Kepincut Ratu Sari (37) - Kesalahan Terbesar Pengajar Musik

Beberapa waktu yang lalu saya sempat menonton salah satu video TEDx di YouTube. Pemain bass Victor Wooten menjadi pembicara. Judul video itu adalah Music as a Language atau Musik sebagai Bahasa. 

Cara bicara Wooten pelan dan jelas. Jelas ia sangat menguasai topik. Tiap kalimat, bahkan kata, sangat berarti. Saya ingin sekali membagi refleksi yang saya peroleh dari video berdurasi 18 menit 30 detik itu. 





Saya membaginya ke dalam dua sesi tulisan. Hari ini dan esok. Cerita yang ingin saya sampaikan hari ini adalah refleksi Victor Wooten tentang pendidikan musik yang ia alami sejak kecil. Demikian.


+++       


Wooten membuka sesi berbagi dengan bercerita tentang kelompok musik keluarga. Empat orang kakak laki-lakinya sudah bermain musik. Mereka butuh pemain bass. Wooten bercanda dengan mengatakan bahwa ia sengaja dilahirkan untuk menjadi pemain bass. Saat melihat kembali ke proses belajar di masa kecil, Wooten berkata,"Saya menyadari bahwa saya tidak benar-benar diajari (musik)." 

Tentu saya sedikit bingung dengan pernyataan tersebut di awal video. Apa maksudnya? Apakah tanpa berlatih musik Wooten mendadak jago? Ternyata bukan begitu maksudnya. 

Dalam video itu Wooten menggunakan perumpamaan bahasa. Musik adalah bahasa. Kalau kita mengingat bagaimana belajar bahasa ibu pada saat masih kecil kita baru menyadari bahwa kita tidak benar-benar diajari. "Orang-orang berbicara saja padamu. Dan yang paling menarik adalah bahwa kita (sebagai bayi atau anak kecil) diperbolehkan berbicara balik," ujar Wooten.

Biasanya pemusik pemula tidak berkesempatan bermain bersama pemusik yang lebih hebat. "Pemusik pemula terjebak di kelas pemula," katanya. Namun dalam konteks bahasa, bahkan saat kita masih bayi, kita (dalam istilah musik) melakukan jamming (bermain musik bersama tanpa latihan sebelumnya) dengan para profesional. Tidak ada yang mengusir bayi atau anak kecil dan menyuruh mereka kembali kalau sudah jago berbicara. 

Selain itu juga tidak ada yang mengoreksi apa yang harus kita katakan. Bahkan saat kita keliru, orang tua ikut-ikutan keliru. "Hal yang paling keren adalah kita tetap bebas dalam menentukan bagaimana cara kita berbicara," kata Wooten.   

Saya terbengong mendengar Wooten bicara sampai di situ. Sudut pandang yang ia gunakan sangat unik. Memang benar banyak pihak mengistilahkan musik sebagai bahasa. Namun baru kali ini saya mendengar penggunaan penggambaran bahasa sampai ke proses belajarnya. Cara pandang ini keren sekali! 

Saat masih kecil, Wooten belajar bahasa Inggris dan musik dalam waktu bersamaan. Juga dengan cara yang persis sama. "Biasanya saya bilang mulai belajar di usia dua sampai tiga tahun. Namun sebetulnya kita semua belajar bahkan sejak sebelum lahir yakni sejak kita mulai bisa mendengar," jelas Wooten. 

Nah, sampai di sini saya mulai sedikit paham (baru sedikiiiiit sekali) akan esensi penjelasan Wooten. Ia menjabarkan ulang definisi 'belajar'. Definisi belajar musik biasanya identik dengan berlatih memainkan instrumen. Namun sepertinya ia menggunakan definisi yang jauh lebih luas. 


https://funkysoulvinyls.wordpress.com/2013/03/25/whos-the-greatest-funk-bass-player-10-victor-wooten/


Wooten bercerita kakak sulungnya sungguh pintar dalam menemukan cara melatih dirinya. "Seharusnya kakak sulungku yang berbicara di sesi TEDx ini,"canda Wooten. Kakak sulung Wooten tidak memberikan bass ke Wooten kecil. Hal pertama yang mereka lakukan adalah bermain musik di sekitar Wooten. 

Saat itu di depan Wooten adalah bangku plastik. Di atasnya ada gitar mainan Mickey Mouse. Tidak ada yang memberi tahu Wooten bahwa itu untuk dia. Ia tahu dengan sendirinya. Ia mengambilnya dan memainkannya sendiri. "(Dalam bahasa) sama seperti tidak ada yang memberi tahu bahwa ini giliran kita untuk berbicara," katanya.   

Saat fisik Wooten sudah agak besar kakak sulung memberinya instrumen. Bukan untuk dimainkan dengan teknik bermacam-macam namun hanya supaya ia memegang instrumen. Wooten lalu berkata demikian,"Itu kesalahan terbesar kita para pengajar musik yaitu mengajarkan murid cara bermain instrumen terlebih dahulu bahkan sebelum mereka mengerti musik."

Dalam bahasa, Wooten menggunakan perumpamaan,"Kita tidak mengajarkan anak-anak cara mengucapkan 'susu' dengan benar sebelum mereka meminumnya selama bertahun-tahun, bukan?" 

Sampai di sini saya terhenti sejenak. Sering sekali saya melupakan hal sederhana semacam ini. Saya sering melakukan kesalahan yang sama. Baik pada murid maupun diri sendiri. Terlalu berfokus pada instrumen dan melupakan tujuan dasar adanya instrumen yaitu musik itu sendiri.   


https://funkysoulvinyls.wordpress.com/2013/03/25/whos-the-greatest-funk-bass-player-10-victor-wooten/


Sambil memegang instrumennya, Wooten ikutan berjoget. Namun ia tetap tidak diajarkan cara memainkan instrumen. "(Saat itu) aku belajar untuk bermain musik bukan bermain instrumen," terangnya.

Kelamaan Wooten paham makna dari pukulan drum kakaknya. Mirip seperti anak kecil yang paham makna orang tua meninggikan suara saat berbicara meskipun anak tersebut belum paham makna kata-kata. "Saat aku memegang instrumen sungguhan di tanganku, aku sudah sangat musikal," ujar Wooten. 

Alat musik pertama Wooten adalah gitar dengan dua senar tinggi diambil. Woteen diajari untuk membunyikan not di lagu yang dia sudah tahu. "Aku tidak memulai sebagai pemula. Aku hanya tinggal memasukkan musik itu lewat instrumen," katanya. Hal itu serupa dengan belajar bicara. Kita tidak berfokus pada instrumen mulut. Kita berfokus pada apa yang harus kita sampaikan.

Sewaktu kita belajar kata baru di dalam bahasa, guru akan mengajarkan makna dari kata tersebut. Kita diberi tahu konteks yang tepat untuk menggunakan kata tersebut. Justru bukan tentang cara pengucapannya. Sama seperti musik. Berlatih itu memang penting dan bermanfaat. Namun lebih baik bila kita tahu konteks penggunaannya. 

Saya kembali berpikir. Dalam konteks sehari-hari saya, betapa seringnya saya berlatih tanpa tahu tujuan latihan tersebut. Contoh saat saya berlatih teknik terus menerus tanpa mengaplikasikannya di lagu tertentu. Lebih buruk lagi saya juga seringkali melakukannya pada murid-murid. Akan lebih baik bila saya ceritakan tentang konteks yang digunakan dan langsung mengaplikasikannya.  

Wooten bercerita usia lima tahun dia sudah bergabung dalam tur musik bersama kakak-kakaknya. 

Wooten : Waktu itu saya tampil dalam pembukaan pertunjukan penyanyi Curtis Mayfield

Penonton TEDx : Woooowww! 

Wooten : Tapi kalau saya pikir-pikir, memang di usia lima tahun kita sudah bisa bicara dengan lebih lancar kan? Kalau di dalam musik, kenapa tidak? 

Kita harus memelihara sesuatu yang memang ada pada bayi sejak lahir yaitu kebebasan. Banyak dari kita yang justru menjadi tidak bebas saat belajar ke pengajar musik. 

Kebebasan itu Wooten gambarkan seperti seseorang yang bernyanyi di kamar mandi. "Saya bertemu seorang yang berkata dirinya adalah Ella Fitzgerald saat berada di kamar mandi," kata Wooten disambut tawa penonton. Kita tidak bernyanyi karena memahami not yang benar. Kita bernyanyi karena merasa itu menyenangkan. 

Kebebasan itu seringkali hilang justru karena memulai proses belajar. Namun kita masih bisa meraihnya kembali. "Jangan khawatir, kebebasan itu tidak hilang selamanya," jelas Wooten. 

Saya mencoba memahami refleksi Wooten terkait kebebasan itu dengan sangat berhati-hati. Saya mencerna pelan-pelan dan menggabungkan refleksi Wooten dengan kondisi riil di lapangan. Jangan sampai saya kemudian salah mencerna dan malah keliru menafsirkan refleksi Wooten. Bagaimanapun refleksi Wooten ini sangat baik dan semoga bisa bermanfaat.
   

https://funkysoulvinyls.wordpress.com/2013/03/25/whos-the-greatest-funk-bass-player-10-victor-wooten/


(Kepincut Ratu Sari adalah singkatan dari Kelas Piano dalam Cuplikan Tulisan Seratus Hari. Tantangan bagi saya sendiri untuk membuat catatan berbagai aktivitas menarik di kelas piano. Catatan berlangsung selama 100 hari. Hari ini adalah hari ke 37.)

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!