Kanonik di Sore Hujan nan Dingin
Gereja Katholik mengadakan beberapa program luar biasa dalam membantu calon suami istri mempersiapkan diri. Saya dan pacar saya, Kiky, sungguh beruntung bisa mengikuti MRT alias Membangun Rumah Tangga (bukan Moda Raya Terpadu ya..) dan penyelidikan kanonik.
Saya mengikuti MRT di Gereja Katholik Santo Stefanus, Cilandak. Dua hari berurutan dengan materi super padat. Kesan yang indah membekas di catatan perjalanan saya dan Kiky. Saya rangkum dalam tulisan Membangun Rumah Tangga : Emas atau Bukan Emas?

Penyelidikan kanonik kami ikuti di pastoran Gereja Katholik Santo Barnabas, Pamulang. Terima kasih atas kerja keras dari sekretariat gereja, Martinus Denny, kami bisa berjumpa Romo Markus Apriyono SCJ yang menjadi pembimbing kami di Sabtu sore yang hujan deras itu. Kami mengikuti penyelidikan kanonik dengan baju basah kedinginan akibat kehujanan namun semangat menyala karena harapan akan adanya bimbingan untuk jalan ke depan.
Rasa cemaskah yang membuat kami merasa sangat membutuhkan bimbingan? Bisa jadi. Saya rasa normal sekali rasa cemas itu ada. Jangankan membangun rumah tangga, masuk kuliah atau kerja pertama kali saja pasti cemas. Maka, sekali lagi saya sungguh bersyukur Gereja Katholik menyusun program bimbingan yang mendetil. (Saya dan Kiky sepakat untuk tetap memantau informasi di gereja tentang adanya program pendampingan suami istri ke depan setelah kami menikah pada Sabtu, 6 Juli ini).
Banyaknya masukan berharga dari Romo Apri SCJ membuat saya gemas ingin membawa pulpen dan kertas. Itu kebiasaan saya sejak kuliah dulu karena sadar akan keterbatasan kemampuan mengingat detil informasi. Namun karena aneh rasanya kalau curhat sambil mencatat, ya sudah saya serahkan saja pada udara malam dan daun hijau yang ada di ruangan kanonik untuk membantu saya mencatat detil pesan Romo Apri SCJ. (Maka, mohon maaf Romo Apri kalau ada pesan yang belum saya tulis atau kurang dalam di tulisan ini).
Derajat Hubungan Manusia
Romo berkata pada dasarnya semua manusia adalah setara. Tidak boleh merasa lebih tinggi apalagi untuk merendahkan atau lebih rendah untuk merasa rendah diri. Manusia hendaknya saling memberdayakan bukan menaklukkan.
Saat datang ke gereja dan melihat ada banyak umat, saya sering merasa takut. Itu sudah terjadi sejak saya masih kecil. Saya merasa semua umat memperhatikan dan menghina saya. Sungguh irasional namun terasa sangat rasional bagi saya.
Romo mengajak saya untuk berpikir dari sudut pandang berbeda,"Bersyukurlah bahwa Gereja Katholik masih menjadi rumah bagi banyak sekali umat dari berbagai latar belakang." Romo berpesan bahwa saya harus menghindari pikiran rendah diri atau kehendak untuk menaklukkan. Semua manusia adalah setara.

Keyakinan Diri dan Penentuan Arah ke Depan
Saya cemas bahwa setelah menikah saya harus lebih mandiri. Padahal kemandirian itu adalah konsekuensi pertama yang pasti akan terjadi. Romo mengajak saya untuk berani menentukan arah ke depan, membuat keputusan, dan maju. "Kamu tidak sendirian. Kamu punya pasanganmu untuk diajak diskusi," kata Romo.
Kecemasan Irasional Berlebihan
Ketidakpercayaan diri saat masih kecil bisa mengakibatkan kecemasan berlebihan di usia dewasa, kata Romo. Saya meyakini itu sangat benar. Karena saya rasa itulah yang terjadi di diri saya.
Setelah mengetahui akar masalah dari kecemasan itu, saya seharusnya bisa lebih mengelola diri. Gabungan antara kesadaran akar masalah ini ditambah pemahaman bahwa semua manusia adalah setara, seharusnya bisa menjadi obat paling mujarab untuk kecemasan saya.
Pentingnya Doa
Ada dua macam doa. Doa sehari-hari seperti doa tidur dan makan, dan doa besar seperti novena. Romo mengajak saya untuk lebih terlibat di dalam komunikasi seperti dua macam doa di atas.
Bekerja mencari nafkah, memperbaiki penampilan dan kemampuan, membersihkan rumah, semua itu adalah aktivitas untuk mengisi diri. Itu semua baik dan memang harus dilakukan. Namun ada aktivitas yang lebih mendasar dari itu, yaitu mengisi jiwa lewat aktivitas komunikasi dengan Tuhan.
Berdoa, membaca kitab suci, mengikuti misa, aktif di kegiatan sosial adalah aktivitas-aktivitas penting yang justru sering dilupakan karena terlalu fokus dengan aktivitas yang justru bukan mendasar.
Selepas mengikuti penyelidikan kanonik, saya berdiskusi panjang lebar dengan Kiky. Kesimpulan kami serupa. Kami bahagia dan bersyukur. Harapan kami juga serupa. Semoga kami bisa meneruskan kebahagiaan ini kepada orang lain di luar sana. Amin.
Saya mengikuti MRT di Gereja Katholik Santo Stefanus, Cilandak. Dua hari berurutan dengan materi super padat. Kesan yang indah membekas di catatan perjalanan saya dan Kiky. Saya rangkum dalam tulisan Membangun Rumah Tangga : Emas atau Bukan Emas?

Penyelidikan kanonik kami ikuti di pastoran Gereja Katholik Santo Barnabas, Pamulang. Terima kasih atas kerja keras dari sekretariat gereja, Martinus Denny, kami bisa berjumpa Romo Markus Apriyono SCJ yang menjadi pembimbing kami di Sabtu sore yang hujan deras itu. Kami mengikuti penyelidikan kanonik dengan baju basah kedinginan akibat kehujanan namun semangat menyala karena harapan akan adanya bimbingan untuk jalan ke depan.
Rasa cemaskah yang membuat kami merasa sangat membutuhkan bimbingan? Bisa jadi. Saya rasa normal sekali rasa cemas itu ada. Jangankan membangun rumah tangga, masuk kuliah atau kerja pertama kali saja pasti cemas. Maka, sekali lagi saya sungguh bersyukur Gereja Katholik menyusun program bimbingan yang mendetil. (Saya dan Kiky sepakat untuk tetap memantau informasi di gereja tentang adanya program pendampingan suami istri ke depan setelah kami menikah pada Sabtu, 6 Juli ini).
Banyaknya masukan berharga dari Romo Apri SCJ membuat saya gemas ingin membawa pulpen dan kertas. Itu kebiasaan saya sejak kuliah dulu karena sadar akan keterbatasan kemampuan mengingat detil informasi. Namun karena aneh rasanya kalau curhat sambil mencatat, ya sudah saya serahkan saja pada udara malam dan daun hijau yang ada di ruangan kanonik untuk membantu saya mencatat detil pesan Romo Apri SCJ. (Maka, mohon maaf Romo Apri kalau ada pesan yang belum saya tulis atau kurang dalam di tulisan ini).
Derajat Hubungan Manusia
Romo berkata pada dasarnya semua manusia adalah setara. Tidak boleh merasa lebih tinggi apalagi untuk merendahkan atau lebih rendah untuk merasa rendah diri. Manusia hendaknya saling memberdayakan bukan menaklukkan.
Saat datang ke gereja dan melihat ada banyak umat, saya sering merasa takut. Itu sudah terjadi sejak saya masih kecil. Saya merasa semua umat memperhatikan dan menghina saya. Sungguh irasional namun terasa sangat rasional bagi saya.
Romo mengajak saya untuk berpikir dari sudut pandang berbeda,"Bersyukurlah bahwa Gereja Katholik masih menjadi rumah bagi banyak sekali umat dari berbagai latar belakang." Romo berpesan bahwa saya harus menghindari pikiran rendah diri atau kehendak untuk menaklukkan. Semua manusia adalah setara.

Keyakinan Diri dan Penentuan Arah ke Depan
Saya cemas bahwa setelah menikah saya harus lebih mandiri. Padahal kemandirian itu adalah konsekuensi pertama yang pasti akan terjadi. Romo mengajak saya untuk berani menentukan arah ke depan, membuat keputusan, dan maju. "Kamu tidak sendirian. Kamu punya pasanganmu untuk diajak diskusi," kata Romo.
Kecemasan Irasional Berlebihan
Ketidakpercayaan diri saat masih kecil bisa mengakibatkan kecemasan berlebihan di usia dewasa, kata Romo. Saya meyakini itu sangat benar. Karena saya rasa itulah yang terjadi di diri saya.
Setelah mengetahui akar masalah dari kecemasan itu, saya seharusnya bisa lebih mengelola diri. Gabungan antara kesadaran akar masalah ini ditambah pemahaman bahwa semua manusia adalah setara, seharusnya bisa menjadi obat paling mujarab untuk kecemasan saya.
Pentingnya Doa
Ada dua macam doa. Doa sehari-hari seperti doa tidur dan makan, dan doa besar seperti novena. Romo mengajak saya untuk lebih terlibat di dalam komunikasi seperti dua macam doa di atas.
Bekerja mencari nafkah, memperbaiki penampilan dan kemampuan, membersihkan rumah, semua itu adalah aktivitas untuk mengisi diri. Itu semua baik dan memang harus dilakukan. Namun ada aktivitas yang lebih mendasar dari itu, yaitu mengisi jiwa lewat aktivitas komunikasi dengan Tuhan.
Berdoa, membaca kitab suci, mengikuti misa, aktif di kegiatan sosial adalah aktivitas-aktivitas penting yang justru sering dilupakan karena terlalu fokus dengan aktivitas yang justru bukan mendasar.
Selepas mengikuti penyelidikan kanonik, saya berdiskusi panjang lebar dengan Kiky. Kesimpulan kami serupa. Kami bahagia dan bersyukur. Harapan kami juga serupa. Semoga kami bisa meneruskan kebahagiaan ini kepada orang lain di luar sana. Amin.

Comments
Post a Comment