klasik Kita Anak Negeri mengadakan konser murid dan talkshow bersama Kepala Divisi Ananda Sukarlan bertema 'Musik Daerah : Apa Gunanya?' pada Minggu, 15 Desember 2019. Konser dan talkshow mengambil tema musik daerah sebagai puncak gagasan Ananda Sukarlan untuk mengembangkan musik daerah. Bermula dari konser guru yang memainkan banyak komposer Indonesia pada November lalu dan dilanjutkan dengan materi wajib lagu daerah pada ujian siswa.
Setiap siswa memainkan lagu daerah pilihannya menggunakan aransemen yang mereka kembangkan sendiri. Konser makin kental bernuansa Indonesia dengan dekorasi kain khas Indonesia di dinding ruang konser. Penonton duduk lesehan sambil menikmati musik dan melontarkan banyak pertanyaan ke Ananda. Beberapa siswa Divisi Gitar Klasik bergabung meramaikan konser.
Ananda memulai dengan pembahasan pendidikan seni di Indonesia. Menurutnya, pendidikan seni di Indonesia terlalu bersifat teknis. "Kalau kita menggambar awan, apa warnanya? Kalau daun?" Mayoritas penonton menjawab biru dan hijau. Meskipun langit dan daun memiliki warna selain biru dan hijau, namun ternyata banyak yang menggunakan cara berpikir teknis seperti satu ditambah satu sama dengan dua.
Ia menekankan pentingnya imajinasi sebagai modal berkreasi. "Imajinasi anak harus dibebaskan!" ujar Ananda yang lama tinggal di Spanyol dan sengaja pulang ke Indonesia untuk mengembangkan musik Indonesia.
Pendidikan di negara maju seperti Finlandia mengedepankan kreativitas. Guru mendampingi dari belakang dan bukannya menyuapi. Ki Hajar Dewantara adalah salah satu konseptor pendidikan yang luar biasa hingga dijadikan pedoman dalam pendidikan negara maju.
Manusia memiliki dua bagian otak. Namun sistem pendidikan Indonesia selalu mengedepankan otak kiri. "Padahal tanpa otak kanan, tidak akan ada smartphone di dunia ini!" jelas Ananda.
Bicara soal musik daerah khas Indonesia, Ananda menyampaikan kekhawatiran tentang hilangnya musik daerah Indonesia. "Budaya adalah bukti sejarah. Kalau budaya sampai hilang, Indonesia akan gampang dijajah. Bangsa lain akan datang dan mencetak budaya dan sejarah sendiri," ujarnya. Kondisi demikian tentu harus dihindarkan apalagi menyadari betapa kayanya kebudayaan Indonesia.
"Selamat sore, nama saya Alya. Saya akan memainkan Yamko Rambe Yamko lagu daerah dari Papua. Lagu ini menggambarkan tarian sebagai peringatan atas para pahlawan yang telah meninggal."
"Halo, saya Chise. Saya akan main lagu Bungong Jeumpa dari Aceh. Lagu ini menggambarkan keindahan Bunga Cempaka. Selamat menikmati!"
Mereka adalah sebagian pianis muda yang tampil memainkan lagu daerah Indonesia. Ada juga yang tampil memainkan Gundul Gundul Pacul, Kicir Kicir, dan banyak lagi. Semua tampil memainkan hasil aransemen kreasi sendiri. Sore itu hujan yang turun deras dengan angin kencang menambah romantisme musik para siswa.
Peran kreatifitas anak untuk berkreasi sangat dominan. Lagu daerah Indonesia digabungkan dengan teknis klasik menjadikan karya musik yang nyaman dan keren! Penonton ikut berdendang menyanyikan lagu yang mereka ketahui. "Wah, lagu daerah bisa jadi keren kayak gitu ya," bisik seorang penonton pada orang di sampingnya.
Di luar dugaan, sebagian orang tua murid mengaku kaget mendengar hasil kreasi anaknya. "Kakak sama sekali tidak memberitahu cara mainnya?" tanya seorang Ibu ke salah satu guru piano Kita Anak Negeri dan dijawab,"Tidak, Bu. Itu adalah hasil kreasi dia sendiri. Saya hanya memberi masukan dari sisi nuansanya." "Wah, saya baru tahu itu..." ujarnya mengagumi karya putra sulungnya itu.
Seringkali kita mendapat persepsi bahwa musik daerah Indonesia kalah keren dibandingkan dengan musik popular. Pandangan itu dengan mantap diluruskan oleh Ananda. Menurutnya, persepsi itu muncul karena tekanan Barat yang memiliki kepentingan menjual karya musiknya. Kita harus berani keluar dari tekanan itu dan menyadari bahwa musik kita lebih keren.
"Di luar negeri, orang justru lebih kagum saat saya memainkan musik daerah Indonesia." ujarnya. Banyak orang berpandangan segala hal yang kebarat-baratan lebih bagus. Ananda pun sempat berpikir demikian. "Dulu bahkan saya pengen dipanggil Andy. Ternyata nama Ananda jauh lebih keren ya!" katanya sambil tertawa.
"Selamat sore. Saya Dimas Ariq. Saya akan memainkan lagu Ayo Mama."
"Halo, nama saya Dimas. Saya akan berduet dengan guru saya menampilkan lagu Keroncong Kemayoran."
Sore itu, penonton dibawa terbang mulai dari Aceh sampai Papua. Tidak, tidak! Tidak butuh tiket pesawat yang mahal untuk terbang jauh. Keberagaman itu sendirilah yang mendatangi. Indonesia negara yang sangat heterogen. "Satu-satunya keseragaman di Indonesia adalah keberagaman itu sendiri!" ujar Ananda yang juga mengagumi banyaknya kuliner khas Indonesia.
Boleh berbangga hati sambil terus berefleksi dan mengembangkan diri, Kita Anak Negeri dalam hal ini menjadi trendsetter yang menciptakan sesuatu yang baru di dunia pendidikan musik Indonesia. Inovasi demi inovasi tentu akan terus diilanjutkan dengan kolaborasi antar bidang kesenian.
Kolaborasi sangat mungkin diwujudkan karena Indonesia memiliki banyak kesenian. "Saya pernah berkolaborasi dengan chef yang menyajikan lima masakan khas nusantara. Setiap dia menyajikan satu kuliner khas daerah tertentu, saya menampilkan Rapsodia Nusantara yang saya ciptakan berdasarkan lagu daerah tersebut," cerita Ananda.
Ananda menekankan pentingnya 3K bagi para seniman, yaitu Kreativitas, Komunikasi, dan Kolaborasi. Selain berkarya dengan kreatif, seniman juga harus pandai berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya sebagai landasan menciptakan karya. Kolaborasi dengan pihak lain pun menjadi hal yang sangat penting saat ini.
Beruntung kita hidup di zaman dengan sejuta kemudahan komunikasi. Proses belajar dari karya musik orang lain bisa dilakukan dengan mudah. Sudah selayaknya media sosial digunakan untuk hal positif seperti mengkreasikan musik dan berkolaborasi.
Menutup acara talkshow, Ananda menyampaikan kesimpulan pentingnya kreativitas dan imajinasi untuk terus berkreasi mengembangkan musik daerah Indonesia. "Supaya kita orang Indonesia bisa semakin menjadi Indonesia tentunya!" tegas Ananda.
Selamat berkreasi, siswa Kita Anak Negeri!
"Hai, selamat sore, saya Giffen.
Saya akan memainkan lagu Ampar-Ampar Pisang dari Kalimantan Selatan.
Hmm, lagu ini menceritakan buah pisang yang belum masak. Oh ya, anak-anak juga sering menyanyikan dan bermain dengan lagu ini.
Okay, selamat menikmati!"
Tulisan bagus yang merangkum acara tadi malam, konser murid klasik kemarin sangat menyenangkan, talkshow yang sangat santai namun bermanfaat dan related dengan kebutuhan pendidikan dan seni untuk anak2 masa kini. Pulang dari sana dengan segenap rasa cinta terhadap kekayaan Nusantara. Ditunggu acara2 murid klasid yang keren seperti ini!
ReplyDeleteTerima kasih sudah berbagi, Kak Inug. Talkshow asik bersama Kak Ananda Sukarlan seperti biasa. Sangat inspiratif. Semoga makin banyak yang menghargai dan mengulik kekayaan budaya kita sendiri..
ReplyDelete