Kemenangan Seorang Petarung Bernama Alberto
klek. pintu tinggi besar di depanku terbuka. deritnya cukup keras. krieeet. sepertinya sangat jarang dibuka. ternyata tebal sekali pintunya. ruangan tempat aku berdiri saat ini minim cahaya. tidak kelihatan jelas siapa yang membuka pintu. tapi aku tahu pasti itu siapa.
sosok pembuka pintu mulai tampak. aku menarik napas dalam. tak tahu harus merasa apa.
"halo, mas Al.."
mata mas Alberto menatapku ramah. ia mengayunkan tangan. mempersilakan masuk.
"makasi. maaf ganggu perjalananmu. aku cuma mampir sebentar kok."
aku memasuki sebuah ruangan sekitar empat kali empat meter. cukup terang dengan satu lampu putih di atap bagian tengah. tingginya sekitar dua meter. dindingnya terbuat dari beton. kokoh sekali kelihatannya. sama sekali tidak ada jendela namun entah bagaimana udaranya cukup nyaman.
di tengah ruangan ada meja kayu persegi panjang tanpa kursi. sebuah jam besar, bulat, putih warnanya, tergantung di dinding. ada satu pintu di seberang pintu tempat aku masuk tadi. sama besar ukurannya. entah menuju ke mana.
aku berdiri di samping meja memperhatikan mas Al. dia terlihat cukup santai. mengenakan kaus gelap, celana jeans, dan sepatu kets. rambutnya berminyak rapi.
setelah menutup pintu, ia berjalan pelan ke dekat meja. cukup dekat kami berdiri berhadapan. aku menarik napas dalam lagi.
"aku kaget waktu mas Al divonis kanker. belum sembuh sedih kehilangan Bapak Ibu, mas Al harus menghadapi itu. hari Rabu, 27 Februari tahun lalu, mas Al masuk rumah sakit. nahan sakit di badan, engga kerja lagi, nihil pemasukan padahal biaya pengobatan mahal, plus susah ketemu anak-anak. mas Al pasti juga sedih liat perjuangan mbak Mela. life sucks."
mas Al tertawa kecil sambil mengangkat bahu.
"aku bersyukur sempat jenguk mas Al. kita ngobrol soal bola. tebak-tebakan siapa yang menang antara Liverpool lawan... siapa aku lupa. waktu itu mas Al jawab lirih, ya Liverpool lah.
mas Al lemes dan ga banyak bicara. makan juga enggan. di situ aku mbadut dan sok lucu. lha mas Niko udah ga ada, dirimu sakit, siapa lagi badutnya, ya ga? lagipula itu pas sama request mbak Mela untuk mbangun suasana ceria."
mas Al mengangguk-angguk pelan.
"meski itu penyakit berat, tapi ada beberapa pasien yang sembuh. mereka jenguk mas Al juga kan? aku sempet liat di status WA mbak Mela. waktu itu aku ngerasa harapan sembuh ada. pasti sembuh. pasti sembuh harus sembuh! mas Al harus sembuh cepet atau lambat, biar bisa ikut kumpul Prantiyan lagi."
aku terdiam beberapa saat. suasana pada Rabu, 26 Februari malam di ICU sewaktu mas Alberto meninggal, tergambar jelas di kepalaku.
"terus, aku sedih dan marah waktu ngeliat mas Al di ICU. aku dateng cuma beberapa menit sebelum mas Al meninggal. selang nempel di mana-mana. suara mesin keras tat-tit-tat-tit. mata, hidung, dan mulut mas Al semua ditutup kapas. dada mas Al goyang keras tiap alatnya bunyi, kaki mas Al dingin. tangan penuh lebam biru. mbak Mela, dek Esti, Laras nangis semua."
raut wajah mas Al berubah serius. ia terus menyimak penuh perhatian. kuteruskan kata-kataku, aku tahu waktuku sedikit.
"mbak Mela nyanyi Ndherek Dewi Mariyah. dia ngelus dan cium mas Al. berulang kali berusaha ngeyakinin mas Al untuk gapapa berangkat aja. dek Esti doa rosario di samping telinga mas Al."
malam itu, aku melihat perjuangan yang luar biasa. mas Al tetap berjuang meski badan sudah hancur. mbak Mela pun sama hebatnya. dia berjuang mengalahkan diri, meyakini bahwa mas Al akan bahagia meski berbeda dunia.
"malam itu, mas.. malam itu aku cuma bisa mikir, ini keliru, jalan ceritanya harusnya bukan gini!"
mas Al melirik jam di belakangnya. sial, batinku. baiklah, aku mengerti. aku berjalan pelan ke pintu tempat aku masuk tadi. sedih sekali karena ini perjumpaan terakhir dengan mas Al.
mas Al membuka pintu. derit kembali terdengar. aku melangkah keluar.
"Nug.."
nafasku berhenti. tubuhku kaku. sama sekali tidak menyangka akan mendengar suara ini.
dengan cepat aku membalikkan badan. mas Al tidak terlihat. ia ada di balik pintu.
"waktu itu aku takut. aku kecewa. semua terjadi beruntun. kamu juga baca pesan yang kukirim untuk Prantiyan, kan? meskipun ada Mela dan anak-anak, terkadang aku merasa sendirian. beginikah cara Tuhan sayang sama aku? itu pertanyaan terbesarku saat itu. berulang kali aku berdoa,'kenapa? kenapa harus aku?'"
aku terdiam. tak tahu harus menjawab apa.
"aku bangga pada Mela dan anak-anak. mereka terus kasih aku harapan. mereka percaya aku bisa. aku sedih ngeliat dia capek mondar-mandir. sendirian. aku engga bisa bantu banyak. semua itu emang berat, tapi keteguhan Mela dan anak-anak bikin aku belajar nerima keadaan."
suara mas Al dari balik pintu terdengar tenang dan stabil. aku mencoba membayangkan ekspresi wajahnya.
"setelah hampir setahun aku dirawat, kesehatanku memburuk. kepercayaan diriku pudar."
aku belum pernah berada di situasi mas Al ketika itu. aku tidak bisa membayangkan perihnya perasaan mas Al.
"setahun ini, aku berpikir bahwa aku akan 'menang' hanya kalau aku sembuh. kalau aku mati, aku 'kalah'. di puncak perjuanganku malam itu, aku baru sadar bahwa itu tidak sepenuhnya tepat. sembuh atau tidak bukan urusanku. tugasku cuma satu, berjuang untuk tetap hidup."
kemudian tidak ada lagi suara. mas Al terdiam cukup lama hingga aku ragu dia masih ada di balik pintu yang masih terbuka itu.
"beberapa saat sebelum aku pergi malam itu, (oh syukurlah dia masih ada di situ) aku bersyukur sempat merasakan kelegaan sebagai manusia. meski semangatku besar, tubuhku semakin sulit bertahan. kemudian aku bisa sepenuhnya berpasrah seperti bayi.. sepenuhnya! dan membiarkan sesuatu-yang-tak-kupahami untuk membantu perjuanganku."
pintu mulai berderit lagi. mas Al hendak menutup pintu. aku kira itu adalah kalimat terakhirnya.
"kemudian, di tengah gelap, aku melihat cahaya mendekat. ada suara dari dalam cahaya itu yang berkata :
Alberto,
kamu pejuang yang tangguh!
Aku membutuhkanmu.
Pulanglah!"
aku gemetar mendengar kata-kata mas Al. ingin rasanya mendengar lebih banyak. namun pintu sudah hampir sepenuhnya tertutup. hingga tiba-tiba ada suara lain dari balik pintu satunya :
"Aaaalll! ayo berangkat!"
"ayo Al!"
eh, dua suara itu.......
"begitu dulu ya, Nug. aku harus berangkat sekarang. dadah!"
"eh, tunggu, mas Al!!!!"
aku berlari ke arah pintu. klek! pintu tertutup persis di depanku. kuraih gagang pintu dan dorong sekuat tenaga.
mataku kaget menerima cahaya yang mendadak muncul.
"aduh!" teriakku sambil menutup mata dengan lengan dan memaksa melihat ke depan.
di balik pintu yang kubuka ada sebuah taman di luar ruangan. pohon besar ada di tengahnya. matahari bersinar terang di langit. padang rumput hijau tampak luas sekali. rasanya aku pernah berada di sini. suatu waktu yang lampau... entah kapan dan di mana. tapi, sebentar, di mana mas Al?
di dekat pohon tinggi besar kuperhatikan banyak kupu-kupu berwarna-warni. cantik sekali. mereka terbang mengitari pohon. dan oh! aku lihat ada tiga kupu-kupu terbang mendekat kawanan kupu-kupu itu.
ah! aku ingat sekarang! aku kenal semua kupu-kupu itu. aku pernah berjumpa dan bermain bersama mereka. persis di taman ini juga. sebentar.. tapi bukankah waktu itu mereka sudah terbang tinggi ke langit?
oh iya, begitu rupanya. mereka kembali ke sini untuk menjemput mas Al.
sebelum terbang tinggi, semua kupu-kupu itu berteriak ke arahku. "dadah, Inug! sampai jumpa lagi yaa! salam ya, buat semua!"
aku tersenyum sambil tetap memegang gagang pintu. terkejut semua terjadi dengan sangat cepat. kulambaikan tangan mengantarkan para kupu-kupu terbang ke langit.
+++
aku sungguh bersyukur sempat mendengar cerita mas Al di ruangan itu untuk kemudian aku tulis dan bagikan kepada semua orang. tentang kisah seorang pejuang gigih yang terus bertarung sampai ujung. tak peduli seberat apa. sekian.
(tulisan ini kubuat sebagai refleksi pribadi atas kepergian saudara sepupu, Alberto Christianto Putranto pada Rabu, 26 Februari 2020 di RS Siloam MRCCC, Semanggi. semoga sekarang mas Al sudah bahagia bersama kupu-kupu cantik lainnya. salam ya mas buat semua! see you very soon!)
Comments
Post a Comment