Mie Panjang Umur Kita Anak Negeri
Keluarga saya biasa
merayakan ulang tahun dengan perayaan kecil. Peluk cium di pagi hari dilanjutkan
tiup lilin yang ditaruh di atas kue kecil. Cukup satu lilin, tidak perlu
menyesuaikan usia karena meja makan kami tidak cukup panjang. Kadang kalau tak sempat
beli, kue diganti buah atau satu dua bungkus mie instan. Rasa ayam spesial
tentunya! “Ini namanya mie panjang umur,” kata Ibu sambil terkekeh sendiri. Seperti
mie yang bentuknya panjang-panjang, kami memanjatkan doa agar sehat dan panjang
usia. Tak lupa foto bersama.
Ritual kecil penuh
kehangatan di atas tak lain menggambarkan besarnya rasa syukur. Atas kesehatan,
pencapaian, dan kesempatan hidup. ‘Fuu....uuhh!’ lilin ditiup. Berhembuslah
kesempatan baru ke masa depan penuh harapan, semangat, dan tentunya doa. Tiup lilin
kadang jadi momen resek akibat keisengan menyalakan lilin ajaib yang tak
mudah padam. Ya sudahlah, itulah kehangatan keluarga.
Minggu, 10 Mei
2020, Kita Anak Negeri merayakan hari ulang tahun yang ke enam. Tiup lilin dan ‘mie
panjang umur’ dihelat di rumah masing-masing (ya, Kita Anak Negeri menaati sepenuhnya
kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar). Semua tentu bersyukur atas
kesehatan dan pencapaian yang boleh dinikmati. Bertambahnya jumlah murid dan
instruktur membuat ‘keluarga’ kami semakin besar. Kekompakan ‘anggota keluarga’
juga patut disyukuri bersama. Jangan lupa banyaknya konser yang dihelat di
dalam dan luar dengan kualitas yang semakin lama semakin baik. Melihat semuanya
itu, bagi saya pribadi, sungguh menjadi satu keberuntungan besar bisa bergabung
dalam keluarga bersahaja ini.
| Suasana konser kemerdekaan 2019 (sumber : akun Instagram Kita Anak Negeri) |
Layaknya manusia
yang sedang berulang tahun, refleksi diri pun pasti dilakukan oleh semua personil
Kita Anak Negeri. Ulang tahun adalah momen tepat untuk berhenti sejenak dari kehidupan
sehari-hari dan berkaca. Apa yang sudah dan akan aku lakukan, bagaimana
hubunganku dengan sesama, hal apa saja yang bisa kuperbaiki, dan mengingat
kembali visi misi awal ; who we are dan why we are doing this.
Pendiri Kita
Anak Negeri, Bu Evi Raswandi menuliskan kata-kata demikian di kolom visi : ‘menjadi
sarana pengembangan karya seni musik Indonesia sebagai bagian dari identitas
bangsa’. ‘Wow, luas sekali cakupan visi Kita Anak Negeri!’ batin saya. Memang
demikianlah seharusnya visi dibuat. Luas dan berjangka panjang. Saya bertanya
dalam hati, keprihatinan apa yang kiranya Bu Evi lihat di masyarakat hingga
perlu mendirikan Kita Anak Negeri dengan visi demikian?
Saya mencoba
menganalisis. Beliau adalah dokter. Banyak berinteraksi dengan pasien dan
keluarga pasien di berbagai kota. Beliau pasti melihat dengan mata kepala
sendiri ragam kualitas hidup manusia Indonesia. Yang paling rendah hingga super
mewah. Yang di kota besar hingga pedalaman. Saya bayangkan pengalaman itu
membuat Bu Evi merasa terpanggil untuk meningkatkan keberadaban bangsa secara kolektif.
Beliau ingin menciptakan masyarakat berbudaya luhur. Bangsa Indonesia bermental
kuat, berpikiran jernih, dan bertubuh sehat. Saya rasa demikian cita-cita Bu
Evi.
| sumber : akun Instagram Kita Anak Negeri |
Lalu saya bertanya
lagi, kira-kira apa definisi sederhana untuk ‘berbudaya luhur’? Hmm, budaya adalah
cara hidup ; cara berpikir ; cara menanggapi sesuatu. Maka, karakter manusia
berbudaya luhur adalah reflektif, empati, dan berpikir untuk kemajuan bersama. Mulai
dari hal sepele urusan sehari-hari hingga urusan besar. (Kita Anak Negeri taat kebijakan
PSBB tentu jadi salah satu bukti kami manusia berbudaya luhur, bukan?)
Atas dasar
pikiran singkat dan agak sok tau (tulisan dibuat blas tanpa wawancara
dan hanya berbasis observasi alias nebak) itu saya meng-oh pantas
saja-kan keputusan Bu Evi untuk mengangkat dua aktivitas utama di Kita Anak
Negeri, yaitu edukasi musik dan pengembangan komunitas. Semua orang tahu
pendidikan yang baik adalah kunci untuk meningkatkan kualitas hidup. Namun
sebagai manusia, kita takkan pernah bisa hidup nyaman saat hanya memikirkan
diri sendiri. Kita harus saling mengembangkan.
Hampir semua orang
yang berulang tahun membuat semacam agenda atau janji pada diri sendiri. ‘Okay,
di usia ini, aku akan......, ........., .........., dan .........! Aku JANJI!!!’
(BLARRR disusul suara petir keras di khayalan sendiri sebagai peneguh janji).
Suatu hal yang sungguh positif karena semua tanda titik-titik tadi pasti berisi
hal yang dianggap baik. Kalau saya, kata ‘diet’ dan ‘pengen kurus’ selalu
saya masukkan di dalamnya untuk kemudian (agak) saya kesampingkan dan masukkan
lagi di tahun depannya, huff...
| sumber : akun Instagram Kita Anak Negeri |
Supaya bisa berkelanjutan,
kualitas produk tentu harus selalu meningkat. Kita Anak Negeri memiliki banyak
instruktur dan personil manajemen yang saya yakin selalu siap untuk melakukan
pengembangan diri. Ada satu materi pengembangan yang mungkin cukup unik namun
baik untuk coba dilakukan, yaitu menciptakan irisan di antara lingkaran
instruktur dan manajemen. Yaitu dengan menciptakan ‘instruktur rasa manajemen’
dan juga sebaliknya, ‘manajemen rasa instruktur’.
Instruktur
dengan pemahaman mendalam tentang manajemen tentu akan memiliki pertimbangan
lebih luas dalam menciptakan kreasi di divisinya. Demikian juga sebaliknya, personil
manajemen berbekal pengetahuan teknis mengajar akan sanggup menelurkan kebijakan
yang lebih dapat diaplikasikan. (Tentu kita semua makin sadar bahwa kemajuan
teknologi dalam beberapa hal telah mendobrak kotak-kotak deskripsi pekerjaan
seseorang.)
‘Berpuas diri’ adalah
musuh bersama di Kita Anak Negeri. Bukan untuk kemudian menjadi ambisius dan
menghalalkan segala cara, namun untuk selalu mengasah otak demi penciptaan
nilai tambah. Mengenali lebih dalam kebutuhan masyarakat tentu sudah dan akan
selalu Kita Anak Negeri kerjakan, salah satunya dengan terjun langsung ke
masyarakat lewat sesi berbagi di sekolah umum. Saya mencontohkan nilai tambah sederhana
di divisi tempat saya berkarya, Piano Klasik. Kepala Divisi Ananda Sukarlan memasukkan musik daerah
Indonesia ke dalam materi ujian sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat untuk
melestarikan budaya Indonesia.
| sumber : akun Instagram Kita Anak Negeri |
Ada banyak nilai
tambah lain yang bisa dikembangkan. Dalam bidang psikologi perkembangan anak misalnya
yang tentu mendesak untuk segera dikembangkan mengingat besarnya kesadaran
masyarakat akan pengaruh positif pendidikan musik bagi kesehatan mental.
Masyarakat semakin sadar bahwa belajar musik bukan hanya mengenai cara
memainkan instrumen, melainkan jauh lebih besar, yaitu belajar cara hidup, cara
menghargai orang lain, cara mendengarkan diri sendiri, cara melatih disiplin
diri, dan banyak keterampilan lunak lainnya. Dan seandainya memang demikian,
lalu apakah kemudian memungkinkan dikembangkan sistem penilaian yang juga
berbasis proses (tidak melulu berbasis hasil akhir) meskipun saya yakin ini pemikiran
yang cukup aneh di bidang seni pertunjukan.
Kita Anak Negeri
mencapai usianya yang ke enam. Seorang anak biasanya mulai berpindah dari TK ke
SD. Pengalaman baru, petualangan baru, teman baru, dan lingkungan sekolah yang
baru. Kita Anak Negeri merayakan ulang tahun ke enam di tengah kebijakan
karantina diri akibat wabah. Kondisi yang menguji keberlangsungan hidup
organisasi. Kita Anak Negeri dipaksa berpikir kreatif dan semakin mengiyakan
bahwa perubahan itu kontinyu.
| sumber : akun Instagram Kita Anak Negeri |
Pencapaian wajib
disyukuri. Ulang tahun boleh dinikmati. Masa depan harus disiasati.
Selamat ulang
tahun, Kita Anak Negeri! Teruslah memberi warnai (diberi akhiran 'i' ceritanya supaya bersajak
meski maksa banget!) NUG
Comments
Post a Comment