Kopi Hitam dan Tahu Goreng Volare Orchestra

"Aku pulaaaaang!"  

"Eeeh, kamu udah sampe," seru Ibu sambil langsung memelukku.   

Rak sepatu plastik warna abu-abu di pojokan masih sama seperti dulu. Kursi rotan yang berhadap-hadapan juga. Ragam tumbuhan hijau, ada banyak dan aku tidak hafal nama-namanya, juga masih sama. Aku melangkah masuk ruang tamu. Mainan keponakanku yang masih kecil tersusun rapi di dekat televisi yang dibiarkan menyala.  

"Sudah sampai toh?" kata Bapak yang sedang asyik membaca koran di kursi kerjanya. Bapak berdiri dan menepuk punggungku. Bapak memang lebih suka bersikap dingin. Di situasi apapun. Namun, aku tahu dia senang melihatku pulang. 

Kopi hitam dan tahu goreng, lengkap dengan sambal kecap, menemaniku bercerita tentang kehidupan di luar kota. Kuceritakan semua kegiatan rutin membosankan sebagai karyawan swasta. Tentang lalu lintas yang tidak bisa ditebak. Tentang lembur yang melelahkan. Tentang teman-temanku. Semuanya. Bapak Ibu duduk mendengarkan.

Satu cerita mengalir ke cerita lainnya. Ibu bangkit berdiri mengambil album foto. Cokelat tua warnanya. Sedikit berdebu. Album foto itu tebal sekali. Ibu membuka halaman demi halaman. "Ini kamu waktu bayi dulu," katanya. Aku mengintip. "Nakal, tapi lucu," sambung Bapak. 


PULANG

Lewat konser bertajuk Cinematic Kaleidoscope, Volare Chamber Orchestra dan Volare Junior Orchestra mengajak penonton sejenak pulang ke kenangan masa lalu. Kita diajak untuk mengobrol sambil menyeruput teh panas sambil mengunyah roti cokelat keju, sembari melihat foto demi foto kenangan lama. Kenangan yang bisa jadi sudah kita lupakan.

Konser yang diadakan di House of Joy, Roxy Square pada Sabtu, 25 Juli 2026 itu secara sengaja menampilkan musik dari 14 film terkenal. Sebut saja The Greatest Showman, La La Land, Wicked, Schindler's List, The Lord of the Rings, Charlie and The Chocolate Factory, Lion King, Pirates of the Caribbean, The Avengers, Madagascar, Ratatouille, Kiki's Delivery Service, How to Make Millions Before Grandma Dies, dan tampil sebagai encore, musik dari film Harry Potter. Konser diadakan dua kali, yakni pada pukul 16.00 dan 19.00.

Kita bisa yakin sebagian besar dari film-film itu akrab di benak para penonton yang mayoritas adalah generasi milenial atau bahkan gen Z. Setiap lagu yang ditampilkan membangkitkan kenangan masa kecil saat menyaksikan film bersama keluarga. Penonton juga dimanjakan dengan tampilan potongan film lewat layar besar yang ada di belakang pemain orkestra.   

Volare paham betul kebutuhan manusia modern, yang kencang ritme hidupnya dan butuh diingatkan untuk sejenak berefleksi. Cinematic Kaleidoscope membuat penonton terbang ke masa lalu dan menikmati lagi perasaan yang pernah muncul di masa lalu. Ibarat membuka album foto lama dan, bukan cuma mengingat kejadian, namun secara mendalam merasakan kembali perasaan yang muncul saat itu.   

Musik Can You Feel the Love Tonight karya Elton John dari film Lion King membuat seorang penonton, yang duduk di barisan tengah, terharu mengenang masa sekolah. Saat orang tuanya membelikan hadiah ulang tahun kaset video Lion King. Ia duduk menonton di ruang tamu bersama adik dan kedua orang tuanya. Film itu ditonton berkali-kali setiap hari libur sekolah.  


JUNIOR

Kumpul keluarga selalu terasa lebih lengkap saat ada kehadiran anak atau keponakan yang masih kecil. Seringkali malu-malu atau bahkan menangis karena kaget melihat banyak orang di ruangan. Namun, saat sudah tenang lalu bercerita atau bernyanyi, menggemaskan sekali. 

Volare Junior Orchestra terdiri dari siswa Volare Music Learning Centre yang oleh pembawa acara diperkenalkan sebagai musisi muda yang 'belum lama memegang instrumen masing-masing'. "Masih buku Suzuki satu," katanya.

Meskipun begitu, dengan aransemen orkestra yang sederhana, para musisi junior ini tampil yakin dan berani. Di bangku penonton tampak lebih banyak orang tua mengangkat kamera untuk merekam. Bukan tidak mungkin ini adalah penampilan perdana anak-anak mereka.       

Tak bisa dipungkiri kualitas permainan dan kedisiplinan berlatih tiap individu Volare Chamber Orchestra dan Volare Junior Orchestra sangat tinggi standarnya. Latihan bersama untuk pertunjukan live ini pun cukup dilakukan dalam waktu singkat. Efisien sekali. "Empat kali latihan gabungan sebelum pentas," kata Fransisca Dewi Argawa, principal dari Volare Music Learning Centre. Tak lupa Dewi juga sampaikan apresiasi untuk panitia yang menurutnya bekerja dengan teliti. "Saya sudah pasrahkan semua sama mereka. Sudah waktunya saya pensiun," selorohnya.   

Volare mempercayakan posisi dirigen ke Akira Desmond Parusa dan Gidion Jabar. Gidion sendiri menulis aransemen untuk sebagian karya di konser ini. Peran solois diberikan ke Philbert Neals dan Sean Jethro. Nama-nama tersebut di atas, dan sebagian besar anggota orkestra, sudah berlatih dan bertumbuh bersama di Volare Chamber Orchestra sejak lama. Mereka adalah individu progresif yang punya mimpinya masing-masing, sibuk mengembangkan diri, dan menjadikan Volare Chamber Orchestra sebagai tempat untuk pulang. "Semua sudah seperti anak-anakku sendiri," kata Dewi yang sibuk meladeni permintaan swafoto bersama para musisi dan orang tuanya.


Langit sudah gelap. Ibu menutup album foto lalu mengembalikannya ke dalam lemari. Kopi hitam dan tahu goreng, yang disajikan lengkap dengan sambal kecap, sudah habis. Saatnya aku kembali pergi. Ada rasa haru karena meninggalkan ini semua. Namun, hatiku terasa penuh. Ternyata aku tidak sendirian. Ada kenangan demi kenangan yang menemani.

"Semua barangnya udah dibawah? Enggak ada yang ketinggalan?" tanya Ibu sambil membawakan jaketku. "Kapan-kapan sempetin pulang lagi ya," tambahnya.

"Hati-hati," kata Bapak. Singkat.




Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!