Kepincut Ratu Sari (26) - Kepalan Tinju Kaum Difabel

"Halo, mas Ananda."

"Oh, halo, Nug!"

"Lama ga ketemu. Sehat, mas?"

"Sehat.. sehat, terima kasih. Oh, ini ya temen-temenmu?"

"Betul, mas. Kenalin ini temen-temenku dari panti. Makasih ya undangannya, mas."

"Sama-sama. Saya juga seneng bisa ketemu kalian. Yuk, kita ngobrol. Nanti saya mau main piano buat kalian."  


+++


Malam itu, Rabu, 1 Juli 2020, saya bersama teman-teman panti anak berkebutuhan khusus mendapat undangan menghadiri sesi berbagi Ananda Sukarlan di sebuah hotel di Jakarta Selatan. 

"Oh itu Kak Ananda Sukarlan. Wuaaahhh, bisa liat langsung orangnyaaa... Mas Inug, nanti minta foto dong! Ya, mas, ya.. Please.." kata Bekti. Ia suka sekali musik Ananda Sukarlan. Bekti suka bermain piano meski tangan kanannya hanya punya dua jari. 

"Iya iyaaa.. Nanti! Heh! Itu Anin jangan ditinggal!"

"Oh iya, maaf, Nin. Lupa. Anin juga bengong aja nih, ga manggil.."

Anin diam saja. Ia terbengong melihat Ananda Sukarlan. Merasa heran bisa berjumpa dengannya. Anin juga suka piano. Kaki Anin tidak berfungsi sejak kecil sehingga harus menggunakan kursi roda.

Saya juga mengajak tiga pemuda lainnya yang semuanya suka piano. Odin adalah seorang pemuda ceria yang tidak bisa melihat. Ia selalu didampingi oleh Yosi yang hanya punya satu tangan, yakni tangan kiri. Sasa hanya punya tiga jari di tangan kiri. 

"Disabilitas itu apa sih? Seseorang menjadi disabled terkadang karena situasi di sekitar tidak mendukung. Masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhannya yang khusus itu," kata Ananda memulai sesi.

Saya bersama lima teman berdiri memperhatikan. "Contohnya di hotel ini. Kalau seseorang kakinya tidak berfungsi, terpaksa menggunakan kursi roda, tidak bisa mengakses ke mana-mana. Apakah itu salah dia? Bukan! Yang membuat dia disabled adalah tempat ini." kata Ananda. Saya melirik ke arah Anin.    

Ananda mengajak kami berjalan ke arah piano di tengah lobi. Sejak tahun 2006 Ananda bersama 10 komponis dari 10 negara bekerja untuk sebuah yayasan di Spanyol mencipta karya dengan desain untuk musikus berkebutuhan khusus. Karya-karya tersebut tetap harus memiliki nilai artistik yang tinggi. "Jadi, tidak ada lagi perkataan bahwa orang berkebutuhan khusus tidak bisa main musik," tegas Ananda.

Aduh! Saya kaget tangan kanan saya ditarik keras. Bekti mulai berulah. Ia sangat tertarik mendengar kalimat terakhir Ananda.     

Ananda duduk di bangku piano sambil menunjuk satu sofa cukup besar di dekat piano."Silakan," ia mempersilakan kami duduk. Huff, nyaman sekali sofa ini. Berbeda jauh dengan sofa di panti yang jarang dibersihkan.

"Sunset Modulations," kata Ananda,"adalah musik yang saya ciptakan untuk dimainkan dengan tiga jari tangan kiri dan dua jari tangan kanan."        

Di panti, kami kerap mendengarkan musik sambil berimajinasi. Demikian pula saat mendengar musik Ananda. Kami seakan lupa sedang berada di mana. Saya sendiri mendadak berada di pinggir pantai melihat matahari terbenam dengan perasaan rindu. Saya melirik ke arah teman-teman. Sasa dan Anin memejamkan mata mereka. 

Ananda melanjutkan dengan beberapa karya lainnya. The Clarinettist and The Mouse Deer, sebuah karya lincah untuk pianis dengan kaki tidak berfungsi. Theme from Anak Kambing Saya, karya untuk satu tangan. Airport Blues karya untuk pianis dengan otot tangan kiri tidak bisa digerakkan. Lonely Child yang Ananda mainkan dengan tiga jari tangan kiri dan sebuah pensil di tangan kanan.  


+++


"Ke toilet. Cuma sebentar," bisik saya pada Yosi. Saya berdiri dan berjalan meninggalkan mereka. Saya hanya ingin menyendiri dan merenung sebentar.  

Sudah lama saya mengenal Anin, Bekti, Yosi, Odin, dan Sasa. Berulang kali mereka menonton penampilan pianis-pianis di YouTube. Mereka tidak pernah peduli pandangan orang lain. "Kita sudah biasa diejek. Udah cuek," kata Odin. Mereka hanya berfokus pada satu hal, mencari cara untuk menggapai mimpi.    

Malam itu saya lihat Ananda sedang membuka pikiran mereka. Berani bermimpi hal tergila sekalipun. Menggapai impian tidak pernah menjadi hal ringan. Namun tidak punya mimpi membuat hidup lebih sulit.

Saya berdiri di depan kaca toilet. Menarik napas dan merenung. Betapa sering saya mengeluh meski punya anggota tubuh lengkap. Betapa sering saya merasa hidup tidak adil. Sekarang saya merasa betapa bodohnya saya. 

Sering saya merasa menjadi orang paling beruntung di dunia saat berkunjung ke panti. Saat bertemu lima teman istimewa yang selalu menyambut dengan ceria. Seingat saya belum pernah satu kalipun saya mendengar mereka mengeluh soal kehidupan. Energi mereka selalu positif dan itu menyebar ke semua orang. Air mata saya mulai menetes. Air mata bahagia.


+++


Michael Anthony, pianis tuna netra dan autis sedang memainkan piano untuk lima temanku. Wow, keren sekali. Ia memainkan Rapsodia Nusantara No. 10 yang digubah berdasarkan musik daerah Bali, Janger. Hahaha, saya lihat teman-teman terpukau. Ya, Michael Anthony memang luar biasa. Saya tidak bisa membayangkan betapa kerasnya dia berlatih.  

Oh, rupanya sesi berbagi sudah mau rampung. Saya berjalan mendekat. Kami berpamitan pada Ananda seraya mengucapkan terima kasih. Tatapan mata teman-teman berbinar penuh harapan. Ya, saya paham rasanya. 

"Eh, Nug! Nug! Sebentar.."

"Ya, mas?"

"Aku kasih bonus. Kalian duduk lagi deh."

Kami duduk lagi di sofa maha nyaman itu.

"Nah, sebetulnya, kita semua adalah orang dengan disabilitas. Saya pun demikian saat ingin bermain piano dengan lebih dari dua tangan. Ini dia cuplikan Variations on Kusbini's Bagimu Negeri yang seakan-akan dimainkan dengan tiga tangan! 

Ananda kembali memainkan piano dengan menggelegar. Benar perkataannya. Kita seperti mendengar musik yang dimainkan tiga tangan. Kita bertepuk tangan keras setelah musik selesai dimainkan. "Hebaaat!!!" teriak Bekti.  

Ananda tersenyum ke arah kami. Kami kembali berpamitan. Terima kasih Ananda Sukarlan.

Saya mengajak teman-teman berjalan ke arah pintu keluar hingga tiba-tiba Ananda berteriak ke arah kami. "Hai, kalian! Jadi, disabilitas itu sebenarnya apa sih?" katanya sambil mengepalkan tangan ke atas.

Kami tersenyum dan balas mengepalkan tinju kami ke langit. 


+++

tulisan ini cerita fiksi yang saya buat setelah menonton video Disabilitas dalam Bermusik : Belajar Piano bersama Ananda Sukarlan untuk Anak Berkebutuhan Khusus. 


 
(Kepincut Ratu Sari adalah singkatan dari Kelas Piano dalam Cuplikan Tulisan Seratus Hari. Tantangan bagi saya sendiri untuk membuat catatan berbagai aktivitas menarik di kelas piano. Catatan berlangsung selama 100 hari. Hari ini adalah hari ke 26.)

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!