Kepincut Ratu Sari (17) - Nyuit Nyuit Nyuit
Hari ini saya mengajar tiga sesi. Sesi pertama berlangsung di sore hari. Sesi kedua di sore hari. Sesi tiga sore hari juga. Iya, semua sore. Pernah mengemudi sore hari saat pandangan mulai kurang jelas? Terang siang sudah tidak, gelap malam juga belum. Tidak jelas. Beberapa orang sangat terganggu. Nah, demikian juga dengan kondisi sinyal saya sore ini. Tidak jelas.. dan ngganggu!
Sesi pertama dimulai pukul lima sore. Sekitar 20 menit menjelang sesi berakhir, sinyal kacau. Akhirnya komunikasi saya dengan murid juga kacau.
Nyuit.. Nyuit........ Nyuiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittt...........
Benar itu suara sinyal kacau? Asumsikan saja demikian. Sesi pertama terpaksa diundur. Sesi dua juga diundur. Sesi tiga? Sama. Diundur juga.
Pernah ada gambar lucu di internet. Gambar partitur musik Minuet in G Major karya Johann Sebastian Bach.
(Kalian semua pasti tahu, terkenal banget kok. Yang begini lho : Teng.. Neng neng neng neng neeng.. deng deng.. Teng.. Neng neng neng neng neeng.. deng deng.. Pasti pernah dengar kan?)
Tidak banyak tanda aksen di musik itu. Mayoritas not berketukan lambat. Musik Bach di gambar tersebut berubah. Penuh aksen, tanda istirahat, dan not ketukan cepat. Rupanya itu sindiran terkait kualitas sinyal di Indonesia. Sinyal buruk membuat permainan musik seseorang di satu tempat terdengar kacau beliau oleh orang lain saat berkomunikasi daring di tempat lain.
Awal masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saya sering mengalami hal serupa. Namun, kira-kira satu bulan berselang, sinyal mulai berlembut hati. Sesi kelas berjalan lebih lancar. Audio video jelas. Sinyal mulai berdandan sepertinya. Cantik dan wangi sekali ia. Sungguh mempesona meski sesekali, di jam-jam padat, lipstiknya belepotan.
Kelas daring butuh siasat. Komunikasi tidak selancar tatap muka. Beberapa hari sebelum sesi, biasanya saya kirim video tutorial. Durasi tujuh sampai sepuluh menit. Isinya materi les dengan koreksi terbaru sesuai sesi terakhir. Murid bisa belajar mandiri dari video tersebut (biasanya saya unggah ke Google Drive lalu kirim tautan).
Saya minta murid untuk mengirimkan video permainan mereka satu hari sebelum sesi les. Untuk melihat kualitas permainan murid secara jernih tanpa terganggu nyuit nyuit nyuit. Ide ini baru saja saya terapkan. Cukup terlambat karena PSBB sudah berjalan beberapa bulan.
Pada hari sesi les, saya tinggal menyampaikan koreksi dan melakukan sedikit latihan pengulangan bersama murid. Tidak perlu meminta murid bermain utuh lagi karena sudah mendengarkan rekaman sehari sebelumnya.
+++
"Itu La Re Mi, bukan Sol Re Mi."
"Iya, ini udah.."
"Kamu masih main Sol Re Mi. Harusnya La Re Mi."
"Ini udaaaaahhhh!!!!!"
"Itu muncul dua kali. Yang pertama kamu udah bener. Tapi yang kedua masih keliru."
"INI UDAAAHHH!!!!"
"YANG KEDUAAAA!!! Bukan yang pertama!"
"UDAAAAAAAHHHHH INIIIIIIII!!!!!!"
Nyuit nyuit nyuit merusak komunikasi saya dengan murid. Saya merasa sudah memberikan arahan yang jelas, murid merasa sudah melakukan apa yang saya arahkan.
Beruntung dukungan dari orang tua murid sangat besar. Opsi jalan keluar dicarikan,"Sebelum kelas mungkin bisa cek kualitas audio video dulu, Kak." Benar saja. Saat satu platform buruk kualitas koneksinya, ternyata belum tentu platfom lain berkualitas serupa. Yes, makasih, Bapak Ibu!
+++
Salah satu tempat saya mengajar menawarkan opsi kelas tatap muka per Juli 2020. Hmm... Jujur saya merasa cemas. Saya tidak tahu siapa yang akan saya temui dan bagaimana kondisi mereka. Saya cukup yakin dengan daya tahan tubuh saya dan istri. Tapi bagaimana dengan keponakan yang masih balita dan orang tua yang sudah sepuh?
Memang banyak protokol kesehatan yang bisa melindungi kita. Namun, saat kita tahu kebiasaan kurang baik orang lain di sekitar kita sebelum pandemi, maka kita akan lebih waswas. "Benarkah di saat seperti ini perilaku mereka berubah?" Maaf kalau berburuk sangka. Belum lagi penambahan (dan perluasan area) korban positif Covid 19 setelah PSBB dilonggarkan.
Saya pribadi lebih memilih kelas daring sejujurnya. Paling tidak untuk saat ini. Asal kita rajin dan mau berbuat lebih, nyuit nyuit nyuit bisa diakali kok.
Itu pilihan saya.
Ba... gai..... na
de......... nga.........
ka...........?
Halo?
![]() |
| Antah berantah zaman dinosaurus |
(Kepincut Ratu Sari adalah singkatan dari Kelas Piano dalam Cuplikan Tulisan Seratus Hari. Tantangan bagi saya sendiri untuk membuat catatan berbagai aktivitas menarik di kelas piano. Catatan berlangsung selama 100 hari. Hari ini adalah hari ke 17.)

Comments
Post a Comment