Merajut Infrastruktur Musikal
Bilbao adalah nama sebuah kota di negeri Spanyol. Saya belum pernah ke sana. Melihat promosi wisatanya, sepertinya Bilbao itu kota yang nyaman. Kalau tinggal di sana, kita bisa berkeliling kota naik sepeda atau bis kota yang nyaman, berkunjung ke museum Guggenheim dan museum-museum lainnya.
Membayangkan kota dan lalu lintasnya, sepertinya berkendara di sana lebih lancar daripada di Jakarta dan udara juga lebih sehat. Jadi mungkin sebagian besar orang akan lebih memilih untuk tinggal di Bilbao ketimbang Jakarta. Namun bukan Ananda Sukarlan namanya kalo orang lain bisa menebak pikiran dan jalan hidupnya. Pianis dan komposer Indonesia yang sudah mapan hidup di Bilbao itu kembali ke Indonesia dan tinggal di Jakarta. Tentu lengkap dengan kemacetan dan polusi udaranya yang "Jakarta banget". Mau apa dia sebenarnya?
Untuk mencari jawabannya, saya datang ke konferensi pers konser Millenial Marzukiana, Selasa 18 Desember 2018 di Ciputra Artpreneur Theatre. Saya pernah menulis soal konser tersebut di tulisan sebelumnya, Larangan Merokok dan Konser Ananda Sukarlan. Saya duduk manis di bangku merah menunggu acara dimulai. Panitia membuka acara dan Ananda Sukarlan bercerita. Saya mulai melamun........................
"Jujur aja saya dulu tidak terlalu kenal dengan budaya Indonesia dan juga pada Ismail Marzuki. Makanya saya ingin balas dendam dan berbuat sesuatu untuk Indonesia," katanya. Ooh, jadi dia ke Indonesia karena dendam. Mungkin itu sejenis dendam yang didasari kemarahan pada diri sendiri karena tidak berbuat sesuatu untuk negaranya. Bagus juga kalau setiap orang punya dendam berkonotasi positif atas sesuatu hal yang dianggapnya sebagai 'dosa masa lalu' seperti ini. Bangsa ini bisa lebih konstruktif karena semua berpikir tentang perbaikan yang kontinyu.
Ananda bercita-cita mengangkat citra musik Indonesia di dunia internasional. Musik Ismail Marzuki, yang menurutnya memiliki melodi paling indah di Indonesia (berarti lebih indah dari musik karya Ananda sendiri), harus bisa dibawa dan dimainkan di luar negeri. "Itu merupakan promosi Indonesia yang sangat efektif di luar negeri. Karena musik Indonesia bisa dimainkan oleh pemusik luar negeri juga," kata Ananda menjelaskan soal musik Ismail Marzuki yang digarap dalam bentuk orkestra dengan solois-solois di dalamnya.
Seberapa efektif langkah promosi Indonesia melalui musik ini? Ananda sendiri mengatakan bahwa itu sangat efektif terlihat dari banyaknya jumlah pemusik luar negeri yang memainkan Rapsodia Nusantara. Saya langsung teringat Rapsodia Nusantara nomor 6 yang pernah dimainkan Henry Shao, seorang pianis cilik berusia 10 tahun dalam kompetisi level internasional di Ohio, Amerika Serikat.
Mendengar niatan jangka panjang Ananda Sukarlan, saya sempat berkata dalam hati, betapa beruntungnya masyarakat Indonesia memiliki seorang seniman yang memperjuangkan nasib bangsa dengan caranya. Saya rasa memperjuangkan nasib bangsa merupakan tugas semua warga negara tentu termasuk para pemimpin. Sudah sewajarnya masyarakat mendambakan pemimpin yang bekerja untuk bangsa. Namun mendadak saya teringat perkataan seorang teman : "Ah, aku enggak peduli siapa yang jadi presiden. Enggak ngefek sama kehidupanku." Hmm, tunggu sebentar, kawan...
Saya rasa ada kesamaan antara perjuangan Ananda Sukarlan dengan Presiden Indonesia, Joko Widodo, yaitu dalam hal dampak dari karya yang mereka bangun. Ada yang terdampak langsung dan tidak. Joko Widodo memiliki berbagai program, sebut salah satu, membangun jalan tol. Jalan tol itu memiliki dampak langsung bagi para pengendara roda empat ke atas. Sayangnya saya berkendara roda dua. Tunggu, 'sayangnya'? Benarkah saya tidak terdampak? Apabila ditelaah lebih teliti, saya memperoleh dampak tidak langsungnya. Perjalanan saya menjadi tetap macet seperti biasanya karena kendaraan roda empat banyak yang masuk ke jalan tol.
Lho, kok 'tetap macet'? Iya, itu adalah pencapaian. Karena apabila jalan tol tidak dibangun, mungkin kendaraan menuju arah rumah saya di Reni Jaya, pinggiran Kota Depok, sudah stuck dan tidak bisa bergerak. Nah, dampak yang seperti ini mungkin bagi sebagian orang dianggap 'tidak terasa' atau 'tidak berpengaruh' hanya karena mereka belum merasakan dampak yang lebih mengerikan.
Terkadang hal seperti itu mirip seperti keberadaan oksigen atau cahaya matahari. Saat oksigen dan cahaya matahari ada, manusia biasanya menganggap hal itu sebagai hal yang biasa saja. Taken for granted. Namun saat hilang, baru manusia mengeluh atau marah-marah.
Demikian juga dengan karya Ananda Sukarlan. Bagi para seniman piano, musik Ananda Sukarlan memberikan dampak langsung, yaitu menambah perbendaharaan musik untuk didengar dan dimainkan. Namun bagi para pekerja kantoran yang tidak bermain piano, apa manfaatnya? Ups, jangan salah. Bisa saja investor asing yang menanamkan modal di perusahaan tempat Anda bekerja pernah mendengar musik karya Ananda Sukarlan dan membuat penilaian positif tentang Indonesia. Who knows? Jangan pernah meremehkan dampak dari sebuah karya seni, kawan! (quote keren ini karya saya sendiri lho - Anugerah, 2018, gapapa deh muji diri sendiri)
Masih ada contoh 'karya' Ananda lainnya. Dia menyeret beberapa pemusik milenial di konser Millenial Marzukiana, yaitu penyanyi sopran Mariska Setiawan, pemain harpa Jessica Sudarta, pianis Anthony Hartono, penyanyi tenor Widhawan Aryo Pradhita, dan pemain biola Finna Kurniawati. Para pemusik milenial tersebut, (percaya deh!) memiliki kemampuan sangat tinggi yang sudah diakui dunia internasional.
bersambung ke Merajut Infrastruktur Musikal (Lanjutan) - akan tayang pada Jumat, 21 Desember 2018 pukul 09.00
Membayangkan kota dan lalu lintasnya, sepertinya berkendara di sana lebih lancar daripada di Jakarta dan udara juga lebih sehat. Jadi mungkin sebagian besar orang akan lebih memilih untuk tinggal di Bilbao ketimbang Jakarta. Namun bukan Ananda Sukarlan namanya kalo orang lain bisa menebak pikiran dan jalan hidupnya. Pianis dan komposer Indonesia yang sudah mapan hidup di Bilbao itu kembali ke Indonesia dan tinggal di Jakarta. Tentu lengkap dengan kemacetan dan polusi udaranya yang "Jakarta banget". Mau apa dia sebenarnya?
Untuk mencari jawabannya, saya datang ke konferensi pers konser Millenial Marzukiana, Selasa 18 Desember 2018 di Ciputra Artpreneur Theatre. Saya pernah menulis soal konser tersebut di tulisan sebelumnya, Larangan Merokok dan Konser Ananda Sukarlan. Saya duduk manis di bangku merah menunggu acara dimulai. Panitia membuka acara dan Ananda Sukarlan bercerita. Saya mulai melamun........................
"Jujur aja saya dulu tidak terlalu kenal dengan budaya Indonesia dan juga pada Ismail Marzuki. Makanya saya ingin balas dendam dan berbuat sesuatu untuk Indonesia," katanya. Ooh, jadi dia ke Indonesia karena dendam. Mungkin itu sejenis dendam yang didasari kemarahan pada diri sendiri karena tidak berbuat sesuatu untuk negaranya. Bagus juga kalau setiap orang punya dendam berkonotasi positif atas sesuatu hal yang dianggapnya sebagai 'dosa masa lalu' seperti ini. Bangsa ini bisa lebih konstruktif karena semua berpikir tentang perbaikan yang kontinyu.
Ananda bercita-cita mengangkat citra musik Indonesia di dunia internasional. Musik Ismail Marzuki, yang menurutnya memiliki melodi paling indah di Indonesia (berarti lebih indah dari musik karya Ananda sendiri), harus bisa dibawa dan dimainkan di luar negeri. "Itu merupakan promosi Indonesia yang sangat efektif di luar negeri. Karena musik Indonesia bisa dimainkan oleh pemusik luar negeri juga," kata Ananda menjelaskan soal musik Ismail Marzuki yang digarap dalam bentuk orkestra dengan solois-solois di dalamnya.
Seberapa efektif langkah promosi Indonesia melalui musik ini? Ananda sendiri mengatakan bahwa itu sangat efektif terlihat dari banyaknya jumlah pemusik luar negeri yang memainkan Rapsodia Nusantara. Saya langsung teringat Rapsodia Nusantara nomor 6 yang pernah dimainkan Henry Shao, seorang pianis cilik berusia 10 tahun dalam kompetisi level internasional di Ohio, Amerika Serikat.
Mendengar niatan jangka panjang Ananda Sukarlan, saya sempat berkata dalam hati, betapa beruntungnya masyarakat Indonesia memiliki seorang seniman yang memperjuangkan nasib bangsa dengan caranya. Saya rasa memperjuangkan nasib bangsa merupakan tugas semua warga negara tentu termasuk para pemimpin. Sudah sewajarnya masyarakat mendambakan pemimpin yang bekerja untuk bangsa. Namun mendadak saya teringat perkataan seorang teman : "Ah, aku enggak peduli siapa yang jadi presiden. Enggak ngefek sama kehidupanku." Hmm, tunggu sebentar, kawan...
Saya rasa ada kesamaan antara perjuangan Ananda Sukarlan dengan Presiden Indonesia, Joko Widodo, yaitu dalam hal dampak dari karya yang mereka bangun. Ada yang terdampak langsung dan tidak. Joko Widodo memiliki berbagai program, sebut salah satu, membangun jalan tol. Jalan tol itu memiliki dampak langsung bagi para pengendara roda empat ke atas. Sayangnya saya berkendara roda dua. Tunggu, 'sayangnya'? Benarkah saya tidak terdampak? Apabila ditelaah lebih teliti, saya memperoleh dampak tidak langsungnya. Perjalanan saya menjadi tetap macet seperti biasanya karena kendaraan roda empat banyak yang masuk ke jalan tol.
![]() |
| foto : pribadi |
Lho, kok 'tetap macet'? Iya, itu adalah pencapaian. Karena apabila jalan tol tidak dibangun, mungkin kendaraan menuju arah rumah saya di Reni Jaya, pinggiran Kota Depok, sudah stuck dan tidak bisa bergerak. Nah, dampak yang seperti ini mungkin bagi sebagian orang dianggap 'tidak terasa' atau 'tidak berpengaruh' hanya karena mereka belum merasakan dampak yang lebih mengerikan.
Terkadang hal seperti itu mirip seperti keberadaan oksigen atau cahaya matahari. Saat oksigen dan cahaya matahari ada, manusia biasanya menganggap hal itu sebagai hal yang biasa saja. Taken for granted. Namun saat hilang, baru manusia mengeluh atau marah-marah.
Demikian juga dengan karya Ananda Sukarlan. Bagi para seniman piano, musik Ananda Sukarlan memberikan dampak langsung, yaitu menambah perbendaharaan musik untuk didengar dan dimainkan. Namun bagi para pekerja kantoran yang tidak bermain piano, apa manfaatnya? Ups, jangan salah. Bisa saja investor asing yang menanamkan modal di perusahaan tempat Anda bekerja pernah mendengar musik karya Ananda Sukarlan dan membuat penilaian positif tentang Indonesia. Who knows? Jangan pernah meremehkan dampak dari sebuah karya seni, kawan! (quote keren ini karya saya sendiri lho - Anugerah, 2018, gapapa deh muji diri sendiri)
Masih ada contoh 'karya' Ananda lainnya. Dia menyeret beberapa pemusik milenial di konser Millenial Marzukiana, yaitu penyanyi sopran Mariska Setiawan, pemain harpa Jessica Sudarta, pianis Anthony Hartono, penyanyi tenor Widhawan Aryo Pradhita, dan pemain biola Finna Kurniawati. Para pemusik milenial tersebut, (percaya deh!) memiliki kemampuan sangat tinggi yang sudah diakui dunia internasional.
bersambung ke Merajut Infrastruktur Musikal (Lanjutan) - akan tayang pada Jumat, 21 Desember 2018 pukul 09.00

Comments
Post a Comment