Refleksi Akhir Tahun 2020 (1/4) : Kerja Barengan

Hari ini tanggal 28 Desember 2020. Beberapa hari lagi kita akan memainkan nada pertama di tahun 2021. Cepat sekali bukan waktu berlalu? Tahun depan sudah 34 tahun usia saya. Kok, rasanya saya lupa kapan SMP, SMA, dan kuliah? Apakah hidup saya melompat dari SD langsung ke dewasa? Lalu.. sepertinya baru saja menyaksikan berita banjir hebat di awal tahun 2020. Kenapa sekarang sudah hendak awal tahun baru lagi (yang semoga jauh dari bencana)?  

Namun, bagi sebagian dari kita, guliran waktu tahun 2020 terasa sungguh lambat, berat, dan menyesakkan. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang kehilangan sanak famili atau sahabat yang meninggal akibat terinfeksi virus corona. Banyak pula yang masih punya keluarga, tapi sangat sulit bertemu. Mereka berjuang menyelamatkan banyak orang agar bisa lekas berkumpul dengan keluarga. Sungguh miris, mereka harus menghindari tatap muka dengan keluarga karena resiko menjadi pembawa paparan virus.

Sebagai pengajar les piano, tentu saya kaget menghadapi tahun 2020. Les tidak bisa dilangsungkan secara tatap muka. Lho, bagaimana ini? Sebagian besar murid memutuskan berhenti les. DUUAARR! Ini berita berat untuk kondisi finansial saya. Huff, ngos-ngosan rasanya. Tapi beruntung saya masih bisa bekerja mengingat banyak terjadi pemutusan hubungan kerja di luar sana. Seorang sahabat saya, pengajar musik juga, kehilangan pekerjaan dan menjadi penjual bawang goreng. Hebat dia tetap positif memandang kehidupan dan terus bergerak maju.  

Eh, eh, eh... Walah, les piano terpaksa dilakukan secara daring. Mata yang biasanya menatap langsung tangan murid, sekarang harus melalui media layar gawai. Adaptasi dalam mengajar harus secepat mungkin dilakukan. Sistematika mengajar segera disesuaikan. Sungguh beruntung saya punya murid dan orang tua murid yang sabar, suportif, dan adaptif.

Sebagian besar waktu saya habiskan di rumah. Diskusi dengan istri saya, Kiky dan rekan pengajar musik pun kerap dilangsungkan. Alhasil, ada beberapa ide yang kita eksekusi di tahun 2020. Bersyukur sekali ide sederhana itu bisa tuntas kita kerjakan plus membawa manfaat bagi orang lain.


Siswa Musik Peduli 

Tengah tahun, saya, Kiky, dan rekan pengajar musik, Kak Grace menggagas gerakan Siswa Musik Peduli. Itu adalah konser amal yang kita selenggarakan untuk memfasilitasi murid les musik agar bisa tetap tampil dari rumah dan membawa manfaat bagi orang lain. (Detil bisa dilihat di Instagram dengan tagar Siswa Musik Peduli atau membaca buku Kepincut Ratu Sari yang beberapa hari lagi segera terbit. =D)

Saya bersyukur gerakan Siswa Musik Peduli, berkolaborasi dengan Semua Murid Semua Guru, bisa menghasilkan sejumlah donasi ikut membantu sumbangan paket belajar non digital bagi siswa dari keluarga rentan. Saya bangga sekali ide ini bisa bermanfaat untuk orang lain. Terima kasih banyak kepada semua orang yang sudah ikut berpartisipasi sebagai penampil maupun donatur.

Saya juga bersyukur ada banyak sekali pemusik yang terlibat. Ada yang bermain piano solo musik Bach, menyanyikan Burung Kakaktua sambil bermain gitar, memainkan musik klasik instrumen biola, tampil dalam format band, hingga seorang balita menyanyikan Cublak Cublak Suweng dengan sangat serius sambil memegang mikrofon mainan.

Saat itu ada beberapa rekan pemusik yang menolak bergabung karena kesibukan atau tidak memperoleh imbalan. Saya sangat paham dan tidak menjadikan itu masalah sama sekali. Nilai yang seseorang kejar dalam hidup memang berbeda-beda. Dalam situasi pandemi seperti saat ini, rekan-rekan pemusik pasti harus banting tulang mencari pemasukan tambahan karena murid les berkurang dan panggung tidak banyak dibuka. Apapun kondisinya, semoga kita semua tetap sehat dan waras ya, guys!  

Kolaborasi dengan Semua Murid Semua Guru dalam gerakan Siswa Musik Peduli membawa saya ke satu sesi Temu Pendidik Nusantara sebagai pembicara. Temu Pendidik Nusantara atau TPN adalah tempat berkumpulnya banyak pengajar dari berbagai belahan nusantara berbagi praktik baik yang telah digagas dan dilakukan. Sebagai pengajar les, saya bangga sekali bisa bergabung di TPN. Saat itu, setahu saya, belum banyak pengajar les yang ikut berbagi.  


Kepincut Ratu Sari  

Saya juga membuat proyek menulis, yaitu Kepincut Ratu Sari alias kelas piano dalam cuplikan tulisan seratus hari. Saya menulis refleksi sehari-hari di dalam blog selama 100 hari berturut-turut. Sungguh bersyukur saya tidak bolong pun sehari.

Menjaga komitmen adalah pelajaran paling terasa. Saya sengaja berkoar di media sosial bahwa Kepincut Ratu Sari dilangsungkan 100 hari berturut-turut tanpa jeda. Dengan begitu, saya bisa mendapat malu bila tidak mengunggah tulisan. Klik! Saya terkunci di dalamnya selama 100 hari. Biar saja! 

Saat itu, saya banyak mengorbankan keinginan membuat tulisan sempurna demi mengejar konsistensi mengunggah tulisan. Namun, saya mendapati bahwa keinginan sempurna butuh batasan. Saya belajar berseru 'Stop!' dan 'Cukup!' pada diri sendiri.

Seringkali, keinginan sempurna justru menghambat langkah maju. Fokus saya hanya satu, menuntaskan tulisan setiap hari. Saya bisa menentukan langkah dengan lebih mudah berkat adanya fokus yang jelas. Saya tahu apa yang harus dilakukan sejak bangun tidur. Oh iya, waktu itu, sejak membuka mata pun otak saya langsung berpikir hendak menulis apa di hari itu, hahaha! 

Satu lagi yang sangat saya syukuri adalah kegiatan menulis membuat saya bisa melihat situasi secara lebih jernih. Saya mendapati banyak sekali kekurangan dari diri yang harus lekas dibenahi. Saya juga melihat ada banyak kelebihan dari murid yang kadang terlewat karena terlalu fokus pada hal remeh lainnya. 

Bagaimana kegiatan menulis membantu saya menemukan hal-hal demikian itu? Bagi saya, proses menulis sama seperti berdiskusi dengan diri sendiri. Ada dua suara yang berbunyi di kepala. Satu, suara penuh keluh kesah, temperamen, dan pesimis melihat dunia. Satu lagi, entah siapa, suara yang positif, berkepala dingin, dan bijaksana. Saya memperhatikan seksama diskusi keduanya dan hanya berperan mencatat semacam notulen pertemuan. 

Usai notulen ditulis, dua suara itu kembali melebur, dan saya menjadi pribadi yang baru. Diri seusai menulis tidak sama dengan diri sebelum menulis. Itu berlangsung terus menerus dengan sedikit demi sedikit perubahan ke arah hidup adaptif dan produktif.  

Saat ini, seluruh tulisan di dalam blog sudah saya turunkan. Teman-teman bisa tetap membaca tulisan saya dalam buku yang akan segera terbit beberapa hari lagi. Awalnya tidak pernah sekalipun terpikir untuk menjadikannya buku. Berkat dorongan teman dan saudara, saya mengajukan 100 tulisan tersebut ke salah satu penerbit milik seorang sahabat, Diaz Radityo, dan diterima untuk diterbitkan menjadi buku. Hahaha, cihuuuui! Tunggu sebentar lagi ya!  


Lomba Cipta Lagu

Saya dan seorang teman pengajar musik, mas Bayu, mengikutkan beberapa karya ke lomba cipta lagu. Pembagian tugasnya cukup jelas, mas Bayu senang menulis musik sementara saya senang menulis lirik. 

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengadakan lomba cipta lagu dengan topik inklusi. Ini topik yang sangat penting menurut saya. Masyarakat Indonesia harus bisa hidup bersama di dalam perbedaan. Bukan cuma perbedaan budaya, ras, dan agama, namun juga kondisi fisik dan mental. Kita harus bisa hidup berdampingan dengan saudara yang dilahirkan dengan kondisi fisik dan mental berbeda. Bangsa yang maju, di mata saya, bisa menerima perbedaan dan melihatnya sebagai kekayaan.

Saya dan mas Bayu bekerja keras menggarap satu lagu dan kita kirim ke panitia. Saat itu, saya baru ingat ada dua kategori tersedia. Kategori musik untuk anak SD serta kategori untuk anak PAUD dan TK. "Aku ada satu lagu yang belum lama aku tulis dan belum pernah aku ikutkan lomba. Mau coba dua kategori?" tanyaku pada mas Bayu. Saya pun langsung menulis lirik dan mengirimkannya ke panitia. 

Siapa sangka lagu kedua itu justru menjadi salah satu pemenang.   


Hari Ibu

Satu lagi proyek yang saya kerjakan bersama teman-teman adalah musik peringatan Hari Ibu. Saya menggarap aransemen musik Kasih Ibu karya SM Mochtar sementara rekan-rekan Kita Anak Negeri mengerjakan ide visual. Hasilnya seperti bisa dilihat di video berikut.




Selama mengerjakan proyek ini, saya belajar untuk bekerja sama dengan orang lain. Saya berusaha terus mengingatkan diri bahwa ide saya belum tentu yang terbaik dan ide orang lain belum tentu buruk. Saya perlu melakukan itu terus menerus karena adanya kecenderungan untuk melihat diri sebagai superior dibanding orang lain. 

Lega, ringan, dan bangga rasanya saat bisa mengalahkan diri sendiri dan melakukan kerja barengan sama tinggi sama rendah dengan orang lain. Saya menyadari, kerja sendiri itu mengasyikkan karena bisa berkreasi sesuka hati. Namun, seringkali kerja bersama orang lain menghasilkan langkah dan manfaat yang lebih jauh. Asyik sekali!  

Semoga di tahun 2021 saya bisa terus bekerja sama dengan orang lain dan menelurkan karya-karya yang lebih seru. Tidak sabar rasanya...   

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!