Merajut Infrastruktur Musikal (Lanjutan)

sambungan dari Merajut Infrastruktur Musikal

"Masih ada contoh 'karya' Ananda lainnya. Dia menyeret beberapa pemusik milenial di konser Millenial Marzukiana, yaitu penyanyi sopran Mariska Setiawan, pemain harpa Jessica Sudarta, pianis Anthony Hartono, penyanyi tenor Widhawan Aryo Pradhita, dan pemain biola Finna Kurniawati. Para pemusik milenial tersebut, (percaya deh!) memiliki kemampuan sangat tinggi yang sudah diakui dunia internasional,"

Mereka bisa mencari nafkah di luar negeri dengan mudah. Mereka juga tidak membutuhkan pengakuan dari masyarakat Indonesia. Justru masyarakat Indonesia yang membutuhkan jasa mereka. Untuk apa? Ya jelas untuk mempromosikan Indonesia ke luar negeri. "Saya ingin mereka bekerja untuk Indonesia," ujar Ananda. Memang, sekali lagi terbukti, bukan Ananda Sukarlan namanya kalau orang dengan mudah bisa membaca pikiran jangka panjangnya.

sumber foto : panitia

Jadi, dampak positif jangka panjang yang diharapkan bisa muncul adalah paling tidak ada satu.. dua.. tiga.. empat.. lima! Ada lima pemusik milenial yang diharapkan bisa meneruskan langkah Ananda merawat dan mengembangkan produk budaya Indonesia dengan caranya masing-masing. Masyarakat Indonesia tentu mengharapkan itu, Anthony, Mariska, Jessica, Aryo, dan Finna.

Sekali lagi, dampak dari gerakan Ananda ini sama seperti karya Jokowi, ada masyarakat yang terdampak langsung dan tidak. Meskipun tidak berdampak langsung, saya harap kita semua bisa berefleksi atas setiap karya anak bangsa. Ananda bukan membagi bantuan langsung tunai ke masyarakat, tapi Ananda mempromosikan Indonesia ke luar negeri. Siapa tahu bakal ada investor datang berkat citra positif yang muncul dari musik Ananda?

Bagaimana cara supaya bisa berpikir reflektif sampai ke sana? Caranya ada dua, yaitu dengan membiasakan diri berpikir positif dan menerima keberagaman. Berpikir positif hanya bisa dilakukan apabila kita terbiasa untuk melihat dari sudut pandang orang lain, mencoba merasakan dan berempati. Saat seseorang hanya mampu melihat dan memaknai berbagai hal dari satu sudut pandang, mudah sekali baginya untuk terjun bebas ke dalam penilaian negatif karena semua hal di luar dirinya adalah salah.

sumber : https://twitter.com/katyfrank1992/status/435501378098565120

Cara berpikir demikian ini mungkin akan menilai apa yang Ananda lakukan adalah sia-sia karena hanya memberikan dampak langsung terhadap sebagian orang. Bukan tidak mungkin bahkan, bagi sebagian cara pikir picik yang merendahkan seni, apapun yang Ananda dan seniman lain lakukan adalah salah hanya karena dia seorang seniman. Jadi Ananda berkarya di Indonesia atau Bilbao sama saja. Semuanya salah. Cara pikir seperti ini sebaiknya kita hindari karena membuat akal sehat mandeg. Kalau akal sehat tidak jalan maka hanya insting atau naluri yang bekerja. Sisi kemanusiaan jadi hilang dan masuk dalam kategori binatang (maaf ya, nyet.. bukan bermaksud merendahkan kamu dan teman-temanmu, nyet..)

Hal seperti ini bisa menjadi indikator untuk menentukan kualitas pikir seseorang. Bila seseorang banyak melontarkan pikiran atau pandangan positif, konstruktif, dan menerima keberagaman, mungkin karena ia mampu put her/himself on someone else's shoes. Orang seperti ini biasanya tinggi dalam empati dan punya kepedulian sosial yang baik. Bekerja untuk memberdayakan bukannya memperdayakan orang lain. Namun bila ia cenderung memaksakan pandangan atau pikirannya sendiri, berarti sepanjang hidup dia mengenakan sepatunya sendiri terus (kasian, coba pinjemin sepatu tuh, hehehe...)

sumber foto : panitia

Demikian juga sebaiknya cara kita memandang Ananda yang merupakan seorang pemusik. Dia memiliki caranya sendiri untuk membangun bangsa. Kita bisa mencontoh Ananda dan ikut membangun bangsa dengan cara sendiri. Tidak harus muluk-muluk ikut mempromosikan Indonesia ke luar negeri. Toh jumlah followers atau friends di medsos juga sedikit, itupun cuma tetangga di kompleks rumah.

Kita bisa mempromosikan hal positif dan harapan pada keluarga di rumah. Kalau itu dirasa masih sulit, cukup dengan membangun harapan bagi diri sendiri. Mencoba melihat sisi baik dunia dan menghidupinya.

Mungkin jadi menarik untuk ditunggu karya kolaborasi antara Jokowi dan Ananda Sukarlan. Sejauh ini, saat Jokowi sudah membangun infrastruktur di mana-mana, Ananda ternyata juga sedang merajut 'infrastruktur' versi seniman dunia. Oops, dan ternyata Ananda juga mendonasikan pendapatan pribadinya atas konser Millenial Marzukiana untuk kesuksesan kampanye Jokowi - Ma'ruf Amin.

Konferensi pers berakhir. Lamunan saya terhenti. Saatnya membuat kesimpulan.

Nah teman-teman, apa sebutan kalian untuk seseorang yang sudah nyaman tinggal di Bilbao tapi memilih berkarya di Jakarta? Bukan visioner, atau unik, apalagi aneh. Itu adalah Ananda Sukarlan!

foto : pribadi

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Ahok!

Perjalanan Ananda dan Kehadiran Sang Idola

Dasar Kamu Enggak Normal!